Buku Harian

Sekitar dua dekade lalu saya harus mengulang-ulang lagu bahasa Inggris favorit yang saya rekam dari radio, di pemutar kaset kami, untuk mencari tahu keseluruhan lirik lagu tersebut. Karena keadaan itu, para jenius di seluruh dunia pun memikirkan cara untuk menyederhanakan persoalan. Hasilnya, seperti yang kita semua ketahui, sekarang segala sesuatu menjadi lebih mudah. Cukup tongkrongin gugeldotcom, ketik lirik lagu yang kita inginkan, tak sampai satu detik, ratusan ribu halaman muncul di depan mata. Tinggal pilih salah satu, liriknya sudah bisa dinikmati.

Mau baca buku, edit foto, ngobrol dengan kawan lama, pesan makanan, nyatet hal penting, transfer duit, buka tabungan, nyari taksi/ojek/mobil, ngecek lalu lintas, dlst, bahkan seks, tinggal unduh aplikasinya dan voila, semua bisa dilakukan dengan hanya menggerakkan jari telunjuk, jempol, jari tengah, jari manis atau kelingking.

Dan jujur, tahun ini saya menemukan banyak buku keren akibat iseng-iseng berseluncur di beberapa akun pencinta buku di instagram. Opini mereka menggantikan ulasan-ulasan buku yang dulunya hanya bisa saya peroleh di media-media konvensional seperti koran, majalah, dlsb.

Salah satu majalah yang sering dijadikan acuan gaya hidup masa kini belakangan bahkan saya perhatikan menjadikan media sosial sebagai sumber referensi mereka. Well, kalau sudah begini, kayaknya tinggal menunggu waktu saja mereka bakalan punah.

Berbicara tentang media sosial (medsos), menurut pengamatan saya, ia adalah buku harian atau jurnal harian zaman sekarang. Saya ingat, konsep friendster sewaktu ia diluncurkan (yakni media sosial sebelum zaman instagram dan kawan-kawan) sama seperti fungsi ‘buku harian kenang-kenangan’ kami sewaktu SD.

Kami menyerahkan buku harian ke teman-teman di kelas, meminta mereka mengisinya dengan data pribadi seperti nama lengkap, alamat, zodiak, tanggal lahir, makanan dan minuman favorit, hobi, motto hidup, pesan dan kesan selama berteman dengan si empunya buku (serupa testimoni kalau di friendster), kemudian menempelkan foto.

Peredaran buku harian kenang-kenangan ini semakin sering di akhir tahun ajaran. Alasannya macam-macam. Bisa jadi karena murid pindah mengikuti orang tua yang pindah tugas ke kota lain, maupun karena berakhirnya masa sekolah. Pemilik buku kadang tidak meminta semua murid sekelas mengisi buku hariannya. Melainkan hanya meminta beberapa teman sekelas maupun antar kelas yang dianggap ‘bermakna’ selama sekolah, murid-murid populer, dan murid gebetan (this was so me XD ).

Tiap murid minimal memiliki dua buku harian. Satu buku harian kenang-kenangan, satu lagi buku harian tempat curhat. Sama kayak kita sekarang yang memiliki lebih dari dua akun medsos, kan?

  1. Untuk teman-teman dekat yang mengenal kita luar dalam (biasanya berisi postingan atau foto-foto konyol).
  2. Untuk seluruh dunia atau ‘pencitraan’ (karena zaman sekarang persepsi adalah segalanya) berkenaan dengan profesi kita yang kemungkinan adalah seorang banker, arsitek, travel blogger, fashion blogger, food blogger, social media or digital media influencer, buzzer, pengusaha, wartawan, penulis, model, penyanyi, etc. You name it.
  3. Untuk hobi atau passion kamu entah itu buku yang lagi dibaca, makanan favorit, destinasi jalan-jalan favorit, musik, film, isu-isu kemanusiaan, green living, kutipan favorit, dlst.
  4. Ada ide?

Mengingat medsos adalah buku harian di era digital ini, maka fakta bahwa bayi yang baru dilahirkan zaman sekarang sudah memiliki akun medsos yang dikelola oleh ibu bapaknya, bukanlah hal baru. Karena hasrat untuk merekam kehidupan sedini mungkin memang sudah melekat dalam diri kita sebagai manusia. Ibu saya bersama seluruh ibu lainnya telah melakukannya bertahun-tahun yang lalu dengan cara berbeda. Di zamannya, mereka menuliskan perkembangan anak di buku harian, memotret anak dari waktu ke waktu, mencetak foto, kemudian menempelkannya dalam album foto.

