Surat dari Anies

Aku sedang menelaah buku-buku yang dipajang di bagian buku baru sewaktu seseorang menepuk pundakku dengan lembut. Selama beberapa detik, sirkuit-sirkuit memoriku bekerja mengumpulkan informasi tentang sosok cantik di hadapanku yang sekarang sedang tersenyum lebar.

Ternyata salah satu kenalanku, Mes.

“Hei! Lagi ngapain di sini?” dia bertanya.

“Lagi sensus buku, mbak” jawabku bercanda.

“Mbak sendiri lagi ngapain?”

“Itu nemenin si kakak nyari yang dia perlu. Soalnya besok dia udah pulang….”

“Pulang? Pulang ke mana?”

“Pulang ke Jakarta, kan udah kuliah….”

“Oyaa?” aku membelalak tak percaya, Mes. Enggak nyangka kalau perempuan seusianya udah punya anak yang kuliah.

“Anak yang paling besar, mbak?” tanyaku lagi.

“Iya… Itu dia…” tunjuknya ke arah perempuan muda berkacamata dan berhijab yang sedang melihat-lihat tumpukan buku di dekat kami.

Aku senang mengalami hal ini, Mes. Maksudku, melihat pemandangan ibu dan anak pergi bersama mencari keperluan sekolah si anak dan, si ibu terlihat sabar, murah senyum serta tak buru-buru. Pendek kata, di mataku terlihat manusiawi.

Tak mudah menghadapi remaja yang sedang mencari identitas atau jati diri. Bagi sebagian anak, ini adalah masa-masa rawan.

Suatu sore, saat aku seusia putri kenalanku tadi, dengan riang gembira aku pergi menemui mama yang sedang berkutat di kebun mengurusi anggrek. Aku hendak menceritakan pemilihan jurusan dan pendapat dari guruku yang melihat di mana potensiku sesungguhnya.

Kusangka mama akan senang, tapi rupanya aku salah.

“Aku kecewa dengan pilihanmu, tapi kalau memang itu maumu, silakan. Mama akan membiayai sekolahmu sampai selesai,” ujar mama dingin dengan raut cemberut.

Tak ada ucapan selamat atau pelukan hangat, atau senyum sabar seperti yang dilakukan kenalanku tadi kepada putrinya. Dari situ, aku semakin matang menekan perasaan, Mes. Dan sekarang bila kuingat lagi, yang bertanggung jawab mewujudkan impian kita bukan orangtua, pacar, adik, dlst, melainkan diri kita sendiri. Orang lain di luar diri kita tidak akan pernah tahu apa urgensi maupun dampaknya bagi diri kita.

Setelah kelar SMU, mama memaksa agar aku meneruskan kuliah di jurusan yang menurut beliau bagus. Aku stres, Mes. Kakiku melepuh, kepalaku rasanya nyaris pecah, sariawan di mana-mana. Mama tak mau mendengar kata tidak atau penolakan. Meski begitu, kucoba juga mewujudkan impianku dengan meminta mama ikut denganku untuk test bakat. Kupikir, karena secara verbal beliau tak mampu diyakinkan, maka dengan selembar kertas dari lembaga kredibel akan meyakinkan mama.

Hasil test yang ditunggu pun keluar: anak ibu sangat berbakat di bidang musik.

“Lihat, Ma, ini buktinya. Sekolahkanlah aku di bidang musik. Aku tak mau menghabiskan waktuku bertahun-tahun di jurusan yang membuatku gila,” ujarku kepada mama.

Entah mungkin kata-kataku kurang ampuh (kau tahulah Mes, anak introvert sepertiku tak pandai merayu serta berbasa-basi), bukti test tidak mempan, atau entah karena apalah itu, mama bersikukuh dengan pendiriannya.

“Nanti kau ambil sekolah musik setelah kau selesaikan kuliahmu dan bekerja,” tandas beliau dingin. Aku pun berhenti mendebatnya, Mes. Pendaftaran selesai, kuliah pun dimulai. Lantas bagaimana denganku?

Aku bolos, aku lari, dan kadang ingin bunuh diri karena merasa tak ada seorang pun yang mau mendengar dan mengerti pergumulan anak remaja seusiaku. Orangtuaku sibuk dengan urusannya.

Untunglah aku punya teman yang tinggal di dekat kampus. Jadi tiap kali kepalaku rasanya nyaris pecah, aku tidak ke kampus, melainkan ke kost temanku ini. Dia beberapa tahun lebih tua dariku dan pekerja freelance, jadi jadwal kerjanya fleksibel.

Kepadanyalah kutumpahkan segala gundah gulana jiwa, Mes. Dia pendengar yang baik. Hanya memberi nasehat dan masukan jika kuminta. Nasehat adalah hal terakhir yang ingin didengar oleh anak remaja yang pernah berkeinginan untuk bunuh diri di kamar mandi kampus.

Kau mungkin kaget ya Mes, mengetahui kalau aku pernah berkeinginan untuk bunuh diri? Kupikir dengan begitu masalahku akan selesai dan aku tak perlu lagi menjadi beban keluargaku, serta mamaku tak perlu cemberut lagi tiap kali melihatku. Keinginan itu begitu kuat, Mes. Keinginan untuk menggorok leher sendiri atau membentur kepala ke tembok.

