Menyambut Raja Salman

Raja Salman dari Arab Saudi memang telah kembali ke tanah air beliau setelah berlibur ke Indonesia bulan Maret lalu. Namun ada satu momen yang menarik perhatian saya, yakni sewaktu penyambutan sang raja di bandara Halim Perdanakusuma.

Salah satu media menyebutkan bahwa beliau disambut oleh presiden Jokowi bersama seseorang yang namanya paling sering disebut-sebut di seantero Indonesia selama lima tahun belakangan, dan yang beberapa hari ini dihujani ribuan bunga dari penggemarnya. Saya yakin kalian sudah tahu siapa yang saya maksud. ๐Ÿ˜‰

Dan ketika saya pindah ke media lain, di sana disebutkan bahwa hanya Jokowi saja yang menyambut Raja Salman.

Detik itu saya terbahak. Lucu sekali. XD

Lantas media mana yang sebetulnya memberikan informasi yang benar?

Dalam salah satu buku yang pernah saya baca tentang seluk-beluk pernikahan di India, ada satu bagian yang bercerita tentang seorang pria mengusir ibunya yang sudah janda, dari rumah mereka, karena tak cocok dengan istrinya.

Kepada keluarga dan tetangga, si ibu yang terusir tersedu-sedu mengadu betapa tega perlakuan anak lelakinya yang sudah ia lahirkan, rawat dan besarkan selama ini.

Kepada keluarga dan tetangga, si pria menjelaskan bahwa alasan ia mengusir ibunya karena sang ibu selama ini seringkali menghina istrinya yang sedari awal memang bukan perempuan pilihan sang ibu.

Tiap cerita punya dua sisi. Tanpa pernah mendengar penjelasan dari si pria, ceritanya tidak akan pernah lengkap dan masyarakat cenderung hanya menyalahkan serta menghakimi si pria. Sedangkan si ibu lolos dari kritikan keluarga dan tetangga karena menyembunyikan fakta, bahwasanya ia kerap menghina sang menantu.

Pastilah ada value atau nilai-nilai yang dianut si anak yang dilanggar oleh ibunya, sehingga ia tega mengusir ibu sendiri. Dan pastilah ada value atau nilai-nilai yang dianut si ibu dan dilanggar oleh si anak, sehingga ia tega menghina menantu sendiri.

Berdasarkan value atau nilai-nilai yang dianut tadi, si pria dan ibunya menganggap bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah benar.

Dan berdasarkan value pula, kedua media yang saya sebut di atas tadi menganggap bahwa berita yang mereka tulis adalah benar. Karena value yang mereka anut menentukan sudut pandang mereka.

Kesimpulannya, media memuat berita berdasarkan sudut pandang yang ditentukan oleh nilai-nilai yang mereka anut. Bukan apa adanya. Ini menyebabkan media tidak netral, melainkan berpihak.

Media yang tidak berpihak kepada pribadi yang namanya paling sering disebut-sebut di seantero Indonesia selama lima tahun belakangan, dan yang beberapa hari ini dihujani ribuan bunga dari penggemarnya tadi, tentu tidak akan membeberkan fakta bahwasanya pribadi tadi ikut menyambut Raja Salman di bandara Halim Perdanakusuma. Sebaliknya, media yang berpihak, tentu akan mencantumkan nama pribadi tersebut ikut sewaktu menyambut Raja Salman.

Nah, yang kena imbasnya siapa lagi kalau bukan pembaca? Dan pertanyaan pentingnya belum terjawab oleh pembaca: media mana yang sebetulnya memberi informasi yang benar? Apakah pribadi tersebut benar-benar ikut menyambut Raja Salman atau tidak?

Jika media yang satu menganut nilai-nilai yang bertujuan memecah belah bangsa dan mengadu domba masyarakat, tentu isi beritanya pun hanya berputar-putar di ranah yang bikin hati pembaca panas. Sedangkan jika media menganut nilai-nilai yang bertujuan bikin adem masyarakat, tentu isi beritanya berputar-putar di ranah yang bikin hati pembaca adem.

Dan pembaca ini kan banyak jenisnya, ya? Ada jenis pembaca yang seumur hidup membaca ratusan buku, ribuan, maupun puluhan buku. Namun ada juga jenis pembaca yang seumur hidup hanya pernah membaca satu buku.

Bagi pembaca yang telah membaca ribuan buku, kemungkinan besar dia memiliki banyak pembanding bagi berita-berita yang dibaca di media dan sudut pandangnya pun lebih beragam. Sedangkan bagi pembaca yang seumur hidup cuma pernah membaca satu buku, kemungkinan besar pembandingnya cuma satu dan sudut pandangnya pun cuma satu.

Orang Indonesia sangat gemar bermedsos, namun minat baca kita tak sejalan dengan kegemaran bermedsos. Dari seribu orang hanya satu yang gemar membaca. Jika pengguna medsos di Indonesia sekarang ada 80 juta, maka yang gemar membaca hanya 80 ribu.

Mengingat situasinya seperti ini, sangat wajar jika sekarang begitu banyak berseliweran berita yang faktanya tidak jelas, yang kemungkinan besar disebarluaskan oleh mereka-mereka yang hanya membaca satu buku seumur hidupnya, dan yang menganut nilai-nilai yang bertujuan memecah belah bangsa dan mengadu domba masyarakat.

Ingatlah kawan, tiap berita yang kalian baca di media ditulis berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang mereka anut, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang dianut pembaca. Makanya seringkali tiap habis membaca satu berita, pembaca berkomentar: Ah, mana mungkin! Enggak bener ini!

Bahkan dengan pembuktian video yang menunjukkan keberadaan si pribadi yang ikut menyambut Raja Salman tadi saja, ada begitu banyak masyarakat yang skeptis dan menganggap video tersebut cuma rekayasa.

Jadi kebenaran sesungguhnya siapa yang bisa menentukan? Dan media mana yang bisa dipercaya dan yang benar? Jawabnya, tentu terpulang kepada nilai-nilai yang dianut masing-masing pembaca dan sebersih apa hati pembaca hendak mencari kebenaran. ๐Ÿ™‚

Eh, tapi ada juga yang bilang kebenaran sesungguhnya ditentukan oleh suara terbanyak…. XD

 

 

 

 

 

featured image: bbc.com
Advertisements

4 thoughts on “Menyambut Raja Salman

  1. Tjetje [binibule.com] says:

    Menjadi pengguna media sosial berarti harus berhati-hati membaca berita, karena banyak sekali berita yang dibuat untuk membohongi publik dan untuk menghasilkan iklan (clickbait). Sedih ya, akses internet makin terbuka, informasi yang muncul malah amburadul.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s