Kasih Ibu Kepada Beta

Kalau ada lomba kata yang paling sering bersentuhan dengan manusia sejak lahir sampai game over, saya yakin, salah satu pemenangnya adalah: harap.

Berharap mendapat pengakuan, berharap pasangan berubah, berharap saudara berubah, berharap liburan lancar, berharap bisa liburan ke mana-mana kayak ibu guru dari Amerika, berharap dimengerti orang lain, berharap jasa-jasanya diingat, berharap anak mengikuti impian orangtua, berharap anak datang berkunjung, serta berharap-harap lainnya. Kalau masih belum puas dengan contoh yang saya beberkan, coba cek aja di bagian search di blog ini dan masukkan kata kunci ‘berharap’, ‘seharusnya’, atau ‘mestinya’. 😀

Tapi kenapa ada ‘seharusnya’ dan ‘mestinya’? Karena ‘harap’, ‘harus’ dan ‘mesti’ itu sodara sepupu yang kerap beriringan di sepanjang jalan kenangan… Halah.. Koq jadi macam lagu… 😀

Oke serius mode on.

Semua bermula dari harap. Yang jika digunakan sebagai kata kerja artinya mohon/minta, dan jika digunakan sebagai kata benda artinya keinginan agar bisa terjadi.

Namanya berharap, kalau bisa terwujud, ya syukur alhamdulillah. Kalau tidak terwujud, maka dukun bertindak apa boleh buat. Ikhlas. Tapi alih-alih ikhlas (lapang dada, menerima dengan tulus, berbesar hati, tidak pernah berpikir bahwa ini tidak adil) justru kecewa berlarut-larut yang datang karena kita nggak bisa menerima kenyataan.

Dan sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi sosial, sudah barang tentu yang paling sering mengecewakan kita adalah manusia juga, kan? Kecuali kalau kalian makhluk halus, yang paling mengecewakan tentunya sapu. Kenapa sapu? Karena tadi saya kepikiran sama debu-debu halus di kolong tempat tidur dan sarang laba-laba di langit-langit rumah yang musuh besarnya adalah sapu.

Kalau kekecewaan itu terjadi pada seseorang yang menganut prinsip senggol bacok, mungkin kekecewaannya nggak bakal lama bercokol. Karena begitu disenggol, dia balas ngebacok.

Lha daripada gue sakit ati dan kecewa berkepanjangan gara-gara memendam amarah yang kemungkinan bisa menyebabkan stroke, sakit jantung, hingga kematian (udah kayak slogan merokok membunuhmu), mending langsung gue samperin dah tuh orang. Lunas sakit hati,” kata si Fahmi, kawan saya.

Tapi bagi mereka yang menyimpan segala perkara dalam hati, yang hanya memutar-mutar kekecewaan dan masalahnya dalam hati, hingga menumpuk menjadi bom waktu yang menunggu untuk meledak, nah ini yang agak ribet…..

Di saat-saat kritis ini, datanglah bisikan maut dari tim sebelah… Seharusnya mama mengalah saja, seharusnya kamu ngerti aku dong, seharusnya sebagai anak pertama kamu peduli kepada keluargamu, seharusnya sebagai ibu negara tak perlulah bawa kamera gede ke acara-acara resmi, seharusnya pemerintah bikin gini dong, seharusnya kamu dengar mertuamu dong, seharusnya kamu ngomong dulu dong apa rencana kamu ke saya supaya saya nggak merasa cuma jadi kambing congek, seharusnya kamu tak perlu menghardik saya di depan tamu seperti tadi, seharusnya kamu datang ke pesta tadi supaya dia tak mati sia-sia karena nungguin kehadiran kamu, seharusnya ada kamera pengawas di sini supaya ketahuan siapa malingnya, seharusnya dia melakukan penelitian mendalam sebelum melepas novelnya itu supaya konfliknya terasa semakin nyata, seharusnya, seharusnya, seharusnya….

Bagaimana mungkin mau menerapkan standar ‘seharusnya’ versi kita kepada orang sana yang, standar ‘seharusnya’, sama sekali berbeda dengan versi kita?

Seperti yang dialami teman saya ketika menyarankan ibunya mengalah kepada kekeraskepalaan ayahnya, agar tercipta keharmonisan dalam rumah tangga mereka. Ibunya, yang selama hidup tak mengenal kata mengalah dalam kamusnya malah berpikir kalau putrinya tersebut sudah gila karena sarannya tadi.

Coba juga membicarakan Tuhan dengan ateis. Sampai kalian dilindas truk juga nggak bakalan si ateis ini bisa menerima konsep Tuhan atau minimal mengerti.

Atau coba berbicara tentang mengasihi sesama kepada mereka-mereka yang sedari kecil udah didoktrin harus melenyapkan orang-orang yang berbeda dengan mereka. Bisa-bisa malah kalian dibilang gila.

