Buku Baik Laris Manis

Awal tahun udah banyak aja kabar-kabar seru di negeri tercinta Indonesia. Mulai dari Fitsa Hats, daftar buku terbaik 2016 versi Rolling Stone, hingga artikel “Mengapa Buku Indonesia (yang Baik), Tidak Terjual (dengan Baik)”, yang ditulis oleh Aan Mansyur, penulis buku Tidak Ada New York Hari Ini.

Saya enggak akan membahas definisi buku yang ‘baik’, karena interpretasi tiap pembaca mengenai buku ‘baik’ tentunya berbeda-beda. Seperti halnya tidak ada foto bagus atau jelek, maka sebenarnya tidak ada buku yang baik atau jelek, yang ada hanyalah buku yang tidak sesuai dengan selera atau ekspektasi pembaca, sehingga pembaca melabelinya dengan: jelek atau tidak baik.

Yang ingin saya bahas adalah mengapa penjualan buku-buku ‘baik’ tersebut tidak ikut ‘baik’ seperti reputasinya.

Menilik daftar buku terbaik tahun 2016 versi Rolling Stone, menurut saya (karena telah membaca beberapa di antaranya), buku-buku ini isinya cenderung ‘berat’, meskipun ada beberapa cerita yang bikin tertawa hahahihi… 😁😁

Di zaman yang juga berat seperti sekarang ini, setelah seharian penuh bertempur di medan perjuangan berat seperti menghadapi klien cerewet, bos cerewet, pacar cerewet dan lain seterusnya yang juga cerewet, maka di akhir hari atau di jam istirahat, menurut pengamatan saya, yang paling dibutuhkan manusia adalah hiburan segar yang bisa bikin ketawa, alih-alih menjejali diri dengan bacaan ‘berat’ yang bikin kening mengernyit.

Lihatlah film-film yang laris di pasaran saat ini, yang notabene jumlah penontonnya menembus angka 1.000.000: Cek Toko Sebelah, Warkop DKI Reborn, My Stupid Boss, dlst, semuanya kental dengan aroma komedi.

Buku-buku bergenre roman asmara pun sepertinya tak pernah kehilangan penggemar, karena manusia memang selalu membutuhkan bumbu asmara sepanjang hidup.

Tengoklah buku Critical Eleven kak Ika Natassa yang, terakhir kali saya cek, kalau tak salah sudah bertengger pada cetakan ke-15 dalam kurun waktu satu tahun. Bahkan filmnya pun bakalan tayang sebentar lagi (jangan-jangan tayangnya pas menyambut Valentine juga nih? Siapa tahu mau bersanding dengan Fifty Shades Darker yang kabarnya bakal tayang di bulan Februari 2017 penuh cinta…? Oiya, film ini juga diangkat dari buku laris penulis E.L. James).

Sementara buku-buku yang masuk dalam daftar buku terbaik versi Rolling Stone di atas tadi, justru tidak kedengaran gaungnya, dan tidak pernah masuk dalam daftar “buku terlaris”. Kecuali mungkin buku Raden Mandasia yang suaranya lumayan terdengar berkat kasak-kusuk di media sosial.

Buku Raden Mandasia pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016

 

Oleh karenanya, jika ingin bukumu laris manis:

• Tulislah buku yang bisa membuat orang tertawa bahagia.

• Tulislah buku bergenre roman asmara yang happy ending.

• Bertemanlah dengan para penulis buku laris dan minta kiatnya agar buku kamu laris.

• Bertemanlah dengan para penulis buku laris agar mereka juga berkenan mempromosikan buku kamu kepada para penggemarnya. Misalnya seperti Ika Natassa dan Tere Liye.

• Kerja sama dengan berbagai instansi agar buku kamu menjadi buku yang wajib dibeli tiap anggotanya. Lumayan banget kan, kalo misalnya buku kamu dibeli satu instansi yang jumlah membernya mencapai 50.000 orang?

• Turunkan harga buku? Ah, menurut saya harga buku tidak terlampau berpengaruh. Karena meskipun ada buku-buku yang harganya di luar budget pembaca (baca: mahal), namun jika pembaca terlanjur suka dengan buku yang dibaca, maka harga menjadi nomor sekian. Dan ada buku-buku yang menurut saya murah banget, namun tetap tak laku di pasaran. Jadi yang terpenting adalah isi buku menyentuh hati pembaca.

Lantas mungkin muncul pertanyaan baru dari kamu, “Bagaimana jika selama dalam proses meningkatkan penjualan buku, sebagai penulis saya dituntut harus mengorbankan idealisme dan ciri khas yang telah saya bangun selama ini?”

Saya tanya lagi: mana lebih penting, idealisme kamu atau dapur kamu bisa tetap ngebul?

Jika kamu memilih yang kedua, mungkin dalam prosesnya, kamu hanya perlu mengubah idealisme tanpa harus mengorbankan integritas, tentunya.

Pasar buku-buku ‘baik’ yang cenderung ‘berat’ atau serius tadi memang ada dan tetap selalu ada, namun mungkin jumlahnya belumlah sebesar pasar peminat buku-buku ‘tidak berat’.

Dan bagi kamu para pembaca maupun penulis buku-buku ‘baik’ yang selama ini cuma membaca buku-buku ‘berat’ atau ‘serius’ atau buku-buku yang sering diplesetin orang sebagai buku ‘sakit jiwa’, atau buku-buku dengan penceritaan dari sudut pandang tak biasa, mulai sekarang mungkin kamu bisa membaca buku dari berbagai macam genre agar hidup makin berwarna dan makin kaya.

Misalnya seperti buku Lost & Found dari lini Metropop terbitan Gramedia:

atau buku bergenre manajemen seperti Self Driving-nya Rhenald Kasali:

atau buku It’s All in Your Head dari Suzanne O’Sullivan untuk genre psikologi.

Juga ketika bepergian ke negeri lain, untuk mengetahui sedikit banyak mengenai negeri yang didatangi, kamu bisa membaca buku karya penulis lokal seperti Corridor-nya Alfian Sa’at di Singapura. Karena bagaimanapun, karya sastra suatu negeri sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh keadaan negerinya.

buku baik laris manis

Saya percaya, dengan membaca berbagai macam jenis buku, kamu akan semakin memahami dan mengenal berbagai macam karakter serta permasalahan manusia. Sehingga alih-alih mencari kambing hitam untuk disalahkan atas jebloknya penjualan buku, kamu bisa membantu mencarikan solusi yang paling tepat.

 

 

Advertisements

18 thoughts on “Buku Baik Laris Manis

  1. Saya sih rutin membaca buku buat review di blog. Soalnya pengunjungnya rutin. Lagipula membaca sudah jadi rutinitas saya. Dan saya nggak berencana untuk berhenti.

    Nggak ada buku yg baik atau buruk nurut saya. Sama aja ha ha ha……

    Like

  2. Aduh sedih banget ga ada satupun dari daftar rolling stone yg kubaca. Pengen banget baca Raden Mandasia, nasib belum ada kenalan atau teman yg ke Belanda jadi ga bisa titip *nasib tukang titip.

    Like

    1. hahahhh ya amplop… sayang banget belum ada versi digitalnya ya mbak… kalo ada kan enggak perlu khusus nunggu kenalan atau teman ya? maybe it’s time for you to coming home to Indonesia? 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s