Dokter Spesialis

Setelah menunggu lebih dari dua jam, pukul 11.11, dokter spesialis yang saya tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Ia nampak tergesa dan langsung masuk ke ruang konsul. Namun sekilas, saya melihat senyum tipisnya.

Lebih dari 20 pasien telah menanti sejak tadi. Menurut perawat yang bertugas pagi itu, keterlambatan dokter dikarenakan dokter muter-muter terlebih dahulu melihat pasiennya yang dirawat inap. Entah bagaimana beliau akan menghadapi pasien segitu banyak, dalam waktu sedemikian singkat menjelang jam istirahat siang.

Sembari membaca buku yang saya bawa (sayangnya nggak ada yang motret pas saya lagi baca. coba kalo ada, keknya bolehlah meramaikan #HotChicksReading di instagram, bersanding dengan #HotDudesReading), saya iseng menghitung lamanya waktu yang dihabiskan tiap pasien di ruang konsul. Yakni sekitar 2-3 menit. Gile… Cepet banget, ya? Tapi mungkin emang harus gitu sih, ya? Kalo enggak, ya sampai sore bakalan nggak selesai kali??

Tapi saking cepatnya, saya jadi bertanya-tanya, bukankah pasien-pasien yang berasal dari berbagai latar belakang ini, penanganannya harusnya beda?

Sebenarnya saya enggan datang ke dokter spesialis yang satu ini karena keknya dia nggak seneng kalo pasiennya curhat. Tapi berhubung beliau satu-satunya dokter spesialis di rumah sakit ini, saya tak punya pilihan.

“Ibu percaya saja sama saya,” katanya suatu kali sewaktu saya bertanya-tanya penasaran tentang keluhan saya. Saya pun membela diri. Bukan masalah percaya tidak percaya. Masak saya tidak boleh tanya ini itu? “Kalau ibu mau sembuh, percayalah sama saya karena saya ahlinya. Ibu bukan ahlinya,” tandasnya. Dengan itu, seketika ia membungkamku. Padahal justru karena dia ahlinya makanya saya bertanya. Kali berikutnya konsul, berdasarkan pengalaman bahwa ia tak mendengarkan, saya memberikan respon yang ingin ia dengar. Males ngomong panjang lebar.

Okelah mungkin mendengarkan, tapi seadanya. Padahal dengan mendengarkan keluh kesah pasien, sudah mengurangi sakitnya hingga delapan puluh persen lho. Apalagi kalo pasiennya perempuan.

Bagi kami perempuan (atau yaah setidaknya bagi saya ajalah), pura-pura didengarkan itu lebih mendingan daripada kami disuruh diam atau dibentak agar tak lagi mengoceh. Karena seringkali, solusi bagi perempuan adalah: berbicara.

Tapi berhubung pasiennya banyak, ya nggak mungkin memang dokter mendengarkan pasien sepenuh hati atau mencurahkan segenap perhatian kepada pasien. Karena (mungkin) dokter memang berlomba dengan waktu.

Maka dengan itu, saya pun hanya bisa geleng kepala menyaksikan betapa cepatnya pasien-pasien tersebut keluar dari ruang konsultasi. Barangkali beliau memang dokter super…

Meski begitu, ada juga sih satu dua dokter yang benar-benar mau mendengarkan pasiennya. Seperti dokter favorit saya. Dokter yang seakan memiliki segala waktu di dunia ini untuk sabar mendengarkanmu, dan mencurahkan segenap perhatiannya kepadamu, hingga membuatmu merasa menjadi orang paling berharga di dunia.

Suatu hari dokter favorit saya ini meminta maaf kepada saya setelah ia selesai memeriksa dan menuliskan sesuatu dalam kertas di hadapannya. Saya pun bingung kenapa beliau minta maaf. Setelah saya tanya, rupanya beliau hendak… minta izin mau ngasih obat…

“Hah? Koq pakai minta maaf dan minta izin segala, Dok?” Tanya saya seakan telinga saya salah mendengar.

Ternyata alasannya minta izin adalah… “Karena saya tahu kalau ibu nggak suka minum obat, makanya saya minta izin dulu buat ngasih obat….” jelasnya.

Astaga… Detik itu juga saya terbahak. Saya tak mampu menahan tawa di hadapan beliau. Sungguh, saya terharu atas perhatiannya tersebut. Itu berarti beliau benar-benar mengenali pasiennya.