Atau coba minta pendapat kepada seseorang yang sepanjang hidupnya ditampar kalau ngomong, opini dimentahkan, direndahkan, ditertawakan. Bisa-bisa kalian pun dibilang gila. Kenapa? Karena saking seringnya diperlakukan seperti itu, pola tersebut telah begitu rupa tertanam/mengkristal ke bawah sadar, sehingga menganggap keadaan itulah yang normal dalam hidup mereka. Maka kalau ada orang mengeluarkan pendapat secara bebas, di mata mereka, orang tersebutlah yang gila.

Pendek kata, apa yang normal bagi kita, bisa jadi abnormal bagi orang lain. Dan inilah yang memicu si ‘seharusnya’ muncul ke permukaan.

Nah, untuk mencegah agar kekecewaan ini tak terjadi, caranya adalah:

1. Nihilkan pengharapan kepada manusia. Bahasa lainnya: cuek. Saya pernah mempraktekkan ini dan hasilnya hidup memang lebih enteng. Lalu satu waktu saya lengah. Hasilnya? Sedih bukan kepalang. Rupanya, saya masih SERING lupa bahwa reaksi tiap orang terhadap suatu aksi, beda-beda. Dan faktor yang memengaruhi seseorang bereaksi itu banyak sekali. Pengalaman hidup salah satunya. Bodohnya saya di satu sisi masih meraung-raung nggak jelas mikirin kejadian itu, sementara mereka di sisi lain udah haha hihi lagi karena memang seperti itulah karakter atau keadaan yang normal bagi mereka.

2. Atau kalau belum sanggup menihilkan pengharapan, setidaknya diminimalisir lah. Caranya dengan mengenali teman, kolega, maupun keluarga kalian dari golongan darahnya. Karena golongan darah sedikit banyak MEMANG memengaruhi kepribadian seseorang. (silakan baca buku Simple Thinking About Blood Type oleh Park Dong Sun untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hubungan kepribadian dan golongan darah)

Kalo kalian udah kenal luar dalam, maka dijamin (nggak 100% dan nggak pakai jaminan uang kembali), jika realitanya tak sesuai dengan harapan yang telah kalian tentukan, level kekecewaan akan berkurang. Yang tadinya karena belum kenal masih di level 10, kalo udah kenal, ya mungkin bisa dipangkas ke level 5 atau 4.

Memulainya pun gampang. Cukup berkenalan, lalu tanya golongan darahnya. Nggak usah malu bertanya. Soale kalo malu, kalian bukan hanya kehilangan kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam, melainkan juga kehilangan kesempatan untuk menyayanginya…. Karena tak kenal, maka tak sayang. Begitulah kata pepatah. XD Selain itu, kalau malu bertanya, juga akan tersesat dan jalan-jalan…. Mending malu aja deh kalo gitu ye, supaya jalan-jalan. XD 😛

Atau pinjem KTP- nya bentar. Bilang aja untuk sensus kenalan baru…. Atau bilang mau nyocokin ukuran KTP, karena kayaknya ukuran KTP kalian di luar standar…. Atau untuk mengganjal pintu, pembatas buku, atau untuk nyisir rambut karena di rumah nggak sempat….. dlst.

Cuma kenapa kemarin itu saya lebih kecewa dan marah pada keluarga sendiri karena dia nggak bisa ngeprint tiket, sementara kepada penabrak saya yang jelas-jelas telah memberikan ‘kenang-kenangan’ berupa beberapa jahitan di kepala, saya tak menuntut ini-itu?

Jadi keknya kita lebih marah dan kecewa kalau ada ikatan batin, kan?

Kalau gitu, kepada keluarga sendiri pun, anggap ajalah kalian nggak kenal. Supaya kalau lain kali dikecewakan, kalian nggak terlampau marah. Hihihi 😀

Daripada ngebahas apa yang tidak dilakukan oleh orang sana atau apa yang seharusnya, seharusnya dan seharusnya, beserta kekurangan, kejelekan, kelemahan, keburukan, dan segala sisi negatif yang nggak akan ada habisnya, kenapa nggak lakukan saja yang terbaik yang bisa kita lakukan, tanpa mengharapkan orang sana melakukan seperti yang kita lakukan?

Berusahalah merelakan apa pun yang terjadi, karena hidup tak selalu berlangsung bahagia, dan penyelesaian masalah tak selalu harus seperti yang kita kehendaki.

Next time, kalo si ‘seharusnya’ serta antek-anteknya udah mulai merasuki batin, nyanyikanlah lagu kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.

 

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Kasih Ibu Kepada Beta

  1. Oke. Kalau si dia sudah mulai beraksi untuk merasuk ke dalam diri, aku bakalan nyanyi.
    Iya ya. Kenapa ya.. dengan orang yang kenal lebih dekat sama orang yang gak kenal ketika melakukan kesalahan yang sama, kita lebih ngerasa marah sama orang yang kita kenal. Apa mungkin terlalu berharap lebih lalu kecewa?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s