Memang Jodoh

Katakanlah kalian punya pacar, atau pernah punya pacar, dan pernah minta saran atau pendapat kepada teman/keluarga/anggota keluarga yang kalian anggap bijaksana, mengenai layak/cocok tidaknya pacar kalian itu dijadikan pendamping seumur hidup.

Setelah diberi saran, bukannya bersyukur, kalian malah marah karena menurut ‘penerawangan’ keluarga atau teman kalian itu, si pacar memiliki aura atau sesuatu yang agak sulit dijelaskan dengan kata-kata, yang pada intinya ‘nggak banget deh’, yang bermuara pada: “Lebih baik kamu tinggalkan dia dan cari orang lain. Masih banyak pilihan yang lebih baik di luar sana untuk kamu jadikan pendamping seumur hidup.”

Tetapi kalian bersikukuh kalau si pacar adalah yang terbaik. Maka kalian pun resmi menjadi tuan dan nyonya. Tak lama, ‘ramalan’ keluarga kalian tersebut menjadi nyata.

Pasangan kalian sekarang, alias si mantan pacar, berubah menjadi monster yang kerap menyakiti batin serta fisik. Tak jarang kalian mengadu ke keluarga dengan membawa fisik yang babak belur kena bogem pasangan.

“Saya sudah memperingatkan kamu,” pun terpaksa keluar dari mulut keluarga.

Keluarga yang baik tidak akan membiarkan anggota keluarganya jatuh ke pelukan monster. Orangtua yang baik, pun akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak ada orangtua yang baik ingin anaknya celaka.

Pada akhirnya, keputusan berada di tangan kalian, karena kalianlah yang akan menjalani biduk rumah tangga. Apakah mengikuti saran keluarga, atau tetap memilih si doi yang membuat kalian selalu terbang ke bulan, atau memilih mahar mana yang paling pas di hati. XD

Tapi sebelum kalian pergi meminta pendapat/saran, coba tanya diri kalian dulu deh, apa kalian memang benar ingin mendengar pendapat mereka, atau kalian hanya ingin mereka mengatakan apa yang ingin kalian dengar: ya, kalian memang jodoh.

Jika ujung-ujungnya apa yang akan kalian dengar hanya membuat kalian marah, karena kalian tak suka pada apa yang kalian dengar, lantas untuk apa minta saran atau sekadar bertanya?

Tak usah berbelit-belitlah. Kalian ragu atau tak suka? Tinggalkan. Suka? Lanjutkan. Oya, jangan lufa undang saya di resepsinya ya. 😀

 

Messa, yang habis ngintip-ngintip wedding fair. Kali aja foto-foto di bawah ini menginspirasi kalian untuk dekorasi pesta nikah.

 

Harap diingat, kawan. Pernikahan sesungguhnya dimulai setelah pestanya usai.

 

 

 

 

 

Advertisements

25 thoughts on “Memang Jodoh

  1. alrisblog says:

    “Penerawangan” yang dilakukan oleh orang yang sudah lama menjalani hidup berkeluarga pada dasarnya adalah pengalaman hidup yang dibagikan. Banyak benarnya daripada salah. Cuma bagi para muda-mudi yang lagi dimabuk cinta pengalaman berharga itu tak masuk ke otak dan hati, hanya lewat doang, wus, wus, wusss… bablas nasehatnya.

    Like

  2. Dita says:

    iya siihh, kalo gak mau denger saran kenapa harus nanya-nanya :/
    atau benernya cuma perlu pembenaran dari orang lain? begitu gak dapet, jadinya males denger

    Like

  3. chris13jkt says:

    Saran dan nasehat dari yang sudah berpengalaman memang jarang meleset, apalagi kalau yang memberikan saran dan nasehat itu orang yang sudah jadi sesepuh dalam keluarga. Makanya sebaiknya ketika mulai menuju ke hubungan yang lebih serius, ada baiknya calon pasangan diperkenalkan dulu sama para sesepuh itu meskipun tidak dalam suasana yang formal. Lebih baik sakit sedikit daripada sakit banget kan?

    Like

  4. Maya says:

    Kalo urusan pernikahan baiknya saran keluarga (yang baik & kedengaran waras ya) bagusnya di jadikan bahan pertimbangan. Jangan lupa, kitanya juga mesti pasang mata, telinga dan menajamkan nurani biar ga salah langkah. Cuma ya kalo masih di mabuk cinta susah juga. Dikasih tau yang bener (tapi menyakitkan) malah marah dan menolak.

    Like

    • Messa says:

      hahahh, iya betul mbak Maya. kalo yang lagi dimabuk cinta dibilangin mah nggak mempan. padahal sebenarnya nurani itu udah ngasih kode dalam bentuk sebersit keraguan dan ke-enggakenakanhati. tapi ya itu tadi, kalo lagi jatuh cintrong, kodenya jadi kabur

      Like

      • Maya says:

        Hahaha oma ku pernah bilang: kalo udah jatuh cinta yg namanya t*i kambing aja rasa coklat. Yaiks bener ya 😆
        Yah emang iya sih. Kalo udah cinta, mau jelek mau bagus terabas terus

        Like

  5. dani says:

    Swtuju banget sama postingan ini. Kalau memang mau minta pendapat apakah bener memang mau dengar pendapatnya atau cuma mau denger yang mau didenger aja. Hihihi. Gede banget bedanya soalnya. Indeed wedding life starts after the party.

    Like

    • Messa says:

      masalahnya kan diminta ngasih saran koh, bukan kitanya yang sok-sokan ngasih saran 😀 kalo nggak diminta mah gpp, toh mereka yang menjalani pernikahan koq 🙂

      Like

  6. adelinatampubolon says:

    Urusan mengenai pernikahan emang harus dari kitanya yg punya andil paling besar. saran orang lain hanya berfungsi sebagai penguat saja. kalau pendapat kita dengan pendapat orang lain terlalu jauh berarti ada yang salah. hehehe..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s