Perkara Sebilah Tongkat

Sangat mudah menemukan ranting patah dekat tempat tinggal saya. Apalagi di musim penghujan dan angin kencang seperti sekarang, dalam semalam, peri hutan suka menjatuhkan beberapa anak ranting ke permukaan tanah.

Karena saya pikir pasti gampang menemukan kayu, saya pun mengajukan diri menyediakan tongkat kayu dalam kepanitiaan jalan ceria memperingati hari Kartini. Nantinya, sebuah bendera akan diikat pada salah satu ujung tongkat sebagai penanda.

Tapi seringkali alam ini kan sulit ditebak, ya? Sewaktu enggak ditungguin, ranting-ranting tadi jatuhnya banyak. Nah, giliran ditungguin, satu pun tak muncul. Kecele, kan?

Untungnya, saya punya stok satu tongkat kayu dengan panjang sekitar semeter dan tebal sekitar dua sentimeter. Jadi tinggal satu biji lagi harus dicari, karena dibutuhkan dua tongkat untuk acara jalan ceria.

Sempat kepikiran untuk memotong gagang sapu ijuk. Tapi koq enggak tega ya… Ijuknya masih bagus…. XD Trus sempat juga kepikiran mau merangkai stok sumpit saya yang banyaknya seabreg-abreg itu hingga panjangnya sama dengan tongkat pertama tadi, tapi…. koq keknya ribet betul? XD Sambil terus berdoa dan memikirkan solusinya, saya pergi ke percetakan langganan untuk mengambil cetakan spanduk yang juga akan digunakan dalam acara jalan ceria.

Setelah meletakkan si spanduk dengan aman di kendaraan, saya pun bersiap meninggalkan ruko percetakan. Saat menoleh ke sebelah kanan, seorang anak lelaki berpakaian gelap berpostur tegap berambut plontos, lewat sambil bersiul-siul.

Saya tertegun. Tak percaya dengan penglihatan saya.

Anak lelaki itu berjalan sambil membawa benda yang paling saya cari: sebilah kayu yang panjang dan tebalnya cukup untuk mendampingi tongkat kayu saya yang pertama.

Saya kemudian bergeleng sambil senyam-senyum. Untuk beberapa saat, saya membiarkan si anak menjauh dan berpikir kalau-kalau ini hanyalah imajinasi saya.

Namun sebelum ia bergerak semakin jauh, saya berseru memanggilnya. Ingin memastikan, bahwasanya ia bukan ilusi.

“Dek! Dek!”

Ia menoleh ke belakang, dan berjalan ke arah saya.

“Tongkat kayunya mau kamu pakai buat apa?”

Ia terlihat bingung. Tentu saja. Siapa sih yang enggak bingung kalau tiba-tiba dipanggil sama seseorang yang sama sekali tak dikenal di keramaian?

“Enggak buat apa-apa, kak. Buat main aja……” jawabnya, sopan.

Even better. Saya pun semakin berbunga-bunga karena dipanggil ‘kakak’. Biasa dipanggil tante atau ibu soale. XD XD XD XD

“Tongkatnya kakak beli, ya?”

Ia mengangguk, namun masih terlihat bingung.

“Berapa, dek?”

“Berapa aja, kak….”

“Kalo gitu kakak traktir nonton Totoro, mau?”

Karena kalau saya traktir nonton Critical Eleven, si anak masih di bawah umur. Pusing nanti dia lihat adegan cium-ciuman antara Om Ale sama Tante Anya yang banyaknya bujubuneng itu. XD XD XD XD XD

“Totoro? Apa itu kak?”

“Film kartun. Cocok buat kamu. Mau, ya?”

Ia setuju dan kami pun melesat menuju bioskop terdekat.

Tuhan memang sangat suka bercanda dan sangat suka menolong, ya? Perkara sebilah tongkat saja diberi solusi, apalagi perkara lain yang lebih pelik dari tongkat, kan? 😉

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Perkara Sebilah Tongkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s