Mencari Toko Buku

Setelah beberapa hari diguyur hujan dari pagi hingga malam, hari ini langit berbaik hati memberikan senyum terbaiknya. Walaupun warna birunya masih malu-malu mengintip dari balik awan keabuan, tak mengapalah daripada tak ada sama sekali.

Karena hendak jalan-jalan cantik ke Marini Say Bands, aku berdandan maksimal dan mengenakan pakaian terbaikku.

Niatnya pengen pakai yang agak santai…

tapi koq rasanya gimanaaa gitu… kayak mau ke pantai…

Pilihan kedua pakai coat…

tapi lha koq jadi kayak mau menjajal musim dingin…

Trus kepikiran mau pake boot…

enggak pantes banget euy… ntar dikira kembaran Syahrini…

Akhirnya pilihanku jatuh ke baju terusan ala Holly Golightly, tokoh rekaan Truman Capote dalam bukunya Breakfast at Tiffany’s.

Tujuanku ke Marini Say Bands cuma satu, yakni mencari toko buku. Maka begitu menjejakkan kaki di lantai bangunan yang bentuknya aduhai itu, aku langsung menuju bagian informasi untuk menghemat waktu, dan untuk menyelamatkan kakiku dari kram yang kemungkinan menyerang, akibat tingginya hak sepatuku.

“Selamat siang, mbak” ujarku sambil membuka kacamata dalam gerakan lambat, berharap ia terpesona mata indahku yang, kata orang, mirip mata Natalie Portman…

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu ramah.

“Ada… Toko buku kalian di sebelah mana ya?”

Ia memberi jawaban yang sama sekali tak kuduga:

“Sayangnya kami enggak punya toko buku di sini…. Tapi kalau kamu mencari tas

atau gunting bunga

atau lukisan

atau kaleng kue

atau sangkar burung serta kotak surat

kami punya….” jelasnya panjang lebar sembari membolak-balik katalog bergambar berisi produk-produk mereka, di hadapanku.

Aku, yang masih belum pulih dari keterkejutan, kembali bertanya. Kali ini dengan agak emosional:

“Koq bisa di gedung segede gambreng kek begini kalian gak punya toko buku? Trus kami para bookish yang tiba-tiba terdampar di sini, nasibnya gimana dong?”

“Yaelah, jangan kayak orang susah… Di lantai paling bawah kami memiliki kereta kilat yang bisa membawa kamu segera keluar dari sini… Alternatif lain, kamu bisa naik taksi yang tempat mangkalnya satu lantai dari sini…. Lalu pernah dengar yang namanya gugel? Dengan gugel kamu bisa dengan mudah mencari toko buku di seluruh negeri ini….” jelasnya, masih tetap ramah.

Tidak terima dengan jawabannya dan karena ia tetap ramah, aku pun semakin emosional dan serta-merta memukul meja informasi dengan kacamata hitam Bvlgari-ku yang sedari tadi ternyata dalam genggamanku…

Untuk sepersekian detik, wajah si mbak terlihat kaget. Namun dengan segera ia memasang wajah ramahnya kembali.

Aku tak akan meminta maaf atas insiden barusan. Biar saja. Ini semua salahnya. Seenaknya saja bilang enggak ada toko buku. Sebentar lagi ia akan kubikin menangis, dan menyesal telah memberi jawaban seperti tadi…

“Mbak….. ”

“Mbak….. ”

Tubuhku serasa diguncang dengan hebat oleh seseorang.

Aku pun memaksa membuka mata dan…

“Ini udah sampe di stasiun Bukit Panjang…. Mbaknya mau turun di mana?” tanya perempuan yang wajahnya mirip dengan aktris Natalie Portman itu…

Aku memandang sekeliling dan mendapati diriku berada dalam kereta kosong melompong.

Astaga… aku pasti jatuh tertidur dan bermimpi selama perjalanan.

Mestinya dari Marina Bay Sands aku turun di stasiun Bugis untuk ganti kereta menuju stasiun Tiong Bahru. Lalu dari situ jalan kaki ke toko buku Books Actually, toko buku indie yang direkomendasi mbak-mbak di bagian informasi Marina Bay Sands tadi, setelah kutanyai mengapa tak ada toko buku di bangunan super megah tersebut.

Tapi keknya belum berjodoh sama Books Actually… Ya sudahlah tak mengapa.

“Gimana jadinya mbak? Mau turun di sini?” tanya si Natalie Portman lagi.

“Oh iya, ini gunting bunga mbak, bukan? Tadi saya ambil dari dekat sepatu mbak… Mungkin terjatuh sewaktu mbak ketiduran…..” ujar Natalie Portman sembari meletakkan gunting bunga di pangkuanku.

Gunting bunga? 


 

 

Advertisements

6 thoughts on “Mencari Toko Buku

    1. Aku pun kayak gitu dulu Sekar, soale notesnya lucu2 kan ya 😁 cuma belakangan karena udah ada smartphone yg bisa buat reminder sampe nyatet hal penting, jadinya udah enggak pernah lagi melirik notes2 itu 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s