Takut yang Melumpuhkan

Saya pikir ending versi film akan berbeda dari ending versi buku yang ditulis Jojo Moyes dalam Me Before You. Karena kadang, film-film yang diadaptasi dari buku endingnya sering berbeda. Ternyata tidak untuk yang satu ini. Saya benci ketika seseorang memilih mengakhiri hidup ketimbang menjalaninya walau tak ada harapan akan sembuh sama sekali. Itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi memang, seseorang hanya bisa ditolong jika dia memang mau ditolong.

Saya jadi teringat kepada seorang perempuan yang menggunakan tongkat yang siang hari itu berdiri di persimpangan jalan dan hendak menyeberang. Dari sebelah kanan, seseorang berjalan mendekati perempuan bertongkat itu. Saya pikir dia hendak membantu menyeberangkan si perempuan. Ternyata tidak. Ia cuma mematung di sebelah si perempuan hingga akhirnya seorang pemuda datang menyeberang dan menuntun perempuan bertongkat itu ke seberang jalan.

“Kenapa kamu diam saja tadi?” tanya saya begitu dia berteduh di bawah pohon dengan wajah muram.

“Sebenarnya saya ingin menuntunnya begitu tiba di sebelahnya tadi, tapi saya takut. Saya takut kalau-kalau dia akan menghalau saya karena sudah terlalu banyak penolakan yang saya alami, sehingga saya ragu untuk menyeberangkannya tadi…” jelasnya.

“Ada begitu banyak orang yang hidup dalam kubangan kesulitan namun tak bersedia ditolong…” tambahnya.

“Tapi perempuan tadi memang memiliki masalah di penglihatannya lho… Jadi tak mungkin dia tak mau ditolong…”

“Entahlah…. Dari mana kamu tahu kalau dia memang mau ditolong?”

“Begini saja, lain kali kalau kamu merasa ragu, bertanyalah lebih dahulu apakah orang tersebut mau dibantu menyeberang atau tidak. Setuju?”

“Saya pikir itu ide yang bagus…” jawabnya. Wajahnya tampak cerah sekarang.

Terkadang ketakutan dapat melumpuhkan kita. Saking takutnya, bahkan untuk melangkah saja kita enggan.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “Takut yang Melumpuhkan

  1. Saya pendengar podcast ‘The Specialist’, waktu itu bintang tamunya tunanetra Dan dari perspektif tunanetra, mereka malah nggak suka kalau ada yang tiba-tiba megang tangannya, terus di tuntun ke jalan yang bukan mereka mau. Waktu dituntun, dimensi mereka bisa-bisa hilang, jangan remehkan mereka, mereka tau jauh dekat, sebelah-sebelahnya, dari rangsangan yang lain, suara, aroma. Ya paling bener, harusnya kita tanya dulu, kalau sama tunanetra. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s