The Girl on The Train

Kereta menuju Bandung baru saja meninggalkan stasiun Gambir. Penumpang penuh. Saya dan suami duduk di bangku kedua dalam gerbong pertama. Pemandangan silih berganti di jendela kereta, rasanya seperti rekaman percakapan kami beberapa minggu yang lalu.

“Gimana kalau kita liburan di Jakarta aja, bang? Aku koq udah malas ya jalan-jalan…?ย ๐Ÿ˜… Atau barangkali ada ide lain? Apa kita ke Bandung aja?”

“Kemarin-kemarin minta jalan-jalan ๐Ÿ˜›” balasnya.

Sebenernya saya tidak minta, tapi doi yang ngajak. Saya seperti biasa (kalo denger kata ‘jalan-jalan’ XD langsung senyam-senyum enggak jelas kayak dapat grandprize. XD Dan berbagai rencana perjalanan pun muncul di benak saya.

Jakarta-Malang naik kereta adalah rencana pertama. Tapi kemudian muncul berita yang mengatakan bahwa gunung Bromo mengeluarkan asap. Padahal kami (tepatnya saya XD ) pengen lihat Bromo. Ini impian dari tahun jebot soale. XD Kami tak mau dong liburan terganggu gara-gara asap. Maka dengan sangat terpaksa, gugurlah rencana pertama, dan muncullah ‘kesadaran baru’ bahwa…. “Keknya kemarin itu emosi sesaat aja, bang… ๐Ÿ˜… Kalo dikaji ulang, kegiatannya muter-muter itu doang: jalan-jalan lihat landmark, lihat tempat hiburan yang lagi hip, lihat reruntuhan, nyicip kuliner setempat, lihat budaya lokal, berburu oleh-oleh, and that’s it.”

Saya pengen acara jalan-jalan yang lebih bermakna (duileeh istilahnya ya XD ), seperti mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 26-30 Oktober 2016 nanti, misalnya. Adakah dari kalian wahai para pembaca budiman yang akan pergi ke Ubud?

Mungkin saya hanya dilanda bosan dan jenuh dengan acara jalan-jalan yang hanya seperti ini. Tapi lha namanya jalan-jalan, ya kegiatannya emang seperti yang saya sebutkan di atas tadi, kan?

Hukum ekonomi berkata bahwa kebutuhan yang terus menerus dipenuhi, akhirnya akan tiba di titik jenuh. Bener banget. Jadi keknya saya sedang dilanda jenuh jalan-jalan. XD XD XD (mesti konsultasi sama mbak Fe keknya nih, apa rahasia supaya tak bosan jalan-jalan XD )

Kereta terus melaju. Barangkali saya juga kurang bersyukur masih bisa jalan-jalan, atau memang kebutuhan hidup yang berubah?

(tapi itu beberapa minggu yang lalu. kalo sekarang diajak ke Cina mah, tentu saya nggak nolak XD )

Langsung Konek

Kawasan Braga menjadi tempat pertama yang kami jelajahi begitu tiba di tanah Pasundan. Awalnya, Jalan Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik karena cukup rawan. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan, terutama berkebangsaan Belanda, mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan ini.

Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik pakaian yang mengambil model di kota Paris, Prancis, yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan warga Bandung (khususnya kalangan tuan-tuan hartawan), Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran, dll, di beberapa blok di sekitar jalan ini, juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan Braga.

Kami memilih nongkrong di Warunk Upnormal, warung yang kayaknya paling hip di daerah Braga. Nama makanannya lucu-lucu. Coba simak: Nasi Tanggal Tua…ย  yang berisi dua telor ceplok serta nasi putih dan pilihan sambal matah atau rawit. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

“Password wifinya apa mas?” tanya kami ke mas-mas pelayan pas dia ngantar pesanan kami.

“Langsung konek…” katanya cepat.

“Langsung konek? Wih… canggih juga nih warung punya wifi langsung konek…” ujar saya tanpa pretensi.

“Ya… langsung konek… huruf kecil semua dan disambung…” kata si mas pelayan, lagi.

Saya dan suami bertukar pandang penuh arti.

Setelah ia pergi, kami tertawa terbahak sampai pipi dan perut saya sakit. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Rupanya yang ia maksud dengan ‘langsung konek’ adalah password wifi. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Lalu suami memasukkan password dan gagal. Ternyata password yang doi masukkan adalah: langsungconnect. Tentu saja gagal.

