Rating is Not Everything

Lagi dan lagi, cuma mau bilang, bahwasanya jangan pernah mau percaya begitu saja dengan rating dan review/ulasan buku yang ditulis orang lain. Karena kalo percaya begitu saja dari ulasan orang lain, itu ibarat mengunyah permen karet bekas kunyahan orang.

Emang enak?

Kecuali kalo kamu suka dengan bekas kunyahan orang, ya silahkan saja. Saya mah ogah.

Sama aja misalnya pas kamu masuk ke komunitas baru dan kenalan dengan beberapa anggotanya. Lalu kamu diwanti-wanti untuk berhati-hati dengan anggota bernama A. Karena menurut mereka yang mewanti-wanti kamu itu, A bukanlah orang yang asik diajak berteman. Lantas kamu pun serta merta percaya dengan omongan mereka dan tidak pernah mau berusaha menjalin hubungan dengan si A tadi.

Padahal bisa jadi pengalaman kamu berteman dengan si A, bakalan berbeda dengan pengalaman mereka (yang mewanti-wanti kamu tadi) ketika berteman dengan A.

Itu sering terjadi.

Dan seringkali calon pembaca gagal menunaikan misinya membaca buku yang dia incar hanya karena mendapati rating atau ulasannya hancur.

Apalagi kalo yang ngasih rating atau yang nulis ulasan adalah mereka yang diminta untuk mengendorse buku tersebut. Kalo emang dia penyuka genre buku yang sedang dia ulas, serta suka dengan gaya bercerita si penulis, pastinya mudah saja dan ulasannya umumnya positif.

Tapi kalo dia bukan penyuka genre buku tersebut serta tidak cocok dengan gaya bercerita si penulis? Bisakah dia objektif tanpa harus ‘membunuh’ si buku hingga akhirnya tak satu pun calon pembaca mau membeli buku tersebut? Well, i bet it’s a tough one. Di satu sisi harus jujur kepada diri sendiri, di sisi lain harus profesional.

So please remember sewaktu kamu menyimak ulasan dan rating buku di Goodreads, Barnes & Noble, Google Books, atau entah di mana pun itu, formulanya bisa jadi seperti ini:

Ratingnya jatuh: bisa jadi emang yang baca bukan peminat genre buku yang lagi dibaca atau yang lagi diminta direview. Atau bisa jadi pembaca memang peminat genre buku tersebut, tapi tak suka dengan gaya bercerita si penulis.

Misalnya gini, kamu suka komik Donal Bebek tapi saya minta kamu baca novel N.H. Dini. Bisa-bisa melihat sampulnya saja kamu udah eneg duluan. Jadi mau sebagus apa pun ceritanya si novel itu, kamu enggak bakal suka dan bakal ngasih rating rendah karena memang bukan favoritmu.

Rating tinggi: bisa jadi emang pembaca yang ngasih rating suka dengan genre buku yang sedang dibaca, dan suka dengan gaya bercerita si penulis.

Rating sepi: mungkin penulis belum ‘punya nama’ dan fansnya masih sedikit. Tapi bukan berarti bukunya tak cocok buat kamu. arleen A

Ambil contoh buku yang ditulis oleh Arleen A ini. Udah lama sebenernya buku ini nangkring di rak buku perpustakaan. Tapi gara-gara covernya tak menggugah dan di bagian belakang buku ada embel-embel: NOVEL DEWASA serta ratingnya sepi di Goodreads, saya urung membaca. Hingga akhirnya kemarin saya iseng nyomot buku ini dengan perasaan enteng no expectation plus nothing to lose. And guess what? The book was awesome. For me it’s 5/5. Jadi jangan tertipu dengan embel-embel ‘Novel Dewasa’-nya. Itulah yang menahan saya selama ini mencomot buku tersebut, dan ternyata saya salah besar. Kalo kamu suka gaya penulisan narasi panjang dan berbau misteri, beli aja bukunya.

Rating rame: bisa jadi fans si penulis banyak. Sehingga membeli dan membaca buku-buku yang ditulis oleh penulis kesayangan udah menjadi semacam kewajiban. Tapi bukan berarti bukunya cocok buat kamu. Ini udah pernah saya bahas di Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya. Yakni mengenai buku salah satu blogger yang sewaktu saya beli udah masuk di cetakan ke-44.

Pengalaman yang kamu dapatkan sewaktu membacanya bisa jadi berbeda dengan pengalaman orang sebelumnya yang sudah membaca buku tersebut. Apalagi kalau orang pertama itu adalah mereka yang berpikiran sempit, dan tak mudah menerima hal baru.

So if right now you are interested or penasaran in any particular book, just buy it and read it and judge it from your very own eyes. If you like it, spread the news. And if you don’t, well, contact the author right away and privately through their email, or send direct message through their social media accounts, and tell them about which part that you don’t like.

