Rendah Hati

Bahasan rubrik psikologi harian Kompas edisi Sabtu 27 Mei 2017 kemarin, tentang rendah hati, bagus banget menurut saya. Dan sekarang kalau dengar kata rendah hati, entah kenapa saya otomatis teringat sama Pak Jokowi. Mungkin karena udah terlalu lama enggak punya negarawan yang layak diteladani, yang enggak cuma membangun segelintir kelompoknya saja, melainkan benar-benar bekerja membangun Indonesia.

Layaknya orang jatuh cinta, pernah ada beberapa nama negarawan yang nyangkut di hati, kemudian pupus. Waktu jugalah yang akhirnya membuktikan bahwa ternyata mata hati mereka menjadi buta karena harta dan kekuasaan.

Eh, pas lagi teringat sama Jokowi, kebetulan pula ada fotonya terpampang lumayan besar di rubrik internasional (pada harian Kompas edisi yang sama), yang membahas hubungan Indonesia-Australia, yang diibaratkan Kompas seperti hubungan suami dan istri: kadang akrab, kadang cekcok.

Kompas Sabtu, 27 Mei 2017

 

Melihat foto tersebut di tengah desau air mancur, deru motor dan mobil, pemuda-pemudi sibuk berselfie ria, serta adzan berkumandang, saya jadi terharu dan mikir: memang enggak gampang jadi presiden yang mengepalai dua ratus sekian puluh juta jiwa, di negeri yang….

 

yang ibukotanya baru saja diteror bom sewaktu pawai obor menyambut bulan suci Ramadhan, di mana peserta anak-anak meneriakkan “bunuh si titik-titik….” (…. mau jadi apa anak-anak ini nanti kalau dari sekarang udah didoktrin membunuh?)

yang wakil presidennya mengaitkan kekayaan dengan agama dan etnis tertentu (padahal kalau menurut saya, seseorang menjadi kaya bukan karena agama atau etnis, tapi karena kerja keras dan cerdas. saya yakin bapak wapres tahu, karena saya yakin beliau sendiri juga pekerja keras dan cerdas. kalau enggak, ya enggak mungkinlah beliau jadi wapres).

yang memberi ganti rugi kepada masyarakat yang lahannya diambil untuk kepentingan bersama.

yang rakyatnya ribut bertanya-tanya mengapa tak mengintervensi kasus Ahok (padahal kalau sempat beliau mengintervensi, habislah sudah bangsa ini disergap serigala-serigala lapar yang mengaum menunggu mencabik).

yang salah dua anak bangsanya baru saja bertunangan hingga menyebabkan para jomblo akut mengalami #HariPatahHatiNasional (selamat ya….).

dan yang…… well, kamu sambung sendirilah daftar ini. karena kalau saya ketik satu per satu realita yang dialami anak bangsa sampai dua ratus sekian puluh juta kalimat (sesuai dengan jumlah jiwa di Indonesia), tangan saya bakal kapalan. 😀 😀 Jadi silakan sambung unek-unek kamu dalam hati masing-masing atau di kolom komentar. 😀

 

 

Akhir kata, semoga Pak Jokowi tetap rendah hati seperti yang kerap diperlihatkan selama ini, dan semoga Tuhan menyertai beliau sampai akhir nanti.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Rendah Hati

  1. Menurut saya Pak Jokowi selain rendah hati, beliau juga cerdas. Caranya dalam menangani konflik2 yang terjadi selama ia menjabat selalu tepat. Saya nggak bisa ngebayangin jika bukan Jokowi yang menjabat presiden sekarang. Bisa jadi kondisi Indonesia akan lebih parah dari sekarang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s