Pada percobaan kedua baru deh sukses. Bener-bener ejaannya dalam bahasa Indonesia: l.a.n.g.s.u.n.g.k.o.n.e.k

Ampuuun… Bener-bener dah ini warung kekinian ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Lagu-lagu yang diputar pun lagu kekinian, dengan volume super kencang. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Saya yakin, kalo orangtua saya datang ke warung ini, keknya lima menit bakal langsung cabut deh. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Soale semua istilah yang dipakai dan auranya itu bener-bener kekinian dan anak muda banget. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Saya dan suami memang masih muda sih. Tapi warung yang satu ini bener-bener muda banget. Hahahhh… ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Kalo warung ini menyasar anak-anak muda, mereka sudah pasti sukses, karena mereka berbicara dalam bahasa anak-anak muda.

“If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart,” kata Nelson Mandela. ๐Ÿ˜„

Dan ada satu lagi yang bikin saya ketawa ngakak. Di dinding dekat tempat kami duduk, ada satu quote yang dipajang yang bunyinya begini:

“JIKA PINDAH MEJA HARAP INFOKAN KE WAITER. JIKA PINDAH HATI INFOKAN KE MANTAN”

#eaaaaaa banget nggak sih? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Pokoknya kalo kamu berjiwa muda dan suka lucu-lucuan, mampir aja ke warung ini kalo main-main ke Bandung. Dijamin bikin heppi dan panjang umur sepulang dari sana. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Sampai Tengah Malam

Pria bertopi itu melambai-lambaikan tangannya sambil meneriakkan sesuatu ketika saya berjalan melewati lapangan berumput hijau di alun-alun. Karena enggak ngerti maksudnya apa dan enggak yakin kalau ia memang melambaikan tangan kepada saya, maka saya pun cuek dan terus berjalan ke arahnya.

โ€œBapak tadi manggil saya? Ada apa, pak?โ€ tanya saya begitu tiba di dekatnya.

โ€œSandalnya harus dilepas kalo jalan di rumput nengโ€ฆ Itu rumput sintetisโ€ฆโ€

โ€œOooโ€ฆ gituโ€ฆ Maap, pak, saya nggak tauโ€ฆ Soale di sana enggak ada pengumuman harus melepas sepatu atau sandalโ€ฆ.โ€ tunjuk saya ke arah kemunculan saya tadi.

โ€œOke.. oke.. Gak papa nengโ€ฆ.โ€ jawab si bapak yang memegang beberapa tongsis. Kemungkinan besar beliau jualan tongsis.

โ€œLapangan ini katanya bagus kalo dilihat dari atas ya, pak? Caranya gimana, pak?โ€

โ€œDari menara nengโ€ฆ Tapi sekarang belum bukaโ€ฆ Bentar lagi, jam 11โ€ฆโ€

Saya mengecek jam tangan.

โ€œDi menara sebelah juga bisaโ€ฆโ€ tambahnya lagi sambil menunjuk ke arah menara di sebelah kanan.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

โ€œBiaya tiket masuk berapa, pak?โ€

โ€œLima ribuโ€ฆ Tapi kalo hari biasa kayak sekarang dua ribuโ€ฆ Kalo weekend lima ribuโ€ฆ.โ€ jelasnya.

โ€œOke deh, pakโ€ฆ Makasih banyakโ€ฆ Saya pamit duluโ€ฆ Sukses buat tongsisnya!โ€

Saya pun beranjak dari hadapannya, mencari tempat persembunyian dari sengat matahari, di balik salah satu pilar berisi tanaman. Tapi belum lama bersembunyi, perut tiba-tiba mulas. Mungkin gara-gara pepaya yang saya makan di hotel tadi. Saya pun mencari papan penunjuk toilet terdekat dan berjalan ke arahnya.

Di seberang, mesjid tampak ramai oleh pengunjung perempuan berpakaian hitam-hitam menyelubungi tubuh, yang mengingatkan saya pada perempuan-perempuan Oman yang mengenakan abaya di ruang publik.

