Juru Runding

Gerimis menyambut saya dan teman-teman sewaktu tiba di resto yang kami pilih menjadi tempat kumpul-kumpul kami bulan ini. Rencananya, hari ini kami akan menuntaskan masalah menu, waktu, serta tetek bengek lainnya yang belum disepakati pada pertemuan pertama dengan pihak resto. Salah satu dari tetek bengek tersebut adalah masalah kue.

You see, perkumpulan kami memiliki tradisi membawa kue-kue sendiri. Karena belum sah rasanya kumpul-kumpul apabila anggota tidak membawa kue sendiri. Tapi masalahnya, pihak resto memiliki kebijakan yang tidak membolehkan tamu membawa makanan sendiri dari luar, meskipun kami telah memesan keseluruhan makanan dan minuman dari resto tersebut.

Jadi hari ini kami hendak berunding dengan manajer resto, agar sudi kiranya memberi keringanan.

Selagi menunggu teman-teman lain berdatangan, saya pun melancarkan aksi perundingan perdana dengan bapak manajer resto bernama Alfonso. Demi aksi ini, semalam suntuk saya mempersiapkan diri membaca berbagai tips bagaimana membuat orang lain setuju dengan apa yang kita sampaikan.

Pertama-tama, saya memperkenalkan diri sebagai Messa, salah satu keturunan Adam, manusia pertama di muka bumi. Saya yakin dia akan terkesan begitu mengetahui silsilah saya. Langkah kedua, saya pun langsung masuk ke pokok persoalan dan meminta keringanan. Dan respon pak Alfonso adalah…. “Boleh saja, Bu, tapi tetap dikenakan biaya lima ratus ribu rupiah….” Saya gagal.

Teman saya yang lain mencoba peruntungannya. Kali ini ia memperkenalkan diri sebagai sepupu jauh Pangeran William. Sepertinya, teman saya ini juga membaca tips ‘bagaimana membuat orang lain setuju’ dari sumber yang sama seperti saya. Bisa ditebak, sedikit pun pak Alfonso tak terkesan. Dia pun gagal.

Sekitar sepuluh menit kemudian, setelah tim kami lengkap hadir, kami pun langsung menuntaskan pemilihan menu makanan, tempat duduk, hari, tanggal, jam, serta… tradisi membawa kue-kue tadi….

Di kali ketiga ini, Davina, teman saya, angkat bicara. Kalimat-kalimat yang ia gunakan tak jauh berbeda dengan yang kami pakai sebelumnya. Kecuali…. ia memang tak memperkenalkan diri seperti saya dan teman saya lakukan tadi.

Davina menjelaskan bahwa perkumpulan kami sudah sering melakukan acara serupa di resto-resto lain (ia menyebut sederetan resto terkenal), serta memberi informasi bahwa resto-resto terkenal tersebut membolehkan kami membawa kue-kue sendiri.

Tiba-tiba…. confetti berhamburan dari langit-langit resto.

“SELAMAT! Anda boleh membawa kue-kue sendiri tanpa dikenakan biaya sepeser pun!” ujar pak Alfonso kepada Davina.

Rasanya seperti mimpi. Beberapa menit yang lalu dia bilang tidak, dan sekarang, kepada teman saya si Davina, dia setuju.

Karena penasaran, usai pertemuan kami dengannya, saya pun bertanya empat mata kepada pak Alfonso, apa yang membuatnya mengubah keputusan dari tidak setuju menjadi setuju.

Pak Alfonso menuliskan jawabannya dalam selembar kertas:

 

 

 

 

 

 

 

 

Enggak kebaca, ya? Saya lupa ngasitau tadi, tinta pulpen pak Alfonso berwarna putih.

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Juru Runding

  1. auuak says:

    saya udah blok bagian yang kosong mbak, kirain ditulis pake font warna putih, biasanya kalau di blok kelihatan jadi hitam gitu, taunya beneran putih hihihihi, saya dapat intinya mbak, walaupun mungkin tidak sama dengan sudut pandangmu mbak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s