Ojek Payung

Sial. Aku lupa bawa pakaian dalam.

Pantesan tadi ada perasaan kurang enak sebelum meninggalkan rumah. Padahal koper udah bolak-balik kubuka tutup sebelum berangkat, memastikan tak ada barang yang tinggal. Masak besok pakai kolor bekas? Ih.. amit-amit….

Tak ada opsi lain. Aku harus membelinya malam ini juga. Walaupun itu berarti aku harus berjalan kaki menembus derasnya hujan. Brrr….

Duaaaarr! Suara halilintar menggelegar menciutkan nyali.

Hujannya serius ternyata.

Manusia memang nggak ada apa-apanya kalau alam sudah berbicara.

Di ujung bangunan berkumpul beberapa anak yang sepertinya adalah ojek payung.

“Ojek payung, dek?” tanyaku memastikan.

Anak-anak itu mengangguk.

Ah syukurlah, sehingga aku tak perlu menggunakan payung kecil rapuh yang selalu kutenteng dalam tas.

“Bisa tolong antar ke sana?” tunjukku ke arah toserba di seberang jalan.

Mereka mengangguk lagi.

“Berapa?”

“Terserah aja….” jawab salah satu dari mereka.

“Ceban aja…” sahut seseorang dari belakang. Tapi payungnya tak cukup kuat melewati hujan yang deras. Dia pun mundur.

Muncul anak lain dengan payung yang nampaknya kokoh. Akhirnya anak inilah yang mengantarku.

Meski hujan belum lama turun, namun jalanan telah tergenang hingga semata kaki.

Luar biasa.

Dan kuperhatikan, si anak tak memakai alas kaki.

“Kenapa tak pakai sandal? Kalau ada paku atau kaca di jalan bisa luka kakimu…” tanyaku penasaran.

“Licin kalau pakai sandal, mbak… Nanti malah saya yang jatuh….” jawabnya lirih.

Bener juga sih… Kalau jatuh malah ribet jadinya…

Pulangnya, hujan masih juga lebat. Sekali lagi aku memutuskan memakai jasa ojek payung yang ditawarkan anak laki-laki yang berdiri di sudut toserba. Bukan anak yang tadi mengantarku.

“Udah berapa orang yang diantar, dek…?” tanyaku selagi kami berjalan.

“Baru satu, kak. Ini saya baru datang soale…”

“Lho… baru satu koq udah basah kuyup?”

“Iya… Tadi jalan ke sini nggak pakai payung…”

“Lho… kenapa? Nanti kamu malah sakit…”

Ia diam.

Sewaktu kami berjalan, seorang anak laki-laki yang kuduga juga ojek payung melewati kami sambil menenteng payung dalam kondisi menguncup alias tertutup. Sekujur tubuhnya basah.

“Kayak gitu tadi kamu datang?”

“Iya kak…..”

Kali ini giliranku yang diam.

“Kamu tinggal di mana?”

“Di bawah situ, kak… Tadi saya jalan kaki ke sini….”

 

 

 

Advertisements

10 comments

  1. Aku sering tak paham dengan adik-adik yang selalu mengucupkan payungnya dan memilih basah kuyub. Mungkin mereka memang ingin main hujan.

    Like

    1. iya mungkin mbak

      Like

  2. pas ujan banyak deh ojek payung

    Liked by 1 person

    1. iya Win

      Like

  3. “Manusia nggak ada apa-apanya kalau alam sudah berbicara.” Saya suka kalimat ini 🙂

    Liked by 1 person

    1. makasih udah baca Affan 🙂

      Liked by 1 person

  4. semoga adek2 ojek payung bisa sekolah 😦 suka kasian sm mrk

    Liked by 1 person

    1. semoga mbak Aiko 🙂

      Like

  5. kalau lihat mereka gitu jadi kangen waktu kecil main hujan. kelar basah langsung mandi. tapi mereka sudah hujan2an basah trus kering dibadan gitu, hikss kadang suka kasihan sich.

    Like

    1. iya, kering di badan itu yang bikin nggak sehat, kan?

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: