Penjahit Karenina

Sempat tertunda beberapa kali, di siang hari yang panas banget ini aku membawa rokku yang bermasalah ke tukang jahit langganan. Tapi apes, tokonya tutup. Entah kenapa.

Di ujung simpang, terlihat sebuah papan penanda bertuliskan “PENJAHIT KARENINA” dengan gambar anak panah ke kanan disertai keterangan “100 m” yang kuterjemahkan sebagai: jika hendak bertemu dengan penjahit bernama Karenina ini, berjalan kakilah sejauh seratus meter dari simpang ini ke sebelah kanan.

Di dekat papan penanda itu sebetulnya ada satu lagi tukang jahit langgananku. Tapi hari ini tokonya pun tutup. Di pintunya tergantung kain sablonan berukuran besar berisikan: KATAKAN TIDAK PADA NARKOBA. Apakah ia telah beralih profesi menjadi pemberantas narkoba? Kalau iya, baguslah.

Aku lantas terus berjalan memasuki kampung. Rumah-rumah dicat warna-warni. Dinding berwarna biru muda dipadu dengan pintu berwarna kuning. Di sebelahnya, bingkai jendela berwarna oranye dipadu dengan hijaunya pintu serta dinding. Sungguh menarik! Tiba-tiba aku merasa bersemangat di siang yang panasnya amat-amat ini.

Sambil terus berjalan dan mengagumi rumah-rumah bercat menawan tersebut, mataku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari rumah yang (setidaknya) di bagian depan rumahnya dipenuhi kain bergelantungan. Sebetulnya definisiku dalam pencarian rumah tukang jahit bernama Karenina ini dangkal sekali. Bisa saja dia menggantung baju-baju hasil jahitannya di belakang atau samping rumah, kan?

Di tengah pencarian, seorang anak lelaki berbaju biru keluar dari gang sempit di antara rumah.

“Dek, penjahit Karenina sebelah mana, ya?” cegatku.

Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, sebuah suara yang kuidentifikasi berasal dari dalam rumah di hadapanku tiba-tiba menyahut, “Penjahit Karenina?”

Aku menelengkan kepala agar lebih jelas melihat penampakan si penyahut. Perempuan ternyata. Berbaju merah berambut sebahu, duduk di lantai.

“Iya, Bu…” jawabku.

“Nanti di depan ada warung bercat pink… Nah, kalo udah ketemu, jalan aja ke ujung sebelah kiri, di situ tempatnya…” jelasnya. Aku merekam informasi berharga tersebut.

Dan benarlah, beberapa meter dari tempatku berinteraksi dengan ibu tadi, aku bertemu dengan warung yang dimaksud dan berjalan hingga ke ujung, lanjut ke kiri. Di depan salah satu rumah, terlihat baju-baju bergelantungan.

Aha! Tak salah lagi, ini pasti dia! Sorakku dalam hati.

“Selamat siang, Bu…” panggilku begitu tiba di depan pintu rumah yang terbuka lebar dan tampak sepi. Kain berserak serta dua buah mesin jahit di sudut ruang terlihat jelas dari tempatku berdiri.

Tiga detik… Lima detik… Hingga tujuh detik berlalu, tak ada sahutan dari dalam. Daun pintu lantas kuketuk enam kali, berharap suaranya cukup nyaring didengar oleh siapapun di dalam rumah untuk menandakan bahwa ada ‘intruder’ di depan rumah.

Terdengar sahutan lemah dari dalam, disusul munculnya seorang perempuan berkulit gelap mengenakan daster, dengan rambut mencuat ke mana-mana. Barangkali aku baru saja membangunkannya dari tidur siang… Semoga saja ia tidak sedang mimpi indah tadi…

“Waduh… Maaf ya… Semalaman sampai tadi saya mengerjakan pesanan orang… Pesanannya dadakan… Ini baruuu aja sempat istirahat…” sambutnya sembari menunjuk ke arah tumpukan kain berwarna pelangi di atas mesin jahit. Aku langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan. Sepertinya ia bukan tipe yang suka berbasa-basi. Cocoklah.

“Memperbaiki rok yang jahitannya lepas, bisa, Bu?” tanyaku langsung.

“Bisa, bisa… Ditunggu, kan?”

