Dormammu, Guru, dan Cobaan Tiada Berujung

Mata pelajaran yang dibawakan oleh guru kami di depan kelas dengan gaya mengajar membosankan ujung-ujungnya membuat mata pelajaran tersebut menjadi membosankan. Alhasil murid pun ngantuk dan tidak konsentrasi. Daripada ngantuk dan bosan, saya bikin hiburan sendiri agar waktu tak terbuang sia-sia.

Dua kali empat puluh lima menit bukan waktu yang singkat, kan? Jika digunakan untuk menyaksikan Doctor Strange yang ditanyai dengan lantang, “Who are you in this vast multiverse” oleh Sang Leluhur di menit-menit awal pembuka film, maka pada menit ke-90, kemungkinan besar udah nyampe di adegan di mana sang dokter berjubah pergi menemui Dormammu di singgasananya. “Gue mau berunding!” ujarnya dengan gagah berani begitu tiba di hadapan penguasa dimensi kegelapan tersebut.

Tapi guru kami bukan Dormammu, dan saya belum kenal dengan Doctor Strange saat itu. Jadi enggak ada yang mau dirundingkan dengan beliau. Dan bukan hanya saya yang merasa bosan, teman-teman yang lain juga pada bosan. Itu sudah biasa terjadi tiap kali guru kami ini ngajar.

Namun yang apes hari itu adalah si Erlan. Entah bagaimana guru kami bisa mengetahui kalau Erlan sedang mengerjakan ‘sesuatu’ yang tak ada hubungannya dengan mata pelajaran beliau.

Jangan-jangan… beliau pun tak fokus dengan apa yang sedang diajarkannya….

Erlan ketahuan sedang baca buku cerita yang ia pinjam siang tadi dari perpustakaan. Saya tahu karena saya bersamanya tadi ke perpustakaan dan ia adalah teman sebangku saya.

Guru kami memanggil Erlan ke depan kelas dan memintanya membawa objek pengalih perhatiannya tersebut.

“Jadi kamu sudah tahu semua mengenai mata pelajaran ini makanya kamu merasa tidak perlu mendengarkan saya mengajar?” tanya beliau. Erlan tak menyahut. Kepalanya menunduk.

Mungkin karena marah, guru kami serta merta mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan kelas sebelum bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.

Bagaimanapun, guru selalu benar dan murid selalu salah. Murid harus selalu konsentrasi mendengarkan guru mengajar di depan kelas, tidak peduli apakah cara guru menyampaikan pelajaran bisa diterima murid atau tidak.

Guru boleh mengajar dengan gaya membosankan, tapi murid tidak boleh menggunakan kreativitasnya untuk mengatasi kebosanan. Pokoknya harus fokus kepada guru. Titik. Karena yang berada di depan kelas adalah guru. Bukan murid.

Menurut saya, sebetulnya apa yang dilakukan teman saya si Erlan tidak mengganggu guru, kan? Dia bukannya bikin gaduh, bukannya ganggu murid lain atau mengajak murid lain agar sama-sama mengalihkan perhatian dari guru, bukannya bikin onar, dlst. Erlan hanya mencoba menciptakan kebahagiaannya sendiri dan guru kami saja yang (mungkin) merasa terganggu karena salah satu muridnya kedapatan tidak fokus olehnya.

Namun kebahagiaan kami bisa jadi adalah sumber ketidakbahagiaan bagi guru kami. Mungkin beliau sedih karena kalau kami tak memerhatikan ia mengajar, kami takkan berhasil dalam ujian. Tapi bagaimana mau memerhatikan kalau gayanya mengajar membuat kami ketiduran di kelas?

Minggu berikutnya, guru kami absen. Pun pada minggu berikutnya, beliau masih tetap absen. Ada rasa tak enak menyergap Erlan. “Apakah ini gara-gara saya?” tanyanya kepada kami, temannya satu geng.

Kami dibesarkan dalam lingkungan di mana terdapat semacam peraturan atau tata tertib tak tertulis tapi ‘tahu sama tahu’, bahwasanya yang lebih kecil harus menghormati yang lebih besar, yang lebih rendah harus hormat kepada yang lebih tinggi, yang lebih muda harus hormat kepada yang lebih tua. Tapi bukankah hubungan akan timpang atau berat sebelah jika caranya seperti ini?

Dalam Kitab Kolose pasalnya yang ketiga, ayat delapan belas hingga pasal keempat ayat pertama, dijelaskan bagaimana hubungan antar pribadi yang ideal:

  • Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
  • Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
  • Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
  • Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
  • Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
  • Saudara-saudara yang menjadi tuan! Hendaklah kalian memperlakukan hamba-hambamu dengan benar dan adil. Ingatlah bahwa kalian pun mempunyai seorang majikan di surga.

Seimbang, kan? Bukan hanya satu pihak yang diminta untuk menghormati pihak lainnya.

Tapi berhubung tidak semua orang membaca dan memahami kitab Kolose, maka tidak semua orang tahu bagaimana menjalin hubungan yang seimbang. Dan berhubung kami sadar bahwasanya tidak semua orang sadar kalau manusia itu sebetulnya sederajat dengan sesama manusia lainnya, serta keadilan mungkin hanya terdapat di negeri dongeng atau di negeri utopia-nya Sir Thomas More, maka salah satu pihak harus mengalah demi kebaikan bersama.

Erlan beserta kami teman segengnya akhirnya memutuskan berkunjung ke rumah guru kami. Setibanya di kediaman beliau, Erlan, yang merasa paling tak enak hati, langsung minta maaf apabila penyebab absennya beliau selama ini akibat kelakuan tak terpujinya tempo hari di kelas. Guru kami merespon dengan, “Tidak, Erlan. Bukan gara-gara kamu saya absen. Saya memang sedang sakit.”

Setelahnya, kami pun pergi mengadu kepada salah satu guru lain yang kami anggap mampu menampung aspirasi murid, dan tidak langsung ‘meledak-ledak’ saat murid memberi masukan demi kebaikan semua pihak. Eh, mungkin bukan demi semua pihak, ding. Demi murid tidak lagi mengantuk selama guru mengajar.

Guru kami yang kedua ini super asik dan perbedaan usia antara kami tidak terlalu jauh. Itu salah dua sebabnya mengapa kami anggap beliau mampu menampung aspirasi kami. Sangat berbeda dengan guru kami yang pertama tadi, yang akan memasuki masa pensiun.

Harapan kami, nantinya masukan kami akan disampaikan dengan caranya sendiri oleh guru junior kami kepada guru senior kami tadi. Karena kami yakin, cara penyampaian tak kalah penting dengan pesan apa yang hendak disampaikan. Dan menurut kami, jika masukan disampaikan oleh seseorang yang berada dalam level yang sama dengannya, yakni sesama guru, kemungkinan besar beliau akan mendengarkan. Namun mendengarkan bukan berarti akan berubah….

Dua minggu kemudian, ketika guru kami yang senior tadi akhirnya kembali mengajar, beliau tiba-tiba berkata, “Kita ujian….”

Oh Dormammu… mengapakah cobaan ini tiada berujung? Apakah ini akibat kami mengadu pada guru junior tempo hari?

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Dormammu, Guru, dan Cobaan Tiada Berujung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s