Pasir Putih

Mumpung udah nyampe di Parbaba, kami memutuskan mampir di objek wisata yang lagi hits di sana: pasir putih. Supaya tuntas rasa penasaran dan tak ada penyesalan di kemudian hari. 😀

Masuk dari gerbang utama, kendaraan kami simpan di tempat parkir. Tanda terima tiket masuk yang kami bayar untuk 6 orang, hanya dikembalikan untuk 2 orang. Sisanya ke mana? Hanya petugas, kantongnya, serta rumput bergoyanglah yang tahu. 😀

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan penginapan serta calon penginapan (karena sebagian sedang dibangun), tumpukan kios penjual suvenir, dan tumpukan rumah-rumah piknik beratap seng berpenyangga kayu beralaskan tikar…..

“Pasir putihnya mana?” terpaksa saya bertanya karena tak juga bertemu si buah bibir yang sedari tadi dicariin.

“Ini dia… Tempat kita berdiri inilah pasir putih…” jawab sodara saya.

Hah? Saya pun memandang ke bawah ke arah kaki saya berpijak. Emang bener pasirnya warna putih. Tapi lha koq… kumuh? Apa jangan-jangan kami nyasar ke pasir putih dunia lain…? 😀 Jujur, saya nggak selera mengabadikannya. Itu yang di featured image adalah foto pasir di salah satu pantai di Balikpapan.

Benar memang uang sudah mengalir ke Samosir dan rakyat ikut mengecapnya. Tapi sebandingkah dengan kerusakan lingkungan yang muncul setelahnya? Contohnya jelas seperti sungai Sibundong di Dolok Sanggul. Mungkin ada benarnya juga orang bilang: surga yang terus menerus dieksploitasi, lama kelamaan jadi neraka. Tapi neraka menurut siapa? Surga menurut siapa?

Sekarang saya ngerti kenapa dulu ada kawan yang bersikeras tak ingin Samosir dibangun menjadi destinasi pariwisata seperti Bali. “Saya nggak mau Samosir hancur seperti Bali.”

Tapi bukankah ada atau tidaknya industri turisme, lingkungan memang sudah hancur? Pemanasan global bukankah salah satu bukti bahwa lingkungan sudah hancur?

Dan kalau tak dibangun, Samosir kapan majunya? Rakyat mau makan apa? Jadi petani, harga tak bisa bersaing dengan produk impor.

Jadi mau dibangun atau tidak? Mau maju atau berjalan di tempat? Kalau maju berarti hancur, dan diam di tempat berarti tak ada pemasukan, nggak makan, ujungnya hancur juga, maju atau mundur tetap berujung pada kehancuran, kan? Mana yang dipilih?

Dan sepanjang saya (dan kamu) masih pakai tisu, pakai ac, pakai plastik, pakai kulkas, pakai kertas, masih traveling, pakai diapers, dlst, saya (dan kamu) pun ikut serta menghancurkan lingkungan. Maka kalau mau sayang lingkungan jangan setengah-setengah.

Nah, berhubung saya tidak setengah-setengah (maksudnya setengah pun nggak nyampek), dan ada mulut yang harus diberi makan, besok-besok kalau saya bikin penginapan di Samosir, kalian harus mampir dan nginap ya kawans? 😀

Kalau suatu hari nanti ada opsi yang lebih baik, di mana manusia bisa bertahan hidup tanpa harus menghancurkan lingkungan, saya pasti ikut serta. Jangan cuma bisa ngasih kritik atau protes tanpa memberi solusi realistis.

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Pasir Putih

  1. Semoga penginapannya jadi ya Noy. nanti aku nginap sanaaa.
    Btw part yang ini… “Supaya tuntas rasa penasaran dan tak ada penyesalan di kemudian hari.” -> ini sering kejadian kalau temen ngetripnya malesan orangnya dan gak suka eksplore. Matek deh bakal sering gigit jari penasaran.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s