(Gapura ini mengingatkan saya pada arsitektur salah satu foto bangunan di Iran yang diunggah mbak Fe dalam foto-foto perjalanannya ke negeri Persia itu. Kalo penasaran, silahkan cek instagram doi. Belum bisa ke Iran, ke Mesjid Raya Bandung dulu deh ya.. sungkem ke mbak Fe… kali aja habis sungkem trus diajak ke Iran lagi.. Hahahh..)

โ€œRombongan dari mana, pak?โ€ Tanya saya kepada pria yang sedang menyirami tanaman. โ€œPengajianโ€ฆ Pengajian rutinโ€ฆโ€ jawabnya sambil terus menyiram.

โ€œOooโ€ฆ..Oke, pak, makasih buat jawabannya. Selamat menyiram!โ€ Saya pun berlalu dari hadapannya menuju toilet yang berada di bawah tanah.

Di toilet, saya rupanya lumayan lama hingga membuat seseorang merasa perlu untuk mengetuk pintu.

โ€œYa ampunโ€ฆ Kayak nggak pernah sakit perut aja nih yang ngetukโ€ฆ. Sabar, bu… (karena ini toilet khusus perempuan, tentunya yang mengetuk perempuan dong, kan?)โ€ saya membatin.

Akhirnya saya kelar dan pintu saya buka. Kelihatanlah seorang perempuan berpakaian hitam-hitam menyambut saya dengan senyum yang membuat kedua ujung matanya berkerut menyerupai cakar (pinjam istilahnya mbak Noni ๐Ÿ˜๐Ÿ˜). Mau tak mau saya sambut juga senyumannya. Takut juga saya gara-gara tak senyum, nanti malah tak dapat foto keren dari menaraโ€ฆ. Lagipula, senyum adalah ibadah kata pak Ridwan Kamilโ€ฆ.

Sekembalinya ke permukaan tanah, saya menelusuri area mesjid dan membuka sandal. Karena sepertinya pengunjung harus melepaskan alas kaki jika hendak masuk ke dalam. Sandal atau sepatu bisa disimpan di tempat penitipan dengan membayar seikhlasnya.

โ€œPak, saya mau ke menara, tiketnya beli di mana?โ€ tanya saya kepada bapak penjaga tempat penitipan. Ia menunjuk ke arah pria yang duduk di dekat lift. โ€œBeli tiketnya di situ,โ€ katanya.

Setelah selesai urusan dengan bapak penitipan, saya pun segera mendekati mas-mas yang duduk di balik meja di dekat lift dan membayar tiket sebesar lima ribu rupiah. (jadi kalo hari biasa tetap lima ribu, bukan dua ribu, seperti yang disebutkan oleh bapak tongsis tadi)

โ€œBerapa lama bisa melihat-lihat di atas?โ€

โ€œBebas buโ€ฆ.โ€

โ€œSampai tengah malam bisa?โ€ tanya saya. Tentu saja saya bercanda. Dia pun tertawa. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Sesampainya di atas, saya sendirian aja dong. Serasa milik sendiri deh itu menara, dan serasa penguasa Bandung yang sedang mengamati kegiatan rakyatnya dari singgasanaโ€ฆ (halah mes mesโ€ฆ kebanyakan nonton pilem emang loโ€ฆ)

Untunglah tadi saya senyum sama si ibu yang mengetuk pintu di toilet. Bandung cakep euy dari atas sini.

Bandung dan alun-alun dari atas menara

Dan entah kenapa, saya pun senyum-senyum melulu sepanjang turun di dalam lift. Kayaknya ungkapan dari M.A.W. Brouwer yang diabadikan di tembok Jalan Asia Afrika ini memang tak berlebihan:

Sebagaimana saya akhirnya tahu (atau sok tahu) rahasia di balik berkurangnya bobot tubuh sodara saya di Vietnam, maka kali ini pun, saya akhirnya paham, atau setidaknya mengerti (apa bedanya sih? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) mengapa orang Bandung dan sekitarnya kreatif-kreatif.

