Apalah Arti Sebuah Nama

Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada beberapa tokoh penting di dunia ini, kemungkinan besar jawabnya: penting.

Kalo nggak penting, kenapa coba Elizabeth Woolridge Grant memilih menggunakan nama panggung Lana Del Rey daripada nama aslinya?

Atau kenapa J.K. Rowling memilih menggunakan nama pena Robert Galbraith saat ia menulis buku-buku yang ditujukan untuk pembaca dewasa sejak The Casual Vacancy hingga Career of Evil?

Atau kenapa Messi (kebetulan nama kami hampir mirip, dia berakhiran ‘i’ saya berakhiran ‘a’ XD ) kebakaran jenggot sewaktu namanya termasuk dalam daftar Panama Papers yang bikin heboh dunia persilatan beberapa waktu lalu?

Atau kenapa salah satu Restoran Steak ternama, setelah berpisah dengan partnernya, mereka tetap menggunakan nama Steak dengan pembeda: yang satu pake Steak Saya, yang satu lagi pake Steak Kamu?

Dan kenapa beberapa waktu yang lalu pak Bondan Winarno merasa perlu membuat pengumuman bahwa seseorang menggunakan nama beliau untuk membuka akun fesbuk?

Pastinya karena nama itu penting, jendral.

Oleh karenanya, saya pun kaget (nggak sampai kebakaran jenggot sih, karena emang nggak punya jenggot juga 😁) sewaktu melihat nama saya muncul dalam daftar yang memberi ulasan dalam buku Sabtu Bersama Bapak di Goodreads… Padahal sampai detik ini, sekali pun saya belum pernah membaca buku yang ditulis oleh Adhitya Mulya ini.

Hal yang sama bisa dialami oleh pelukis atau fotografer misalnya. Jika mereka sudah punya nama, foto jempol lagi mandi aja bisa jadi bertabur pujian… XD

Jadi nama itu memang memiliki kekuatan untuk ‘menjual’. Masih kurang bukti? Itu tas-tas buatan Bandung laku berat di pasaran berkat mencantol nama besar macam Gucci, Louis Vuitton, Dior, dlsb. Karena mereka tahu, begitu masyarakat mendengar nama-nama tersebut, kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Tapi coba tas-tas tersebut dinamai dengan Butet, Ucok, Parlaungan, Pariyem, Jamiletun, Pangihutan, Parbada…. Kemungkinan bakal lama lakunya… Karena masyarakat perlu diyakinkan terlebih dahulu bahwa kualitas produk dari nama-nama itu, pun tidak kalah dengan nama-nama yang sudah lama menguasai pasar.

Atau kalo orang denger nama Canon, di benaknya udah langsung yakin dengan kualitas yang bukan abal-abal. Karena berbicara soal nama, seringkali berbicara soal kesempurnaan. Itu makanya ada begitu banyak pihak yang tak suka jika nama mereka tercemar. Ingat kasus pencatutan nama presiden di kasus Freeport, kan?

Mungkin itu juga sebabnya kenapa banyak masyarakat yang kecewa ketika salah satu tokoh agama yang punya acara tetap di salah satu televisi nasional, berpoligami, citra sempurna nama beliau langsung lenyap. Saya termasuk yang kecewa. Tapi bukan kecewa dengan tindakan beliau yang berpoligami, melainkan karena dihentikannya acara beliau di televisi. Karena jujur saja, saya suka mendengar khotbah-khotbah beliau yang bagai embun penyejuk hati dan dibawakan dengan humor itu.

Tindakan-tindakan yang diambil seseorang dalam kehidupan pribadinya seringkali memengaruhi penilaian masyarakat terhadap kualitas karyanya. Padahal seringkali tak ada kaitan antara kehidupan pribadi seseorang dengan kualitas karyanya.

Mungkin memang sebaiknya masyarakat mulai belajar untuk tidak mencampuraduk kehidupan pribadi dengan kualitas karya seseorang.