Akhirnya beliau pun memberi obat untuk saya minum selama lima hari. Yang tadinya saya enggan minum obat, namun atas perhatiannya itu, saya telan semua obat yang diresepkannya. 😀 Itulah hebatnya efek mau mendengar pasien serta mau melihat riwayat pasien. Sampai saat ini, beliau adalah dokter paling baik yang pernah saya kenal. 😆😆

Masih adakah dokter lain di luar sana seperti beliau? 😀

Oiya, dokter favorit saya ini berjenis kelamin perempuan, bukan laki-laki. Tapi bukan berarti semua dokter laki-laki nggak mau dengar pasiennya lho… Kemarin pas saya ke dokter gigi, saya minta agar gigi saya dibius sebelum diutak-atik, dan beliau mau. Beliau bahkan sempat bercanda mengatakan bahwa ia lupa menaruh gula dalam cairan yang rasanya asam, yang ia semprotkan di mulut saya. Beliau laki-laki dan sudah berumur. Maksud saya, usianya telah lebih dari setengah abad.

Sebelumnya, saya ditangani dokter gigi perempuan yang tak mau mendengar keluhan saya dan tak membius gigi saya. Padahal saya sudah minta dengan sangat jelas dan, yang tahu sakitnya itu kan saya, bukan dia. Namun ternyata dia tak menggubris permintaan saya. Kalau menurut suami saya, “Mungkin dokternya lelah…” 😆😆

Lantas apakah sikap mau mendengarkan dan kesabaran seseorang ini meningkat seiring bertambahnya usia? Sepertinya tidak. Dokter favorit saya tadi masih muda belia, dan dokter spesialis yang tak mau mendengarkan tadi seumuran dengan dokter gigi yang mau membius gigi saya tersebut. 😆😆

***

“Ibu Messa…” Perawat cantik itu menyebut namaku. Itu giliranku, kawans. Mari kita lihat berapa lama kali ini saya berurusan dengan pak dokter. 😁

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Dokter Spesialis

  1. Saya juga pernah konsul. Obatnya efeknya terlalu keras. Masa habis minum obat saya langsung tidur tak kurang dari 10 jam. Anehnya tidurnya nggak nyenyak. Berasa ngantuk terus. Awalnya saya kira cuma efek sesaat karena mungkin tubuh butuh penyesuaian. Eh ternyata sama aja. Trus konsultasi dan bilang obatnya nggak cocok atau dosisnya terlalu tinggi. Gak digubris sama nih dokter. Pokoknya disuruh minum teratur titik.

    Kemudian ganti dokter dapat obat yang sama cuman yang satu ini mau dengerin. Dosisnya dikurangi separuh dan saya merasa baik2 saja. Soalnya obat2 an saya cuma boleh dibeli pake resep dokter.

    Like

  2. gak mes’. tergantung orangnya ya. ada yg mo dengerin, ada yg ogah. aku punya dokter favorit. dokter umum, bukan spesialis. dr aku remaja dihandle sm dia. mulai dr aku sampai bokap, tiap sakit ke dia. waktu papa meninggal, kesehatan nyokap menurun, jd tiap kali ke dia, nyokap curhat mulu. yg aku heran, pasien di luar tuh seabrek-abrek, tp mau loh dengerin nyokap. sampai ngasih nasehat lg ke nyokap. suatu kali nyokap sakit, dan si pak dokter lg gak praktek, jd aku bawa ke dokter lain. boooo … waktu mama cerita keluhannya, tuh dokter langsung potong keluhan nyokap dan sedikit ” menggurui “. duh, semenjak itu aku gak bawa nyokap lg ke dia. trus aku mikir, kok 2 dokter itu bisa beda. ya, balik lg ke orangnya masing2x ya. efeknya bener spt yg kamu bilang, gak cuma sembuh secara fisik, tp psikis jg kl ada mau dokter yg mau mendengarkan pasiennya. dokter favoritku ini tiap hari kebanjiran pasien, smntara dokter yg kedua, kliniknya sepi mulu … hahaha … aku sampai nasehatin anak rohaniku yg lg kuliah kedokteran utk jd kayak si dokter favorit 🙂

    Liked by 1 person

    1. enak kalo udah punya dokter yang udah tahu riwayat kita ya kak… bener kak, kalo kita didenger nggak cuma sembuh secara fisik, tapi psikis juga. pokoknya salutlah sama dokter2 yang bener2 mau mendengar pasiennya. setuju kak, kudu dinasehatin anak2 rohani kakak 😉

      Like

  3. Saya pernah konsul ke dokter umum di kota Ambon. Itu dokter banyak tanya, kita gak curhat malah disuruh untuk curhat tentang penyakit yang diderita. Orangnya suka mendengarkan dengan serius, sesekali diselingi dengan canda. Pokoknya dokternya asiklah kalo mau konsul. Mungkin karena keramahan dan biaya konsul murah maka pasiennya bejibun. Dari jam delapan pagi sampai jam lima sore pasiennya gak putus-putus. Umur beliau sekitar 60-an dan lelaki.

    Saya berpikiran karena keramahan salah satu kelebihannya maka dia laris.

    Like

    1. betul pak Alris, kalau dokter ramah dan tulus pasti banyak peminatnya. tapi dokter yang tak ramah juga banyak peminatnya gara2 nggak ada dokter lain yang bisa dijadikan pilihan 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s