Dikelilingi pegunungan, udara sejuk walau matahari terik, barangkali inilah yang membuat pikiran senantiasa jernih dan tenang, memicu ide-ide bermunculan, hingga membuat seorang Pidi Baiq (seniman yang punya banyak kelebihan, juga penulis buku Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Marmut, Al-Asbun, At-Twitter, dlst) mengatakan:

Apa saya pindah ke Bandung aja ya? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Kalo enggak, ya pokoknya pindah ke daerah Jawa Barat dan sekitarnya dehโ€ฆ Misalnya ke Lembang, gituโ€ฆ? Saya yakin, berlama-lama di Lembang Floating Market atau di Farmhouse Lembang enggak bakalan bosanโ€ฆ ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Apalagi kemaren saya dikirimi foto-foto cantik gunung Papandayan di Garut, oleh adik saya yang baru saja โ€˜menaklukkanโ€™-nya.

โ€œKalo ke gunung Papandayan jauh nggak, mas?โ€ tanya saya kepada mas Arif, sopir Uber yang kami pakai dari Bandung ke Farmhouse Lembang.

โ€œSekitar tiga jam, buโ€ฆ.โ€

Hmmm… Tiga jam kalo jalanan mulus mah enggak apa-apa lah yaโ€ฆ.? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

***

 

Tips jalan-jalan ke Bandung dan sekitarnya:

  • Kalo naik kereta dari Jakarta-Bandung berangkat pagi sekitar jam delapan, ambil tempat duduk di sebelah kiri dan bersebelahan dengan jendela supaya leluasa melihat pemandangan.
  • Kalo naik kereta dari Bandung-Jakarta berangkat pagi sekitar jam delapan, ambil tempat duduk di sebelah kanan dan bersebelahan dengan jendela supaya leluasa melihat pemandangan.
  • Kalo mau muter-muter pakai Uber aja. Kemarin kami udah puas ke mana-mana tarifnya sangat bersahabat. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
  • Tidak disarankan ke Bandung pas weekend. (nggak weekend aja rame dan macet, apalagi kalo weekend)

  • Kalaupun tetap pengen ke Bandung pas weekend, supaya enggak terjebak macet, lebih baik jalan kaki jika tempat yang kamu tuju tidak terlalu jauh atau katakanlah, sekitar dua kilometer dari penginapan. Lagipula banyak yang bisa dilihat di sepanjang jalan dengan berjalan kaki.

 

  • Hati-hati kalo menyeberang. Di sebagian besar ruas jalan, jalanan dibikin satu arah (katanya ini kebijakan pemerintah untuk mengurangi macet) dan tidak terdapat lampu lalu lintas. Padahal lampu ini menolong banget untuk pejalan kaki. Jujur saya dag dig dug tiap menyeberang. Jalannya rame banget bok.
  • Kalo mau ke Farmhouse Lembang dan Lembang Floating Market, pastikan memori kamera penuh kalau tak mau ada penyesalan di kemudian hari. Entah kamera apa pun yang kamu pakai (mau pakai DSLR, mirrorless, atau kek saya yang cukup pake kamera henpon) pokoknya pastikan penuh. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Karena kedua tempat ini… tiap sudutnya layak diabadikan. I mean it. Setiap sudut. Toiletnya aja seakan berteriak minta difoto. Eyegasm pangkat seratus pokoknya. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Cek aja foto-foto di bawah ini:

 

P.S: kalo nantinya tips yang dua pertama di atas ternyata pada prakteknya terbalik, dan persawahan telah berubah menjadi mall, hotel, vila, perumahan, atau resor, mohon saya dimaapkan ya kawans. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

 

 

*’The Girl on The Train’ minjem judul buku Paula Hawkins.

 

Advertisements

8 thoughts on “The Girl on The Train

    1. “sering jalan-jalan di tempat yang berbeda tapi suasana sama itu rasanya kayak jadi rutinitas ya…”<— sepertinya ini tergantung suasana hati si traveler juga ya mbak XD kalo emang hatinya lagi jenuh, mau sebagus apa pun tempat yang dikunjungi, bakalan nggak ada bagus2nya di mata si traveler. tapi kalo suasana hati sedang bagus, entah kayak apa pun keadaan di tempat yang dikunjungi itu, kemungkinan besar bakalan bagus di mata si traveler. XD seperti yang pernah saya tulis di sini: "dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri." https://h0tchocolate.com/2015/09/13/antara-taylor-swift-ahok-dan-mulut-buaya/

      Like

  1. itu soal yang password ada juga saya baca di blog lain. pas dia tanya password wifi, dijawab sama pelayannya “jangan tanya saya”. langsung gondok dong pas dengarnya. eh ternyata passwordnya “jangantanyasaya”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s