Apa Ini?

“Nanti kita ketemu di depan sini saja ya. Kalian belilah yang perlu dibeli,” ujar saya kepada adik yang baru tiba di Balikpapan. Dari bandara, kami mampir di minimarket.

“Kakak nggak belanja?”

“Nggak.”

“Kalau gitu kami titip si bayi, ya?”

“Oke. Apa dia senang jalan-jalan?” tanya saya melirik si bayi yang duduk manis di dalam kereta dorong.

“Ya.”

Bagus. Pikir saya. Sebagaimana halnya namboru (bahasa Batak, sebutan untuk saudara perempuan dari bapak), begitu jugalah ternyata si ponakan. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. XD Kami pun segera memulai petualangan kami di lorong-lorong minimarket.

Apa ini? Tunjuknya ketika kami melewati tumpukan talenan, garam, wadah plastik, permen, tahu, sayur… Pokoknya semua benda yang kami lewati di tiap lorong tak luput dari pertanyaan, “apa ini?”

Tiap kali saya memberitahu nama benda yang ia tanya, ia menirukannya dengan pelafalan yang sudah tentu belum pas benar. Itu membuat saya makin gemes kepada ponakan tersayang. Hihi XD XD

Dan tiap kali kami melewati lorong yang memiliki mesin pendingin udara, ia terlihat senang. Belakangan saya diberitahu ibunya, adik ipar saya, bahwa si bayi suka duduk di depan pintu kulkas yang terbuka. 😂😂😂

Dalam perjalanan ke bandara tadi, saya bertekad untuk tidak menggunakan suara default mode saat bertemu dengan keponakan tersayang. Maksud saya default mode adalah: suara kenceng macam pakai TOA. (Ini udah nggak bisa ditawar lagi keknya. Emang volume suara udah kenceng dari sononya)

Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, ketika kami mudik mengunjungi orangtua, si bayi mengalami kejadian tak mengenakkan sewaktu mendengar bapak saya berbicara dengan ibu saya dengan volume suara tinggi. Ia pikir bapak saya marah kepada ibu. Padahal tidak. Seperti yang sudah saya bilang tadi, memang sudah dari sononya suara kami volumenya kenceng. Batak banget.

Si bayi kaget. Kalau saya tak salah, ia sampai menangis. Dan ternyata ia ingat kejadian itu. Sehingga tiap kali bapak saya mencoba menggendongnya, si bayi tak mau. Dia ingat kepada wajah dan perilaku bapak. Padahal saat itu usianya baru 15 bulan.

Beberapa hari kemudian, barulah dia mau digendong bapak saya, ompung doli-nya (bahasa Batak untuk kakek/opa/grandpa/eyang kakung). Mungkin karena memorinya belum berjalan sempurna atau memang karena dia sudah memaafkan.

Tapi tekad tinggal tekad. Begitu bertemu adik saya, lupa semua protokol yang sudah saya rancang dalam kepala. Karena bagi saya, meskipun telah berkeluarga, dia tetaplah adik saya, teman berantem di masa kecil. Yang paling tahu baik buruk satu sama lain. 😁😁

Kakak beradik boleh-boleh saja berselisih paham atau tak sependapat dalam beberapa hal. Tapi janganlah kiranya hal tersebut memutus tali persaudaraan. Lantas kami pun ber-aku-kau dengan volume kenceng, just like the old times. 😁😁😁

Di dalam mobil, saya kemudian sadar bahwasanya telah melanggar tekad dan melirik ke belakang. Ponakan saya itu terlihat anteng bersama ibunya.

Saya pun bertanya-tanya. Apakah pengalaman hidup selama setengah tahun telah mengubahnya sehingga dia tak menangis mendengar suara saya yang default mode itu? Mungkin jawabnya: ya. Barangkali dia telah belajar bahwa suara tinggi tidak selamanya berarti marah, atau barangkali dia ingat kepada wajah saya yang senantiasa berbuat baik kepadanya selama mudik dulu?

Salah satu kenalan saya bercerita bahwa ia pernah ditampari membabibuta oleh ibunya sewaktu menolak cokelat pemberian ibunya, yang kemungkinan besar dibeli sepulang kantor. Menurutnya, setelah lelah seharian di kantor, barangkali ibunya berharap anak perempuannya akan bahagia menerima hadiah yang telah susah payah dibelinya sepulang kantor. Tahunya tidak. Saat itu ia telah berusia di atas dua tahun.

“Saya sedih sekali waktu itu. Salah saya apa? Kalau saya nggak suka cokelat masak saya harus bilang suka? Mungkin saat itu saya pun lagi nggak mood makan cokelat,” katanya.

Dampaknya, dalam memorinya yang menurut dia lumayan tajam itu, telah tertanam bahwa jika dia menolak pemberian ibunya, dia bakal ditampari. Memori itu terbawa-bawa sampai sekarang. Default mode ibunya menurut dia adalah: tampar.

Sejak itu, ia melihat ibunya sebagai monster dan membencinya. Ia bahkan pernah bermimpi di sebelah kamarnya ada sumur yang dalam, dan ibunya adalah penyihir jahat penunggu sumur.

