Dibawain, Kak?

Lelaki cungkring berkaos putih kumal dan bercelana pendek itu bertanya kepada Ares, begitu ia memasuki pasar.

“Nggak, dek,” jawab Ares cepat.

Ia berjalan terus, dan si anak kecil terus membuntuti.

“Dari tadi pagi belum ada yang dibawain, kak,” katanya lagi, dengan tampang sedih.

Masuk akal memang. Karena pasar memang sepi. Tak jelas apakah akibat melemahnya daya beli imbas dari PHK besar-besaran, atau karena manusia pada malas keluar rumah akibat hujan yang akhirnya turun setelah absen beberapa bulan.

“Kenapa kamu nggak sekolah?” hanya itu kalimat berikutnya yang bisa keluar dari mulut Ares.

Hening. Tak ada jawaban.

“Orangtuamu di mana?”

“Bapak saya sudah meninggal, ibu saya di Ambon. Saya di sini tinggal dengan tante saya. Itu dia… Yang jualan mangga di sebelah sana…” tunjuknya ke sudut pasar.

Ares menoleh ke si anak, menatap matanya, berusaha mencari keraguan di sana, namun tak ia temukan. Ia kemudian lanjut berjalan ke kios ikan.

Ini bukan pertama kalinya dia, atau anak-anak kecil lainnya, serta orang dewasa lainnya, menawarkan bantuan yang tentunya tidak gratis itu. Tapi berhubung ia (merasa) masih kuat, ia tak pernah menggunakan jasa angkut ini. Oh, ralat. Pernah satu kali. Ketika itu ia baru tiba di kota ini, serta penasaran dengan ‘servis’ yang tak pernah ada di pasar-pasar tradisional kota lain yang pernah ia singgahi.

Di kios ikan, anak itu masih setia menunggui. Bersama Ares, mereka memandangi abang tukang ikan beraksi dengan ahlinya membersihkan dan memotong ikan bersama pisaunya.

Tukang ikan: kakak mau telurnya, nggak?

Deg…

Ares: nggak…

Tukang ikan: enak lho digoreng…

Deg… Ikannya ditangkap pas lagi hamil…? Duh…

Ares: nggak…

Ares pun melihat abang tukang ikan mengeluarkan telur dari tubuh si ikan dengan lihainya.

Apa ikan-ikan yang sedang bertelur itu nggak bisa nggak ditangkap? Ia bergidik dan teringat kepada Nemo dalam Finding Nemo. Dari ribuan telur, cuma Nemo seekor yang selamat dari terjangan predator.

Apa karena alasan itu sebagian orang memilih tidak memakan ikan, daging, serta berbagai produk olahannya, dan memilih makan sayuran serta tumbuhan sebagai gantinya? Tapi bukankah sayuran pun makhluk hidup juga? Yang awalnya cuma benih, seiring waktu tumbuh besar menjadi tomat, bayam, wortel, dlsb..?

Dan jika diperhatikan, mereka yang sama sekali tak makan daging, telur, ikan, beserta olahannya ini, kulitnya cepat mengendur… Ah, entahlah… Bagaimana pun, ia harus menghormati pilihan orang-orang tersebut. Jika mereka percaya bahwa dengan cara itu bisa sehat, maka mereka akan sehat. What matters is what you believe.

Ia kemudian kembali memusatkan perhatian kepada si anak.

“Umurmu berapa, dek?”

“Sebelas…” jawabnya pelan, dengan mata yang masih memandangi tukang ikan beraksi.

Itu berarti, jika sekarang ia bersekolah, seharusnya dia duduk di kelas lima atau enam SD.

“Ah! Umurnya udah delapan belas tuh, kak! Nggak usah percaya!” seru lelaki yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah berada di dekat mereka, yang sore itu mengenakan kaos abu-abu tak berlengan.

“Anak ini sering nongkrong di kafe! Nggak usah percaya dengan omongannya…” ujarnya, lagi. Ares diam. Tak terpengaruh ucapannya.

“Sering nyabu juga!” tambahnya lagi. Mungkin karena Ares tak juga merespon, tak lama kemudian dia angkat kaki.

“Sampai di kelas berapa kamu terakhir sekolah?” tanya Ares lagi, menyambung percakapan yang tadi terputus.

“Kelas dua SD.”

Tepat saat itu ikan pesanannya kelar dibersihkan. Karena Ares nampaknya kekeh nggak bakal menggunakan jasa angkut si anak, dengan lunglai ia meninggalkan Ares.

Di persimpangan pasar, Ares melihat seorang perempuan memberi sejumlah uang kepada anak itu.

“Mengapa kau memberinya uang tapi menolak belanjaanmu dibawa?” tanya Ares kepada perempuan yang kini langkahnya sejajar dengan Ares itu.

Perempuan itu tak menjawab.

“Bukankah kau sama saja mengajari anak itu untuk menerima uang instan? Sejak dini anak harus diajari bahwa tak ada yang gratis di dunia yang keras ini. Orang miskin dan orang bermental miskin akan selalu ada di dunia ini.”

“Ya, dan kau salah satunya yang bermental miskin. Karena pemikiran sepertimu itulah makanya orang miskin selalu ada,” katanya, tiba-tiba.

“Kalo hari raya kau pernah disangu orangtua, om, atau tantemu, nggak?” tanya si perempuan.

“Pernah.”

“Nah, anggap saja ini hari raya dan kau ngasih angpau ke mereka. Untuk apa kita berdebat soal prinsip benar atau salah, tapi di ujung hari anak ini tetap kelaparan karena tak ada uang untuk membeli makanan? Bukankah lebih baik jika sekarang kau berikan uangmu agar dia bisa makan, atau kau ajak dia makan di warung sana? Inilah bentuk kepedulianku. Kalau kau punya cara lain, silahkan saja. Ini uang milikku dan aku bebas menggunakannya semauku. Apa barangkali kau iri karena aku bermurah hati?” katanya sambil berlalu, meninggalkan Ares yang terbengong-bengong.

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Dibawain, Kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s