Khotbah Hari Minggu

Setelah bertahun-tahun tak menginjakkan kaki di gereja, hari Minggu, Joni merasa terpanggil menghadiri kebaktian siang yang ditujukan bagi orang dewasa. Namun, hari itu pendeta di mimbar bukannya berkhotbah tentang anak yang hilang yang meminta seluruh bagian warisannya kemudian pergi merantau dan berfoya-foya. Melainkan tentang minuman keras yang disebut pendeta sebagai kencingnya iblis, dan rokok sebagai ludahnya iblis.

Merasa khotbah Pak Pendeta terlampau keras ‘menampar’ dirinya, alhasil, hari Minggu berikutnya ia tak kembali lagi. Dan ternyata bukan Joni seorang yang merasa khotbah Pak Pendeta terlalu keras. Hampir seluruh jemaat yang hadir saat itu merasa demikian. Sehingga hari Minggu berikutnya, gedung tempat kebaktian itu nyaris kosong.

Pak Pendeta pun heran.

“Di mana semua orang?” ia bertanya kepada seorang pria yang duduk di bangku tengah.

“Kabarnya mereka enggan datang karena khotbah Bapak minggu lalu….” jawab pria itu.

“Memangnya kenapa dengan khotbah saya?”

“Mereka bilang, khotbah Bapak terlalu keras….”

“Terlalu keras bagaimana? Saya hanya menyampaikan kebenaran.”

“Ya… Betul memang Bapak menyampaikan kebenaran. Tapi nampaknya kebenaran yang Bapak sampaikan terlalu keras….”

“Lantas harus bagaimana lagi saya menyampaikannya? Kenyataannya memang seperti itu. Paru-paru adik saya habis karena rokok. Sekarang, jandanya kecanduan minuman keras karena tak bisa menerima kenyataan kalau suaminya sudah meninggal.”

Si pria berpikir sejenak.

“Mungkin… kalau Bapak mengganti kata ludah menjadi saliva, iblis menjadi penggoda, dan kencing menjadi air seni, khotbahnya akan terdengar lebih lembut di telinga jemaat, Pak. Dan mungkin… suara Bapak juga bisa disetel supaya tidak terlalu menggelegar gitu….?” sarannya, sedikit ragu.

“Ah, kamu ada-ada saja! Apa bedanya? Toh cuma mensubstitusi istilah. Lagipula, memang seperti inilah saya adanya. Kalau mereka mau mendengar yang lembut-lembut, ya jangan dengar khotbah. Nonton film saja di bioskop.”

“Yaa… sebagai jemaat yang peduli, saya kan cuma ngasih saran, Pak… Saya kuatir, kalau gaya berkhotbah Bapak tidak berubah, jemaat akan semakin banyak yang pindah ke gereja sebelah…..”

Kali ini Pak Pendeta tampak meragu. Dalam hati ia berpikir ada benarnya juga yang disampaikan oleh si pemuda. Menurut data, dari minggu ke minggu, jemaat memang semakin berkurang. Kalau keadaan seperti ini terus, gerejanya bisa kolaps karena tak ada pemasukan dana lagi untuk menopang biaya operasional.

Mungkin memang harus ada yang berubah. Pikir Pak Pendeta.

“Lalu kamu… kenapa masih datang hari ini? Kenapa tak ikut pergi seperti jemaat yang lain?” selidik Pak Pendeta.

“Oh, saya tidak ada masalah dengan khotbah Bapak. Saya siswa teologi tingkat dua yang sedang mempelajari berbagai gaya berkhotbah, Pak…” jelasnya.

“I see ……”

Mungkin memang harus ada yang berubah. Pikir Pak Pendeta, lagi.

“Anak muda…. Bagaimana kalau mulai minggu depan, kamu saja yang berkhotbah di mimbar?”

Mata si pria membesar. Kaget. Tak percaya akan pendengarannya.

Perlahan, ia bangkit dari tempatnya duduk dan melangkah mendekati Bapak Pendeta.

“Saya berkhotbah? Bapak yakin?”

“Tentu. Nampaknya kamu sangat memahami dan bisa membaca apa yang diinginkan jemaat. Jadi kenapa tidak?”

Meski saya belum berpengalaman, barangkali tak ada salahnya mencoba. Pikir si pria.

“Baiklah, Pak. Saya bersedia. Tapi sebelumnya, bagaimana kalau kita berjabat tangan untuk mengesahkan?”

“Tentu, tentu! Saya senang masih ada anak muda yang peduli kepada gerejanya…” ujar Pak Pendeta.

Mereka pun berjabat tangan.

“Oya, namamu siapa?”

“Venom, Pak.”

Pak Pendeta mengernyit.

“Venom? Racun? Nama macam apa itu?”

“Ya begitulah, Pak. Saya juga enggak ngerti kenapa orangtua memberi saya nama Venom.”

“Orangtuamu jemaat di gereja ini?”

“Ya…”

“Namanya?”

“Yang hari Minggu lalu Bapak sebut-sebut di sepanjang khotbah….”

 

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Khotbah Hari Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s