Misalnya jika seorang penyanyi ternama yang karyanya sungguh amat memukau suatu hari mengaku bahwa dia pendukung LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) akankah kamu tetap menyukai karyanya setelah dia membuat pengakuan itu?

Atau misalnya begitu kamu tahu bahwa Si A yang notabene idola kamu dan karya-karyanya keren pisan, serta inisiator acara pengumpulan dana bagi masyarakat miskin adalah seorang gay atau lesbian, akankah pandangan kamu terhadapnya tetap positif?

Rachel Zoe, seorang stylist yang merambah menjadi perancang busana di Amerika sana juga menggunakan nama yang tidak begitu berbau Yahudi dalam berbisnis. Karena dia ragu orang akan mau menggunakan jasanya jika memakai namanya yang sangat Yahudi itu.

Kita di Indonesia juga pernah mengalami hal ini, di mana pemerintah yang berkuasa saat itu tidak membolehkan etnis tertentu menggunakan nama asli dan harus menggunakan nama yang berbau Indonesia. Padahal bisa jadi, nama itu adalah satu-satunya penghubung kepada masa lalunya.

Dalam hal pemberian visa pun pernah juga saya dengar kabar bahwasanya sulit mendapatkan visa negara tertentu bagi pemilik nama tertentu.

Jadi sejak zaman Ester dilarang oleh pamannya menggunakan nama asli Yahudinya yaitu Hadasa, dalam kontes pemilihan ratu di Persia (sekarang Iran) sekitar 2500 tahun yang lalu, hingga sekarang, di zaman yang dikenal dengan kata kunci ‘tak terbatas’ ini, rupanya kita masih dibelenggu oleh persoalan yang sama: nama. Berhubung dia tinggal di dalam masyarakat yang masih memiliki pandangan keliru dan negatif tentang Yahudi, terpaksa dia memakai nama lain.

Maka berbicara soal nama pun, bisa jadi berbicara soal topeng atau citra apa yang hendak kita sampaikan kepada publik.

Pernah juga seseorang merasa terperdaya di satu resto, gara-gara nama makanannya bernama panini bla bla bla, dan cappuccino, yang bila terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah: roti bakar pisang dan kopi susu….

“Yaelah, kirain apaan panini dan cappuccino… Ternyata roti bakar pisang kopi susu… Kalo gini mah gue juga bisa bikin tiap hari…” katanya, dengan nada setengah menyesal telah memesan duo panini dan cappuccino. XD XD XD

Dan saya juga pernah bikin riset abal-abal bahwa nama-nama berakhiran O, atau mengandung O dan berbau asing, paling digemari di Indonesia. Contohnya: Excelso, Zafferano, Povilo, Gepeto, Ecco, Toscano, Fabelio, Alfredo, Ronaldo, Mariano, Valentino, Magno, dlst.

Kalau menurut salah satu buku marketing yang pernah saya baca soal alasan mengapa nama-nama lokal kurang diminati, itu karena saat ini kita sedang berada dalam tahapan menyukai segala sesuatu yang berbau asing. (Jadi bukan karena doanya kurang kenceng sodara-sodara. 😅😅) Bisa jadi beberapa dekade nanti, nama-nama seperti Ucok, Butet dan beberapa yang telah saya singgung seperti di atas tadi, akan menjadi primadona di negeri ini.

***

Kembali ke soal nama saya dalam ulasan buku ‘Sabtu Bersama Bapak’ tadi. Untungnya ulasan yang ditulis oleh seseorang yang bernama sama dengan saya itu, bagus. Sehingga saya bisa bernapas lega. 😂😂

Bagaimana dengan kamu? Apa arti nama bagimu? Apa pertimbangan kamu memilih nama bagi bisnis/usaha, nama anak, nama panggilan buat pacar, atau mungkin nama untuk binatang peliharaan? Ayo cerita dong di kolom komentar. 😁 Dua cerita yang paling menarik bakalan dapet buku Fish Eye (Creative Storyteller) serta Secangkir Kopi dan Pencakar Langit.