Mungkin itulah penyebab hubungan antara ia dan ibunya tak begitu harmonis.

Karena jiwa anak-anak yang bersih, suci, murni, serta belum terkontaminasi oleh intrik-intrik duniawi, mereka tahu koq siapa yang tulus mengasihinya dan siapa yang pamrih atau hitung-hitungan mengasihinya.

Kita baik sama si anak, kemungkinan besar si anak pun akan baik sama kita. Kita kejam sama si anak, kemungkinan besar dia menandai kita dalam ingatannya dan berhati-hati kepada kalian yang telah melukainya secara fisik dan batin. Gitu aja koq aturan mainnya.

Persis kayak kalo kita lagi ngaca di cermin. Enggak mungkin wajah orang lain atau wajah Miranda Kerr yang muncul di sana, kan? (Eh tapi kalo ada yang kek gini, saya mau dong pinjem cerminnya 😂😂😂)

What goes around comes around.

Maka sewaktu kamu hendak bertindak kejam kepada anak-anakmu, mohon diingat, mereka tidak pernah meminta didatangkan ke dunia ini. Kalau lagi badung, ya wajar, namanya anak-anak. Kalo si anak diam-diam saja pun, jangan-jangan kalian malah bingung juga. “Ini anak lagi kesurupan atau kenapa…?” pikirmu.

Jangan dikira gampang jadi anak kecil. Mereka harus pasrah menerima keputusan orang-orang dewasa di sekitarnya, yang sudah pasti akan memengaruhi jalan hidup mereka.

Contoh kecilnya seperti malam itu sewaktu kami akhirnya tiba di rumah setelah berkeliling. Adik ipar saya harus membawa turun berbagai macam barang. Saya pun menawarkan diri untuk menggendong si bayi ke rumah. Tapi ternyata si bayi tak mau. Dia ingin digendong ibunya. Lalu dia pun mulai menangis. Tangisnya bahkan semakin keras ketika saya mengambilnya dari lengan ibunya.

Sebagai bentuk protes/penolakan/perlawanan dari keputusan orang dewasa di sekitarnya itu, dia menggaruk lengan saya dengan segenap daya. Daya balita yang belum genap berumur dua tahun. Untunglah kukunya yang mungil itu pendek. Sehingga meskipun ada goresan, itu tak berarti apa-apa.

Sebenarnya bisa saja sih saya yang menawarkan diri membawa barang-barang, adik ipar yang menggendong si bayi. Tapi malam itu saya memang pengen menggendongnya. Gemes soale. XD XD (maafkan namboru ya) XD

Mungkin alasan si ibu menampari kenalan saya yang menolak coklat tadi adalah untuk mendisiplinkan putrinya. Tapi ya enggak usahlah pakai kekerasan. Udah bukan zamannya lagi mendisiplinkan anak dengan cara-cara seperti memasung, menampari, memukuli, membully, dlsb. Mendisiplinkan anak dengan kekerasan, kemungkinan hanya akan menjadikan anak menjadi pelaku kekerasan di masa depan.

Anak merekam semua perlakuan yang diterimanya itu dalam memorinya. Mereka mungkin tidak mengingatnya secara detil, but they probably will never forget how you made them feel.

Itu mungkin sebabnya kenapa jual beli bayi, adopsi, penculikan, dlst, dilakukan ketika usia si anak masih sangat muda. Karena kemampuannya untuk mengingat belum berjalan dengan baik.

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Apa Ini?

  1. Hahaha Andrew pas kecil juga sampe nangis kirain gw ama bokap berantem padahal emang kita ngomong nya begitu. Kenceng dan kayak ngotot Haha

    Like

  2. Perlakuan yang kita terima dimasa kecil begitu terpahat dalam. Saya masih ingat beberapa kejadian yang saya alami diwaktu umur masih lima atau enam tahun.
    Duh, tulisanmu Mes bikin nelongso.

    Like

    1. waduh maap kalo bikin nelongso pak Alris. maksud saya bikin tulisan ini supaya tidak ada lagi orangtua atau orang dewasa yang kejam sama anak2. karena akibatnya fatal sekali jika jiwa anak2 terguncang.

      Like

  3. Punya berapa keponakkan Mes ? 🙂

    Iya juga ya apa yang dilihat dan dirasa, biasanya kebawa terus, semacam trauma, mau anak kecil kek atau orang dewasa juga. Sedikit curcol, dulu gw punya lady boss di Jkt yang kerjaannya teriak2 mulu, gw kerja sama dia sekitar hampir 7 thn-an deh, dan kebayang gak sih Mess pas gw ngantor di Brussels, bulan2 pertama itu masih deg2an dan kebayang suara teriak2 boss lama padahal ruangan kantor sepi :-))

    Like

    1. karena kebiasaan diteriakin 7 tahun jadinya jiwa yang terguncang kebawa-bawa ya mbak 😀 aku setuju mbak, kemaren pas habis publish postingan ini, aku mikir lagi, keknya bukan cuma anak kecil deh, tapi orang dewasa juga. ntar kuedit dikit 😀 btw ponakanku satu mbak 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s