Menuju Tele

Saya bersikeras kalau sebelumnya tak pernah melewati jalan berkelok-kelok dari Pangururan menuju Tele, atau yang populer disebut dengan jalan Tele saja. Tapi ortu saya lebih bersikeras lagi bahwa saya sudah pernah melewati jalan fenomenal itu, lengkap dengan cerita insiden kacamata. Walau mungkin kurang tepat juga sih kalau judulnya insiden. 😀

img_3175-1
Jadi waktu itu ortu saya yang kebetulan memakai kacamata hitam di dalam mobil, berpapasan dengan mobil yang baknya terbuka. Sekonyong-konyong penumpang mobil sebelah itu berkomentar, “yaelaah… baru punya kacamata hitam aja udah belagu lo…” (udah diterjemahkan dari bahasa aslinya yaitu bahasa Batak). Yes, nyinyir ternyata udah dari zaman tahun jebot sodara-sodara. 😎

Cuma koq ya mengenai tamu serakah di pesta bisa ingat, melalui jalanan berkelok nan curam dan fenomenal, malah nggak ingat? Ternyata menurut ortu, waktu itu saya memang masih kecil banget, makanya nggak ingat sama sekali. Yaelah bos, kenapa nggak dari tadi bilang begitu? 😀

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam itu, abang Sinaga, yang bawa mobil, tak henti membunyikan klakson agar kendaraan yang datang dari arah berlawanan mengetahui keberadaan kami. Meleng sedikit, bisa-bisa mobil masuk jurang, kami pun tinggal sejarah. Hiiiii….

Dulu lebar jalan hanya dua pertiga dari yang sekarang. Bisa dibayangin sempitnya kayak apa, kan? Tapi beberapa tahun lalu sudah diperlebar. Mungkin karena sering makan korban, akhirnya pemerintah setempat turun tangan melebarkan jalan.

Beberapa kilometer sebelum akhirnya mencapai Tele, terdapat menara pandang. Dari sini pengunjung bisa memandang-mandang tentunya. Sesuai nama. 😀 Bukan mencuri-curi. Atau bisa juga sih dari kegiatan memandang berujung ke mencuri. Mencuri hati. Hati gunung Pusuk Buhit.. Halah koq jadi gombal… 😀 😀


Disarankan untuk tidak melewati jalan ini saat musim hujan. Bahaya longsor mengintai soale. Tapi lha namanya orang hidup, tentu ada saja alasan untuk berkendara selama 365 hari dari sini, kan? Yang penting serahkan hidup kepada Tuhan maha segala. Kalo emang belum waktunya kalian game over, mau seberapa mengerikannya pun medan, kalian akan lolos selamat sentosa.

Tapi kalau kalian udah takut duluan, sebaiknya nggak usah pergi. Kasihan jalannya dan mobilnya. 😀

Sesampainya di Tele, kendaraan-kendaraan biasanya istirahat sejenak di kedai makan minum. Minum teh hangat plus nyicip lappet panas dibalut daun sungkit.


Semacam perayaan hidup, karena telah lepas dari ‘marabahaya’ jalanan yang berkelok, dan isi ‘batere’ sebelum kembali ke jalanan. Entah itu menuju Dolok Sanggul, Bakkara, Sidikalang, Brastagi, Medan, dlst.

Jadi gimana, apa kalian cukup bernyali untuk melewati jalan yang menakjubkan ini? 😉 Sekalian dipakai kaca mata hitamnya ya 😎

Advertisements

19 thoughts on “Menuju Tele

    1. Iyaaa dannn betul!, hahaha ikutan nyahut gue.

      Messa, aku selalu lewatin tele kalau mau ke kampungku di sianjur mula2, dan bener2 ini kek mau masuk jurang rasanya tiap lewat sini. Banyak makan korban emang. Pulkam terakhir keamaren ga lewat sini dan kita stengah jalan doank ke Tele…gerimis dan balik turun ke bawah dan pulang ke TukTuk.

      Btw…. lapetnya bikin ngiler banget.Suka banget kalau lapet dibungkus pakai daun itu. MEWAH!!!

      Like

  1. aaahhh lappet,,, dulu SMP sekolah di sekolah katholik dan banyak temen-temen yg suku Batak… kalo Ibu mereka lagi bikin lappet, aku suka dibawain. Rasa enaknya ini kue masih keinget sampe sekarang,,, jadi pengen tapi apa daya ngga tau dimana dijual 🙂 *curhat*

    Like

  2. Nyebut Sidikalang jadi keinget kopi sama cinlok masa remaja Mes haha *dia dari sidikalang ((dibahas)). Aku baca tulisanmu kok malah mbayangin Balige ya, dan sopir travel yang dengan kecepatan tinggi dan ngepot2 bawa mobil menuju danau toba *berasa nyawa murah banget saking dianya ngebut tapi santai bawa mobil😓

    Like

  3. Waduh jalannya horor amat kelok keloknya ya, tapi sepadan sama pemandangannya yang kereeen
    Hahaha kayaknya kalo aku yg lewat sih mesti minum antimo banyak2 biar gak mabok 😀

    Like

      1. Hahaha kalo sampe mabok terus muntah juga jadinya gak bisa ngeliat pemandangan sih mba, sibuk muntah2 😀
        Aku kalo jalannya jauh lebih prefer tidur karena gampang banget mabok. Hahaha katro bener emang aku ni, apalagi kalo naik mobilnya sedan 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s