Selain untuk merekam perkembangan anak, kini dengan semakin beragamnya pilihan media sosial, semakin mudah mendokumentasikan kegiatan kita selama 24/7. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur, jenis sarapan yang kita konsumsi, hingga kegiatan berburu pernak-pernik antik ke sudut kota yang nantinya bakal menghiasi meja makan kita di rumah.

Tak bisa kita abaikan fakta bahwasanya saat ini medsos adalah bagian dari hidup kita sehari-hari sebagaimana halnya buku harian. Marah-marah di medsos, berdoa di medsos, memuji pacar/suami/istri di medsos, bersyukur pun di medsos. Karena sejatinya, buku harian memang tempat orang curhat, tempat ‘nyampah’, tempat teraman untuk menumpahkan segala rasa ketika menurut kita tak ada satu orang pun di luar sana yang bisa diajak berbicara.

Dan, mau curhat kayak apa pun, buku harian konvensional itu cuma nerima saja apa pun yang kita tulis di situ. Ia tak pernah menghakimi penulisnya, kecuali kita lupa menggemboknya dan lupa menaruhnya di tempat aman, jauh dari jangkauan tangan-tangan usil.

Itu yang kita sering lupa ketika menggunakan buku harian zaman sekarang. Sewaktu menumpahkan segala rasa tadi, yang bisa baca bukan cuma kita. Apalagi jika kamu memiliki ribuan follower dan menyertakan hashtag pada tiap postingan yang kamu unggah, dan kamu tidak membatasi siapa saja yang bisa membaca postingan kamu tersebut.

Seseorang di kutub utara yang sama sekali tidak mengenalmu secara pribadi bisa saja mengacungkan jempol digitalnya dalam postingan itu. Sehingga tidak berlebihan memang jika buku harian digital kita sekarang disebut-sebut dapat dilihat oleh seluruh dunia. Masih ingat kasus perempuan di Jogja yang marah-marah dalam medsosnya tahun 2014 lalu, kan?

Mungkin baginya saat itu marah-marah adalah terapi. Daripada meluapkan kemarahan kepada orang di sekitar, mending marah-marah di medsos. Daripada demo di jalanan bikin macet, mending demo di medsos.

Dan kita pikir dengan mengatur akun medsos kita ‘private’ maka medsos kita akan ‘aman’. Nyatanya tidak demikian. Teman-teman di lingkaran kita yang masih bisa membaca postingan kita, juga masih bisa membagikannya ke seluruh dunia.

Maka jika kamu ingin buku harian kamu hanya bisa dibaca oleh kamu seorang, pilihlah mode “only me”. Cara mengaturnya hanya sejauh jari. Dan jika kamu memilih buku harianmu bisa diakses oleh publik, sebagai konsekuesi logis, terimalah respon ‘seluruh dunia’ yang membaca dan mengomentari postinganmu itu.

Dan jika kamu kebetulan sedang membaca postingan ‘ngamuk-ngamuk’ di beberapa akun medsos, cobalah lihat dari sisi ‘buku harian’ itu tadi. Mereka hanya sedang menggunakannya sebagai terapi. Kalau kamu tak suka dengan apa yang kamu baca, you can always unfollow them or mute them or hide them anytime you want. Again, hanya sejauh jari.

Tapi saya ragu kalau ada dari kita yang mau meng-unfollow mereka. Karena, ayolah, there’s always a little bit rasa ingin tahu di dalam setiap kita. After all, itulah yang bikin Hawa makin penasaran setelah rasa ingin tahunya dikompori ular. “Kamu tidak akan mati jika memakan buah terlarang…” ujarnya. And the rest is history…

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Buku Harian

  1. Kalau aku sudah unfollow terhadap suatu akun (meskipun punya temen sendiri, ataupun orang yang kukenal), aku ga akan stalking2 lagi. Ga mau menghabiskan waktuku untuk melakukan sesuatu yg menurutku ga ada nilai tambahnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s