Ketakutanku akan terbakar di api neraka abadilah yang menghentikanku. Aku didoktrin dengan ajaran bahwa Tuhan tidak berkenan kepada mereka yang mengambil atau mengakhiri nyawanya sendiri.

Selain temanku yang freelance tadi, teman-temanku sekelas di kampuslah yang juga membuatku bertahan di tahun-tahun kuliah yang panjang itu. Mereka lucu-lucu, Mes. Dan kebanyakan adalah anak rantau. Kadang kalau kiriman uang bulanan dari orangtua mereka belum datang, mereka saling pinjam.

Ada satu orang namanya Kadir, dia ini yang paling lucu di kelas dan mulutnya bocor banget. Nah, satu hari enggak ada angin enggak ada hujan, pas dosen lagi ngajar di depan kelas, si Kadir tiba-tiba nyanyi Pilu-nya Panbers, Mes. Mata semua murid dan dosen pun langsung mengarah kepada Kadir. Lalu semacam dikomando, kami semua tertawa.

Rupanya keadaan keuangan si Kadir udah berada di ambang kematian, Mes, makanya dia sampe keceplosan nyanyi pilu dan berharap ada teman yang memberi pilu alias pinjaman lunak kepadanya. Guyonan-guyonan seperti inilah yang membuatku betah, Mes.

Andaikata hidup ini adalah perjalanan pendakian ke puncak gunung, sekarang aku sedang berhenti di salah satu lembah dan sedang mengamati perjalanan hidupku, Mes. Kini aku bisa mengerti mengapa sejak kecil ditempa dengan keras oleh mama. Untuk bekal hidup, Mes. Karena di sebagian besar jalan yang kulalui, aku bertemu manusia-manusia dengan karakter yang lebih keras dan lebih dingin dari mamaku.

Dan tiap manusia yang pernah kutemui di jalanku itu, harus kuakui, masing-masing punya peranan dalam hidupku, sekecil apa pun itu. Seperti peran pemain musik dalam pertunjukan musik klasik yang kusaksikan baru-baru ini, Mes. Sebagian ada yang duduk di dekat konduktor dan ada yang duduk agak jauh dari konduktor. Di bagian paling belakang ada pemain musik yang bertugas memukul benda berbentuk segitiga dengan bunyi ‘ting ting ting’ amat pelan. Kadang saking halusnya suara itu nyaris tak kedengaran. Namun semua ada gunanya dan jarak itu tidak mengecilkan peran mereka. Sudah diatur sedemikian rupa agar menghasilkan simfoni yang indah.

Ini mengingatkanku kepada Tuhan sebagai konduktor dan kita sebagai pemain musik. Jika 100 orang anggota orkestra memiliki peranannya masing-masing, maka manusia yang konon telah berjumlah 7 milyar ini pun punya peran masing-masing. Betapa hebatnya Tuhan itu kan, Mes?

Aku berharap bisa merekam konsernya supaya kau bisa mendengarnya juga, Mes. Tapi petugas gedung yang lagi-lagi berwajah cemberut serta dingin itu melarang penonton merekam. Nanti coba kau cari di youtube aja. Biasanya ada satu dua penonton yang keras kepala dan tak peduli aturan berani merekamnya. Oke?

Belakangan aku baru tahu bahwa mama mengalami apa yang dinamakan sebagai menopause di masa-masa rawanku itu. Bagi perempuan dewasa, ternyata masa menopause ini pun adalah masa-masa rawan juga. Perubahan hormon ternyata memegang peranan penting dalam keseharian mama.

Jadi kami berdua mengalami masa rawan saat itu. Memang berat ya Mes, di saat anak mengharapkan orangtua mau menjadi pendengar dan pendukung terbaiknya, orangtua justru sedang rapuh. Kalau boleh memilih, tentu sebagai anak remaja aku ingin mamaku seperti kenalanku tadi yang senantiasa ramah, murah senyum, sabar, dan tak buru-buru menghadapi anak seolah anak adalah parasit dalam hidupnya. But you can’t choose your parents, begitulah kata pepatah, Mes.

Semoga nanti kalau kau punya anak dan diizinkan melihat anakmu tumbuh, Mes, berhentilah mengharapkan anakmu sempurna tanpa noda maupun cela, karena kau sendiri pun tak sempurna. Dan jadilah sahabat terbaik bagi anakmu agar mereka leluasa bercerita apa pun. Karena kalau bukan kau sebagai orangtuanya yang mendukung mereka, lantas siapa lagi? Kalau di depan orangtuanya anak tak bisa menjadi diri sendiri dan dituntut harus begini harus begitu, lantas mau di mana lagi anak-anak bisa menjadi diri mereka sendiri? Bener kan, Mes?

Okelah Mes, sampai di sini dulu suratku. Terima kasih sudah membaca unek-unekku yang lumayan panjang ini. Semoga kau tak kapok ya. 😀 Kutunggu balasanmu.

 

Regards,

Anies.

 

 

 

Advertisements

15 thoughts on “Surat dari Anies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s