Di Dekat Pagar Tangga

Anak perempuan itu tampak asyik bermain dengan kertas yang ia gulung kecil-kecil, di dekat pagar tangga yang terbuat dari baja anti karat yang memantulkan bayangannya.

Tiap kali ia mendekat ke anak tangga yang menurun, atau tiap kali ia bermain agak jauh, seorang lelaki yang saya kira adalah ayahnya langsung sigap meraih si anak dan mendudukkannya kembali di pangkuannya.

Baru sekejap berada dalam pangkuan, tubuh si anak menggeliat melonggarkan pelukan protektif dari sang ayah, dan meloloskan diri dari pangkuan, kembali bermain di dekat pagar tangga yang memantulkan bayangan.

Beberapa meter dari dekat pagar tangga, gadis cilik bergaun biru yang saya taksir baru duduk di bangku awal sekolah dasar, sejak tadi juga ikut memerhatikan si anak perempuan yang sedang asyik bermain sendiri itu.

Tak ada angin tak ada hujan, gadis cilik bergaun biru melangkah perlahan namun pasti mendekati tangga, menghalang-halangi pagar tangga yang menjadi objek permainan si anak perempuan yang lebih kecil itu, sambil sesekali membuat balon dari permen karet yang sedang ia kunyah di mulutnya, memonyongkannya ke arah si anak perempuan, kemudian menetaskannya persis di depan muka si anak perempuan.

Ia lalu menutupi pagar tangga dengan gaunnya yang cukup lebar dan menjuntai hingga nyaris menyentuh lantai, agar tak lagi terjangkau oleh si anak perempuan.

Mungkin karena bertubuh lebih kecil dari si gadis cilik bergaun biru, si anak perempuan seketika menghentikan aktifitas bermainnya, dan memandangi si gadis cilik selama beberapa lama tanpa kata-kata, kemudian berjalan mundur menuju pangkuan ayahnya.

Saya pun bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat gadis cilik bergaun biru ini merasa perlu menghalang-halangi si anak perempuan bermain.

Menurut Angga Setyawan dalam bukunya Kenali Anakmu (Noura Books, 2014), perilaku anak bermula dari meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Awalnya, anak belum mengerti mana perilaku baik atau buruk. Semua perilaku orang lain yang menurutnya enak dan bisa membuatnya mendapatkan sesuatu akan dia tiru. Prinsip dasarnya, anak akan mengulang-ulang sebuah perilaku kalau dia merasa mendapat respon dari orang sekitar, apa pun bentuk responnya. Karena bagi anak, respon orang lain sama dengan bentuk perhatian.

Sayangnya, banyak orangtua yang salah fokus. Saat anak meniru yang baik, misalnya anak berhasil menyusun permainan puzzle atau berhasil menghabiskan makanan tanpa disuapi, orangtua malah diam saja atau cuek. Orangtua lupa bahwa perilaku baik perlu diapresiasi, “Waah, hebat kamu, Nak! Ayo makan lagi!”

Saat anak meniru yang buruk atau tanpa sengaja berperilaku tidak baik, seperti misalnya tidak sengaja menjatuhkan mangkuk berisi makanan ke lantai, orangtua malah merespon dengan berlebihan seperti misalnya memarahi, berteriak, membentak, atau bahkan memukul. Sehingga anak merasa, “Ooohh, kalau aku berhasil makan tanpa disuapi, orangtuaku diam saja. Sementara kalau aku menjatuhkan mangkuk ke lantai, orangtuaku merespon dengan sangat heboh. Kalau begitu aku akan sering-sering menjatuhkan mangkuk ke lantai, supaya mendapat perhatian terus…”

Tentu saya harus berhati-hati menyimpulkan, apakah si gadis cilik bergaun biru ini juga berperilaku demikian karena sejak kecil orangtuanya sering merespon berlebihan apabila ia menghalang-halangi (mungkin) adiknya bermain?

**

Satu waktu saya pernah membaca artikel tentang mereka para ‘pencuri kebahagiaan’. Yakni mereka-mereka yang tak pernah memotivasi orang lain untuk bersemangat. Yang keluar dari bibir mereka pun hanyalah komentar negatif melemahkan jiwa.

Apa ya istilah lain pencuri kebahagiaan ini? Sinis barangkali? Atau tak mau kalah? Energi negatifnya terlampau besar sehingga tak pernah bisa melihat kebaikan orang lain dan tak pernah bisa melihat sisi baik dari suatu kejadian.

Mereka pun sulit menerima bahwa pujian dari seseorang memang tulus adanya, karena mereka sendiri memang bukanlah pribadi yang tulus saat memuji seseorang.

+ “Lukisannya bagus banget ya…”
– Ah, masih lebih bagus juga lukisan di rumah saya.

+ “Bok, warna lipstik ini cocok banget buat lo!”
– Merah? Lo kira gue PSK?

+ “Baju kamu bagus banget… beli di mana?”
– Ah, ini baju tahun lalu koq, udah pudar lagi warnanya.

Jika sikap ini terus dipelihara, and if you can’t see the good in others, how can they see the good in you?

Tapi memang sikap ini tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dibentuk selama bertahun-tahun sedari kecil, seperti yang telah saya sebutkan di atas tadi.

Sekali lagi, saya pun harus berhati-hati menyimpulkan apakah si gadis kecil bergaun biru ini juga termasuk pencuri kebahagiaan versi mini. Semoga tidak. Barangkali ia bercita-cita menjadi peneliti, sehingga ia hanya ingin melihat reaksi si anak perempuan saat dihalangi bermain. Mudah-mudahan begitu. πŸ˜‰

Karena jika nantinya gadis cilik ini tumbuh menjadi pencuri kebahagiaan, ia akan selalu hidup dalam ketidakamanan, cemas, gelisah, serta curiga.

*

Sesekali dikuasai energi negatif menurut saya lumrahlah ya, namanya manusia dengan segala kompleksitasnya. Tapi kalau seharian selama 24 jam negatif melulu?

When you are negative, you are always attract people who are also negative. Semakin banyak yang kamu berikan dalam perilaku, pikiran, emosi, atau pilihan negatif, semakin banyak energi negatif yang kamu ciptakan.

Karena orang negatif biasanya ingin orang lain juga merasakan kesedihannya, ketidakamanannya maupun kecemasannya, maka mereka akan menarik lebih banyak orang negatif dalam kehidupannya, dan menjauhkan pengaruh positif.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Di Dekat Pagar Tangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s