“Eh… Nggak usah, Bu… Bukannya ibu mau istirahat siang? Saya jemput besok-besok nggak apa-apa koq, Bu… Lagian saya nggak buru-buru…”

“Ditunggu aja… Ini sebentar koq… Duduk dulu ya… Biar saya hubungi dulu orang yang memesan kain pelangi ini…” jawabnya sembari mengutak-atik tablet bercasing merah di hadapannya.

“Sering banget begini… Pesannya malam, harus selesai besok….” ia mencerocos. Setelah kelar dengan tabletnya, aku pun menjelaskan duduk perkara rokku.

“Wah, udah musim lagi ya rok lipit-lipit model begini… Tapi saya males pakai rok beginian… Baru dicuci satu kali, lipitannya langsung berkurang drastis…”

Aku menyetujui pendapatnya.

Si ibu kemudian larut bersama rokku dalam mesin jahitnya. Dan aku… aku menemukan harta karun di teras rumahnya!

Harta karun berupa sepasang sepatu bermotif garis berwarna pastel, bersanding dengan tanaman hijau dalam pot, yang bertengger pada kayu berwarna kehitaman. What a composition! Aku bahkan tak perlu repot mengatur letak mereka agar semakin enak dipandang mata. Mereka seakan telah sekian lama berpose seperti itu, menanti untuk diabadikan. I can’t believe my luck! Kampung ini penuh kejutan!

“Baru-baru ini saya dirundung masalah…” ujar ibu Karenina sesaat setelah aku kembali ke dalam rumah dan sedang mencoba-coba semua filter instagram untuk foto harta karun tadi pada henpon.

Aku mengangkat kepala dan mata kami bertemu.

“Saya tidak tinggal di sini tadinya… Tapi setelah orangtua meninggal, sayalah yang mengelola tanah serta rumah ini…” ia meneruskan.

“Saya pikir untuk apa tanah begini luas sementara saya hanya berdua dengan anak saya… Suami saya juga udah nggak ada… Maka saya sewakanlah kamar-kamar di belakang sana. Dan saya beserta anak saya menempati bagian depan sini. Lalu di atas sana saya tambah lagi kamar. Nah, itu yang bikin masalah… Saya diprotes warga… Katanya saya nggak punya izin membangun… Saya diadukan sampai kelurahan dan disuruh bongkar. Lah mana saya mau…”

“Saya lawan balik. Saya bilang: semua bangunan yang ada di kampung ini liar dan tak ada satu pun yang pernah punya izin bikin bangunan. Kalau bangunan saya mau dibongkar, bongkar juga dong semua bangunan lain.. Supaya adil…” ujarnya berapi-api.

“Betul, kan?”

Aku mengangguk.

“Setelah itu, mereka nggak berani lagi mengusik saya… ”

Aku mengangguk lagi.

“Ini jahitan bagian pinggangnya juga bermasalah lho… Saya perbaiki juga, ya?”

“Silakan, Bu…” ujarku memasrahkan si rok kepada ahlinya.

“Ibu bisa jahit kebaya juga?” tanyaku sambil memerhatikan kebaya biru yang tergantung di dinding dekatku duduk.

“Bisa… Semua bisa saya jahit…”

Jawabannya melegakan. Referensi tukang jahit kebaya kini bertambah satu.

“Saya juga jualan batik dari Jawa lho… Macam-macam… Ada megamendung, ada…. ada… ada….” Ia menyebutkan berbagai macam jenis batik, tapi yang bisa kuingat hanyalah megamendung. Padahal langit di luar sana jauh dari mendung… Jadi penasaran kenapa dinamakan megamendung. Apakah si pemberi nama terinspirasi dari langit mendung?

Ia meletakkan rokku sejenak dan berjalan menuju lemari di sebelah mesin jahit yang sedang menganggur, serta merta mengambil sehelai kain batik.

“Ini contoh batik megamendung…” ia menyerahkan kain yang didominasi warna ungu itu kepadaku. Bukan warna favoritku dan motifnya tak ‘mengguncang’ jiwaku. Rasanya seperti dipelototi puluhan mata…

“Sekali sebulan saya selalu ke Jawa. Mengunjungi anak-anak saya yang lain sekalian beli batik. Kapan-kapan datanglah lagi ke sini. Ini roknya sudah selesai…. Gimana?” ia mengembangkan rok lipit-lipitku sembari (kemungkinan) menanti jawaban dariku, atas renovasi yang dilakukannya.

“Bagus, Bu.. Makasih banyak. Berapa harus saya bayar?”

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Penjahit Karenina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s