Kopi Dangdut untuk Tante Rena

Sewaktu mudik ke Sumatera kemarin, menjenguk Tante Rena saya masukkan ke dalam daftar “yang harus dilakukan selama mudik di Medan”. Tante Rena, atau lebih sering saya sebut dengan Tante Astrid, adalah adik ibu saya.

Dalam tradisi Batak, jika perempuan telah menikah dan memiliki anak, maka ia akan diberi ‘gelar’ sesuai dengan nama anak sulungnya. Nah, berhubung tante Rena memiliki anak sulung bernama Astrid, maka gelar baginya adalah: Mama Astrid.

Tapi ada juga sih yang tidak mau dipanggil dengan gelar barunya tadi dan tetap ingin dipanggil dengan nama depan maupun nama kecilnya. Menurut saya, yang mana pun dipilih, it doesn’t really matter. Karena seperti yang sudah saya singgung tadi, pemberian gelar adalah tradisi.

Kayak musim natal sekarang, mendirikan pohon natal entah di rumah atau di kantor adalah tradisi. Namun jika tidak dilakukan, ya enggak apa-apa. Enggak bakalan langsung masuk neraka jika pohon tidak terpasang di rumah.

Oke, kembali ke menjenguk Tante Rena. Sebelumnya beliau pernah kena kanker dan sudah diangkat serta sudah dilakukan pengobatan untuk mengenyahkan sel-sel kankernya. Hingga setahun yang lalu, kalau saya tidak salah, semua baik-baik saja. Saya tak tahu entah apa persisnya yang memicu kondisi beliau menurun belakangan ini.

Setelah menyalami Om Harris, suami Tante Rena, yang malam itu kami temui sedang menonton televisi di ruang tengah, kami pun masuk ke kamar Tante.

“Horas Tante….” saya menyapa beliau, yang sedang berbaring menghadap tembok, pada salah satu dari dua tempat tidur yang merapat ke tembok. Kamar itu terasa apek. Mungkin diakibatkan udara yang tak leluasa keluar masuk.

Tante Rena membalikkan tubuh dan, seketika terlihatlah tubuh kurusnya yang berbalut daster berwarna biru. Dan wajah itu… Wajah itu, oh Tuhan… Seolah segala sukacita, damai sejahtera, kebahagiaan, dan segala jenis kegembiraan dirampok habis-habisan darinya hingga tak berjejak. Lenyap.

Apa yang terjadi denganmu Tante Rena?

Kami duduk di tepi tempat tidur yang satunya lagi, menghadap beliau. Jemarinya yang sesaat tadi saya genggam terasa rapuh. Bagai daun yang nyaris jatuh dari rantingnya, karena tak ada lagi tenaga atau energi yang dapat membuatnya tetap melekat.

Saya menyebutkan nama dan beliau masih mengenali saya. Ibu meminta saya bernyanyi untuk menghibur Tante. Namun tertunda dikarenakan sudah waktunya bagi Tante untuk makan malam.

Kami pun pindah dari kamar ke ruang makan yang terletak di bagian belakang rumah. Tante Rena bisa makan sendiri, walaupun, saya perhatikan tangannya kerap bergetar sewaktu menyendoki makanan ke mulut.

Sewaktu makan malam inilah saya menghibur Tante Rena, ibu saya, beserta kerabat kami lainnya yang juga sedang berada di sana untuk merawat beliau. Saya memilih menyanyikan lagu Kopi Dangdut karena iramanya yang rancak saya yakini bisa membuat Tante Rena tertawa, atau paling tidak tersenyum.

Fahmi Shahab, penyanyi yang mempopulerkan lagu Kopi Dangdut, pasti bakal protes keras jika melihat saya bernyanyi. Bukan saja karena gaya bernyanyi saya yang enggak jelas, tapi karena saya juga enggak ingat seluruh lirik lagunya.

Solusinya, saya mengganti semua lirik lagu yang saya lupa dengan “na na na na”. Jadi beginilah kira-kira saya bernyanyi:

Kala kupandang na na na na na na na na na na

Na na na na na na na na na na na na na naaa na

Na na na na na na na na na na na na naa na

Na na na na na na na na na na

Alunan kopi dangut

Ya, liriknya yang saya ingat hanyalah ‘kala kupandang dan alunan kopi dangdut’. Yang lain, saya tidak ingat. Kemudian saya lihat Tante Rena tersenyum. Itu saja yang terpenting. Itu saja.

Rabu, 14 Desember, beliau akhirnya pergi untuk selamanya menuju keabadian, meninggalkan kami semua yang ada di dunia ini untuk melanjutkan petualangan hidup, bersama kopi dangdut-kopi dangdut yang belum tuntas dilantunkan…..

 

Kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sana

Sayup kudengar melodi cinta yang menggema

Terasa kembali gelora jiwa mudaku

Karna tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Kopi Dangdut untuk Tante Rena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s