Menyentil Ahok

Kalau saja Ahok tidak mengucapkan hal-hal seperti yang ia ucapkan sewaktu di Kepulauan Seribu tanggal 27/09/16 lalu, kemungkinan demo besar yang rencananya akan berlangsung hari Jumat tanggal 04/11/16 nanti, tidak terjadi.

Setelah melihat dan menyimak videonya yang utuh tanpa dipotong-potong, jujur saya sendiri enggak suka dan kecewa mendengar beliau berbicara seperti itu. Masalahnya, beliau yang notabene adalah pimpinan daerah ibukota Republik Indonesia, seorang non Muslim pula, membawa-bawa ayat suci salah satu agama mayoritas di negeri ini.

Memang benar negeri ini menganut Bhinneka Tunggal Ika, tapi jangan lupa juga bahwasanya Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dan diakui atau tidak, faktanya bangsa kita sangat sensitif jika sudah memasuki ranah agama.

Menurut saya, bukan pada kapasitasnya beliau mengucapkan hal tersebut. Namun sebagaimana waktu tak bisa diputar mundur, yang sudah terucap dari mulut pun tak bisa ditarik kembali. Pastilah banyak pihak yang marah dan kecewa, sebagaimana halnya saya kecewa melihat pihak-pihak yang tidak sensitif saat peristiwa bom mengguncang Jakarta di awal tahun 2016 lalu.

Ini soal nyawa. Dan nyawa bukan untuk dipermainkan,” ujar saya saat itu. “Dan ini soal keyakinan, keyakinan itu bukan untuk dipermainkan,” ujar mereka saat ini.

Tak ada asap kalau tak ada api. Ahok memang pemberani. Kalian pasti lebih tahulah apa yang telah beliau lakukan selama ini agar Jakarta lebih baik. Tapi saya merasa bahwa belakangan ucapan-ucapan beliau semakin ‘berani’. Misalnya seperti, “Tuhan pun akan saya usir dari sini,” katanya suatu waktu. Kalau tak salah mengenai kasus pasar atau pemukiman warga. Saya ngeri mendengarnya. Lantas apa yang terjadi kalau manusia menantang Tuhan?

Sejarah mencatat, Titanic tenggelam pada pelayaran perdananya dari Southampton, yang membawa ribuan penumpang dari Eropa ke Amerika Serikat pada tahun 1912. “Bahkan Tuhan pun tak akan mampu menenggelamkan kapal ini,” klaim mereka. Kapal terbesar di zamannya tersebut tenggelam di Samudera Atlantik setelah menabrak gunung es dan tak pernah tiba di Amerika.

Ahok memang bukan Jokowi yang senantiasa santun, lembut berbicara dan enak didengar telinga. Tapi kalau Ahok seperti Jokowi, maka bukan Ahok namanya. Pastilah ada hikmah dari semua kejadian ini. Mungkin Tuhan sedang menyentil Ahok agar tak lagi mengucapkan nama Tuhan dengan sembarangan, serta agar lebih berhati-hati dalam bertutur kata.

 

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Menyentil Ahok

  1. Apa yang dia Ahok” selalu katakan mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya
    setidaknya ini bisa dijadikan momentum untuk bangkt dan bersatunya islam

    Saya terkagum kagum dengan antusiasmeu umat islam dalam membela al quran dan agamanya. tidak ada hijau, merah, hitam, biru semua kompak dalam satu warna

    Semoga saja para ulama habaib yang mengalami ketidak adilan pada waktu aksi damai bisa diberi kesehatan.

    amiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s