Saya tunggu ceritanya sampai 29 Juli 2016. 😘

 

***

Updated August 1, 2016:

Selamat untuk Faraziyya dan IsmailHasan.
Mohon kirim: Nama Penerima, Alamat Pengiriman, Nomor Telepon dan Username yang digunakan, ke email: blogmessa@gmail.com dengan subject: artinamagiveaway

Thank you!

 

Advertisements

20 thoughts on “Apalah Arti Sebuah Nama

  1. Semua orang kira nama keluarga ku itu nama ngasal2an padahal betulan asli di akte kelahiran tertulis! hahahah.. Tapi aku juga gak mau pake blog yg sekarang dengan nama asli dulunya dengan alasan biar gak ditemukan sama orang2 di dunia nyata :p hhhahahah

    Like

  2. Ulasan menarik ini sempat disinggung sekilas di AADC2 ketika Mamed dan Mili mau memilih nama anak. Maunya nama yang ke Indonesiaan. Sebuah sindiran halus karena di Indonesia banyak banget yang sudah beralih menggunakan nama Barat atau nama Arab supaya lebih berkelas atau supaya namanya lebih indah. Padahal nama Indonesia tak kalah Indahnya.

    Sementara nama Indonesia sendiri terpinggirkan. Jadi kelas 2.

    Nanti kalau kami punya anak, kami sepakat menggunakan nama Irish dan nama Indonesia. Dengan catatan nama Irishnya harus bisa mudah dilafalkan.

    Like

  3. Jadi inget pernah bikin email dengan ID fha_apple (eh, ini ‘nama’ juga bukan ya?). Alasan bikin nama itu cuma gara-gara saat itu sedang interested banget sama Newton dan apelnya (ha!)

    Terus nama utk identifikasi diriku di dunia maya, aku pakai faraziyya. Yah ga jauh sih dari nama asli: Fauziyyah. Gara-gara pake nama faraziyya, sering dipanggil Fara (padahal mah biasa dipanggil Ziyy).

    Lalu nama faraziyya itu dapet dari mana? Lagi-lagi dipengaruhi sama kesukaan juga: kupu-kupu. Dulu saya tahu dari mana gitu, bahasa arab utk kupu-kupu itu: Farasyaa (moga ga keliru, atau kalau keliru, mohon dikoreksi). Wis, berhubung akhirannya mirip, jadilah itu nama beken Faraziyya yang saya pake hampir di semua sosmed yang saya punya.

    Like

  4. Nama adalah doa dan harapan baik bagi pemberinya. Bahkan dalam islam, salah satu hak anak yang wajib ditunaikan oleh orangtua adalah memberi nama yang baik. Sebegitu pentingkah nama? tentu saja, ia menjadi penanda, identitas diri seumur hidup bahkan hingga di akhirat nanti.

    Kalau untuk nama usaha, sebisa mungkin yang unik, khas dan mudah diingat. Bila perlu, diberi slogan atau tagline yang menarik. Namun tentu saja nama hanya merupakan kemasan, apa yang jauh lebih penting adalah isi dan kualitasnya. Bila kualitas bagus, orang pun akan terkenang dengan namanya 🙂

    Like

  5. Nama Ephraim kami ambil karena hamil pertama keguguran dan pas hamil Ephraim aku ngerasa aja ini anak cowok dan pas baca yg tentang nama Ephraim (anak Yusuf yang kedua, yang diperlakukan sebagai anak ‘pertama’ karena ompungnya si Yakub memberkatinya dengan tangan kanan yg seharusnya diterima Manashe anak pertama Yusuf, tapi Yakub berkeras memberikan berkat yg seharusnya buat anak sulung kepada Ephraim) itu pas banget menggambarkan bahwa meski Ephraim anak kedua yang di kandunganku tapi dia jadi anak pertama kami di dunia ini.
    Dan yes itu nama Yahudi banget yak

    Like

    1. *langsung ambil alkitab dan membaca sejarah Yakub 😀 * btw, thanks for sharing Ephraim’s story kak 🙂 ember kak, Ibrani bangets 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s