Makan Siang Gratis

“Ibu masih di luar. Sebentar lagi datang.” Jawab stafnya ketika kami tiba di hotel, pada jam yang telah disepakati.

Selagi menunggu, kami pun melakukan tur singkat di hotelnya yang apik itu. Seperti biasa, saya menjepret yang bisa dijepret, dan tidak menjepret yang tak bisa dijepret. Namun udara dingin membuat perut semakin cepat “bernyanyi”.  Lagipula, jam segini memang waktunya makan siang…

Berhubung kendaraan tak lalu lalang ke hotel tersebut dan cukup jauh jika kami harus ke pusat kota hanya untuk makan dan kembali lagi ke hotel, sepertinya makan siang di hotel adalah pilihan yang cukup bijak. Kami pun meminta kepada stafnya yang tadi memberitahu bahwa “ibu sebentar lagi datang,” agar dimasakkan makan siang.

Tak lama menunggu, makanan pesanan kami tiba. Rasanya enak. Entah gara-gara perut memang sudah keroncongan maka segala yang masuk menjadi enak, atau memang masakannya bener-bener enak. Tapi kayaknya gara-gara alasan yang nomor dua. Masakan enak ini barangkali salah satu penyebab penginapan tersebut tetap bertahan meski badai ekonomi beberapa kali menghantam daerah wisata yang cukup terkenal ini.

Namun sepertinya ibu itu dan kami berasal dari galaksi berbeda. Jika kami dari galaksi Bimasakti, maka kemungkinan besar ibu itu berasal dari galaksi Andromeda. Karena definisi ‘sebentar’ bagi ibu itu sepertinya adalah nyaris tiga jam.

Sore itu ia terlihat cantik. Rambut disasak tinggi menyerupai sarang lebah. Alis ditato sempurna. Wajah hasil teknologi pengencangan kulit. Kuku tangan dan kaki hasil pedi-meni serta dihiasi pewarna kuku netral. Bibir dibubuhi lipstik merah (atau pink?) Mungkin karena sudah sore, warnanya berubah menjadi pink? Atau cahaya yang semakin pudar membuatnya terlihat pink? Entahlah…

Dalam usia yang telah melebihi sepuluh windu, ingatannya pun masih tajam. Pendek kata, stunning mungkin kata paling tepat untuk menggambarkannya.

Ia lantas mengajak kami ke ruang pertemuan. Supaya bisa leluasa ngobrol…

Dua jam berikutnya, karena beliau tak kunjung selesai berbicara, saya mulai bertanya-tanya, “Sebenarnya acara pertemuan ini tujuannya apa?” Koq dari tadi ngobrol keknya beliau ‘cuma’ menceritakan bagaimana ia dibesarkan orangtuanya, bagaimana ia bermanuver sejak kecil untuk mendapatkan teman, bagaimana ia berteman dengan para ekspat, serta sederetan “how to” lainnya. Ia juga seakan berpesan agar jangan pernah rendah diri dan berkecil hati, serta percaya diri adalah keharusan.

Apakah ini sindrom manusia lanjut usia? Katanya kan, manusia lanjut usia senang bercerita tentang pencapaian-pencapaiannya di masa lampau. Nah, apakah beliau mengundang kami hanya untuk bernostalgia dan sedang membutuhkan telinga untuk didengarkan?

Percayalah, saya sebetulnya sudah gatal ingin bertanya kepada beliau, tapi memotong pembicaraan nampaknya bukan tindakan terpuji. Apalagi, sepertinya saya memang tersihir mendengarkan ia bercerita begitu lugas dan ‘hidup’. Nggak heran kalau ia seorang #LadyBoss .

Hingga kami keluar dari halaman hotelnya dalam guyuran hujan deras malam itu, belum juga saya temukan jawaban untuk pertanyaan di atas tadi.

Ah, hampir lupa. Ia juga memberi kami kain tradisional yang sangat indah. Hadiah pernikahan yang terlambat katanya. Ya, sewaktu saya menikah beberapa tahun lalu, sepertinya beliau memang tak datang…

Beberapa waktu kemudian barulah saya mengetahui alasan di balik undangan pertemuan hari itu, di balik makan siang gratis itu (soale kami tak diminta untuk membayar), dan di balik kain indah itu….

Ia ingin agar kami memilih anaknya dalam pertarungan politik memperebutkan kursi DPR.

Yah, barangkali itulah sebabnya mengapa orang bilang:

tak ada makan siang yang gratis…

Oh, anaknya menang, btw.

 

So, apakah saat ini kalian sedang dalam pertarungan politik juga dan pengen menang? Bolehlah undang saya makan siang…

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Makan Siang Gratis

  1. Sudah hukum alam, orang tua pasti akan menceritakan pencapaiannya di masa lalu. Dengan bercerita itu suatu kebahagiaan bagi yang bersangkutan.
    Makan siang gratis kalo ada teman lama yang baik yang traktir.

    Like

    1. betul pak Alris, pernah juga saya datang ke rumah kawan, kebetulan si kawan lagi nggak di rumah, tapi ada orangtuanya yang menyambut kami. nah beliau kelihatan senang banget dan langsung cerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan sang istri di masa lampau hihihii 😀 keknya mereka memang cuma butuh didengarkan 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s