Rating and review is not everything. Lagipula, bukankah lebih baik memeriksa faktanya di lapangan daripada sekadar ikut-ikutan atau latah? Dan lagi, “If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.” Begitulah kata Haruki Murakami.

Ulasan yang bagus atau jelek sangat subjektif jika memakai standar manusia. Bisa saja saya mengatakan bukunya bagus, tapi akan berbeda jika kamu yang melihatnya. Bisa saja saya mengatakan seseorang ramah-baik hati-tidak sombong-rajin menabung, tapi akan berbeda jika kamu yang melihatnya.

 

 

Advertisements

20 thoughts on “Rating is Not Everything

    • Messa says:

      kalo ada yang bilang bukunya bagus dan aku belum pernah baca, biasanya aku langsung sukses penasaran, Om Chris 😀 kadang buku itu sukses kubaca sampai selesai dan kadang ya cuma beberapa halaman doang karena nggak cocok. Ada buku rekomendasi kah, om?

      Like

  1. evy says:

    bener banget. bersyukurnya aku gak terlalu percaya sm review atau testimoni orang sebelum ngalamin (baca, tonton, denger) sendiri ya. tp skrg mmg aku selektif dlm memilih buku. terbatas hanya kepada penulis2x yg aku tau gaya penulisannya dan cocok sm aku. jd kecil kemungkinan utk kesel/nyesel setelah beli 🙂 . apalagi rating2xan. begh … gak pernah perhatiin itu sama sekali. krn pernah yg orang bilang bagus, aku bilang jelek abis. yg dibilang gak bagus, malah bagus banget buat aku. memang taste tiap orang beda-beda ya 🙂

    Like

    • Messa says:

      aku suka baca buku dari penulis yang berbeda-beda kak, supaya makin banyak mengenal gaya bercerita dan memperkaya kosa kata 😀 tapi memang kembali lagi ke selera kita masing2 😉 selamat membaca kak, ada buku rekomendasi nggak? #seriusNanya 😉

      Like

  2. aqied says:

    Baca buku atau nonton film lebih asik tanpa ekspektasi ya. Biasanya kalo ud selesai baca atau nonton saya baru googling atau caritau rating dan review review nya.

    Like

  3. sikiky says:

    iya setuju! selera bisa beda-beda.
    waktu sebuah novel yang sudah difilmkan dan -bakal tayang liburan lebaran ini – ramai di timeline, saya akhirnya ikutan baca. padahal ngga niat dari awal. yaa…ended up agak over rated buat saya walaupun teman-teman suka.
    pun hal yang sama waktu film AADC 2 tayang yang mana teman2x banyak yang nonton dua kali….
    saya malah nyaris tertidur. it’s just not my cup of tea (anymore)

    tapi ada juga buku yang saya suka pake banget (misal Milenium-nya Stieg Larson) semua novel beli, waktu tersedia sequelnya di Jakarta dikejar sampai negara tetatanga, temanku malah mgga gerak balik halaman bukunya sejaj pp.50

    hahahah selera beda-beda

    Like

    • Messa says:

      aku pun nggak ngefans sama AADC mbak XD yang AADC 1 cuma satu kali kutonton di tivi. itu Stieg Larsson yang trilogi Girl With Dragon Tattoo kan ya? aku belum pernah baca bukunya, soale dari sampulnya koq keknya agak seram gitu hahahh XD XD tapi keknya bakal kubaca nih kalo memang favoritnya mbak Kiky 😉 sukses bikin penasaran XD

      Like

        • Messa says:

          waaaah mau pindah ke mana mbaak? barusan gara2 saking penasarannya langsung kucari dan ketemu digital booknya dan kebetulan gretongan pulak tiga2nya XD XD tapi terima kasih untuk tawaran hibahnya mbak 😉

          Liked by 1 person

  4. sondangrp says:

    setujuuuu, segala sesuatu yang bergantung selera itu menurutku relatif. Jadi kalopun mau cari review, cari review dari orang yang emang satu selera sama kita atau pernah mereview satu hal dan kita setuju dengan reviewannya setelah menonton/membacanya langsung juga. Itupun gak jaminan, jadi yang paling aman emang baca sinopsis, perkirakan aja kita suka atau nggak lalu ya nonton atau baca

    Like

    • Messa says:

      betul kak, dengar ulasan dari seseorang yang satu selera sama kita pun belum jadi jaminan. sinopsis atau blurb yang pun belum jaminan juga kak XD beberapa kali suka meleset XD tapi emang sinopsis itulah keknya jalan terakhir kalo sampul dan ulasan atau rating tak meyakinkan XD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s