Before I Fall

Siang kemarin saya mengatur ulang koleksi buku yang belum kelar dibaca. Dikarenakan keterbatasan tempat, saya menyusunnya secara vertikal di rak buku. Di bagian atas saya letakkan buku-buku seputar isu kemanusiaan. Menyusul di bawahnya buku-buku ‘beraroma manis’ seputar keluarga, cinta dan semacamnya.

Sebelumnya, buku-buku seputar isu kemanusiaan saya letakkan di bagian paling bawah, karena sedang dilanda malas membaca buku-buku jenis ini, akibat muak dengan berbagai kejadian kemanusiaan yang belakangan menimpa Indonesia.

Tapi sekarang, setelah keputusan hakim yang memvonis Ahok dipenjara dua tahun, saya merasa perlu membaca kembali buku-buku tentang isu kemanusiaan, agar semangat memperjuangkan keadilan tidak padam. Karena menurut saya, vonis yang diterima Ahok tidak adil.

T I D A Kย  A D I L.

Itulah pendapat saya pertama kali saat mendengar keputusan hakim tersebut. Mereka-mereka yang bahkan mulut dan kelakuannya lebih kasar dari Ahok, yang berlindung di balik jubah agama, dan yang selama bertahun-tahun kerap merusak tempat ibadah, menghina, serta melecehkan umat manusia yang berseberangan suku, agama, ras dan keyakinan, malah bebas berkeliaran. Ngakunya beragama tapi koq perilakunya keji? Entahlah….

Namun kurang dari dua puluh empat jam kemudian, saya kembali merombak susunan koleksi buku. Kali ini, buku-buku bertema kemanusiaan dan buku-buku ‘beraroma manis’ saya selang-seling letaknya.

Apa pasal?

Malamnya saya pergi nonton Before I Fall, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Lauren Oliver. Dan usai menyaksikan film yang menurut saya sendu ini, saya diingatkan kembali bahwa boleh saja mengejar keadilan, asalkan tak lupa kepada ‘hal-hal manis’.

Setiap orang pada akhirnya akan mati. Dan jika waktu kita di bumi ini benar-benar sudah habis, sama sekali tak ada lagi yang bisa dilakukan entah itu untuk sekadar mengatakan โ€œhaloโ€ kepada orangtuamu, atau sekadar bermain kertas lipat bersama adik kecilmu, atau untuk mengubah hal-hal tak menyenangkan yang telah kita lakukan, yang bisa memberi kenangan menyakitkan kepada orang-orang di sekitar.

Dan Samantha, si tokoh utama, pun akhirnya menyadari bahwa bersikap ramah dan manis kepada keluarganya, sahabatnya, dan menolong orang yang dianggap ‘sampah masyarakat’, adalah lebih penting daripada ambisi-ambisi pribadinya.

Jadi bagaimana kalian ingin dikenang nanti? Sebagai preman berkedok agama, atau sebagai preman insaf?

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “Before I Fall

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s