Lipstik Baru

“Nyari lipstik kayak apa mbak?” tanya mbak-mbak SPG lipstik kemarin dulu, waktu saya nyari lipstik baru.

Dari sekian banyak perlengkapan dandan atau melukis wajah, lipstik barangkali favorit saya sekaligus paling krusial. Coba bayangkan gimana jadinya kalau kamu udah pake bedak, trus udah pake pemerah pipi, pake eyeliner, pake eyeshadow, bulu mata tempelan, dlst, tapi kamu lupa pakai lipstik…

Kalo bibir kamu udah merah meriah dari sononya mah gak masalah ya, tapi kalo bibir kamu pucat atau gelap? Duh… sebelas dua belas sama bibir Ahmanet yang bangkit dari kubur dan berbibir gelap pucat kayak lintah… Hiiii….

Selain itu, dengan memakai lipstik enggak bakal ada yang nanyain: kamu udah mandi belum? Eh, tapi mungkin ini enggak berlaku kalau memakai lipstik warna nude, ya? 😁

Dan jujur, meskipun udah sekitar empat belas tahun pake lipstik yang sama dari merek yang sama, waktu ditanyai lipstik jenis apa yang saya cari, oleh mbak SPG-nya, tetap saja saya clueless. Enggak ngerti mau jawab apa.

huh?

 

Mungkin rasanya hampir sama seperti cowok-cowok yang ditanyai pacarnya, “Sayang, kata orang aku mirip Gal Gadot lho. Bener atau fitnah?” Mau jawab “bener” ntar disangka ngejek, jawab “fitnah” lebih parah lagi, bungkam lima bulan. 😆😆

Matte? Creamy? Glossy?” tanya mbaknya lagi.

“Biasanya pake warna apa?” cecarnya lagi.

Omaigat, nyari lipstik aja kayak lagi nyari jodoh ya cyin? Apalagi saya pun lupa membawa lipstik lama supaya memudahkan mencari jenis dan warnanya… 😆

Akhirnya saya beritahulah kalau saya nyari lipstik yang enggak mengkilap dan warnanya merah. Tapi kan warna merah ini banyak banget juga jenisnya. Ada red wine, red hot, red of roses, true red, volcanic red, red coral, bahkan yang sama kayak nama band pun ada: simply red… Astaga…. 😆😆

Maka saya cobalah satu per satu dengan cara menyapukannya sedikit pada permukaan kulit dekat pergelangan tangan.

Oiya, sekitar dua bulan lalu saya pernah mencoba lipstik merek lokal gara-gara cerita di balik kesuksesan merek mereka, menarik. Bagaimana si penemu atau si pemilik memulai bisnisnya dari nol hingga menjadi raksasa kosmetik seperti sekarang. Saya juga suka karena mereka mengusung ide-ide keren seperti misalnya memberdayakan komunitas perempuan, menyelamatkan lingkungan, dlsb. Jadi mereka berdagang bukan cuma untuk nyari duit, melainkan berbuat lebih dari sekadar berdagang, yakni menolong sesama. Ditambah, perempuan yang membintangi iklannya cakep bingits, saya pun terbius. 😁 #korbaniklan

Sayangnya, bibir saya tak cocok dengan lipstik mereka. Sekitar seminggu setelah rutin memakainya, saya akhirnya sadar kalo bibir saya kering dan pecah-pecah. Padahal saya selalu menggunakan pelembab bibir sebelum memoles lipstik. Saya mengingat-ingat apakah ada kebiasaan lain yang berubah yang menyebabkan bibir saya pecah-pecah. Nihil. Jam tidur masih sama, minum air putih tak pernah lupa. Satu-satunya yang berubah hanya si lipstik lokal itu.

Yakin si lipstik tersangka utama, saya pun berhenti memakainya. Setelah kembali ke lipstik yang telah saya gunakan selama empat belas tahun, tak ada lagi bibir kering dan pecah-pecah. Mereknya enggak usah saya sebutin ya? Repot nanti, bisa-bisa saya diminta untuk endorse dan mengambil ‘lahan’ beauty blogger. 😝 Jadi enggak usahlah. Saya cukup jadi blogger hore saja. 😁😁😁

Oke, kembali ke soal lipstik baru…

Setelah pilah-pilih, pilihan saya pun mantap pada lipstik matte, yang kata mbaknya tidak mengkilap di bibir, berwarna merah vulkanik, dan yang bentuk wadahnya sekilas seperti Burj-Al Arab versi mini. Dan sewaktu saya ngaca sehabis memolesnya di bibir, rasa-rasanya saya jadi jadi mirip Gal Gadot… Nih penampakannya kalo enggak percaya…

mirip, kan?

 

 

 

 

 

– Messa, yang cuma punya satu lipstik. Satu di toilet, satu di tas. Kalo kapan-kapan kamu berkunjung ke toilet saya dan menemukan beberapa lipstik di sana, percayalah, yang aktif cuma satu sisanya udah non-aktif. Cuma wadahnya memang sengaja saya simpan. Karena kalau saya buang, kasian lipstik saya yang cuma sebiji itu jadinya kesepian. 😁😁😁

 

 

 

 

 

foto-foto: pastinya bukan milik saya. semua hasil screen capture, tapi lupa nyatat linknya
Advertisements

15 thoughts on “Lipstik Baru

  1. alrisblog says:

    Saya kagum juga dengan daya tahan kulit bibir perempuan. Bayangin berbelas tahun, bahkan ada udah puluhan tahun, memakai lipstik tapi tak terjadi hal yang membahayakan dan serius terhadap bibir.

    Saya tak perlu repot hal lipstik, karena memang saya tak pakai, haha…

    Like

  2. Susleni says:

    Aduuh mbak aq penasaran lipstick yg udah dipakai selama 14 thn itu lipstick apa?! Biasanya kan susah cari type yg sama apa lagi kalo udah beberapa tahun beredar.

    Aku pribadi penyuka lipstick. Jadi punya beberapa warna yg lebih sering kebuang dari pada kepake. Hehe.

    Like

    • Messa says:

      kalo udah ada merek yg cocok di bibir sebaiknya pake itu aja terus mbak 😀 wah kalo enggak kepake jangan dibuang mbak, coba dipake buat menggambar 😀 lumayan, pengganti krayon hahahh 😀 *tapi kalo mbaknya suka menggambar sih*

      Like

      • Susleni says:

        Hahaha..
        Iyaaa, habisnya banyak banget loh mbak Messa, padahal yg mau digambar bibir kecil ini ajanya, keburu expired lah. Udah jarang dibuang siih, soalnya adek-adekku udah makin gadis dan makin menggatal sok-sok pake lipstick padahal kuliah aja nya. Habis lipstick aku dijarah kalo kami ketemu.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s