Mengembara ke Bakkara

Begitu memasukkan kata kunci ‘hotel di Bakkara’ di mesin pencari, dalam sekejap muncul nama penginapan yang berada di Kiev, Ukraina, pasar di Mogadishu, dan satu daerah di Maroko. Hmmm… Ternyata nama Bakkara ini pasaran banget ya…. 😀

Memang sih, saya penasaran juga melancong ke tempat-tempat tersebut, tapi bukan sekarang kakak. Untuk sekarang, saya hanya ingin ke Bakkara, kampung halaman pahlawan nasional Sisingamangaraja XII, yang gigih memerangi penjajah. Eh tapi, kalo besok-besok ada yang mau nraktir jalan-jalan ke tempat-tempat tadi, saya tidak menutup pintu lho ya. 😀

Emang mau ngapain di Bakkara, Mes? Ya jalan-jalan lah, masak mau ngusir penjajah? Udah nggak ada lagi penjajah di sana, kakak. 😀

Berhubung saya berencana menginap semalam di Bakkara (sering juga ditulis Bakara), dan belum pernah sekali pun menjajal daerah yang, menurut foto-foto di internet, cantik ini, makanya saya nyari-nyari penginapan yang ada di sana. Karena katanya, lebih baik sedia payung sebelum hujan daripada harus gali lobang persis ketika pengen buang hajat, kan? 😀 😀

Lalu entah bagaimana, akhirnya nama hotel Grand Maju yang beralamatkan di Jalan Merdeka Ujung, Simpang Bakkara, Dolok Sanggul, muncul di layar leptop. Ada nomor teleponnya pula. Saya pun segera menghubungi nomor yang tertera dan disambut suara resepsionis perempuan yang renyah nan ramah.

Karena belum ada gambaran sama sekali mengenai letak Bakkara dan hotel tersebut, saya bertanya ancer-ancernya..

“Persis di Simpang Bakkara…” jawab si resepsionis.

Simpang Bakkara…. Di mana pulak simpang Bakkara ini, saya membatin.

Makanya cek gugel map dong, Mes. Leptop canggih tapi gugel map dianggurin.

Yeah, secanggih apa pun peta si gugel itu, women can’t read map, and men don’t listen, kata Allan & Barbara Pease. Baca aja bukunya kalo pengen tahu kenapa. 😀

“Okelah, kak. Kalo gitu saya booking saja dulu untuk satu malam… Terima kasih…” kata saya menuntaskan pembicaraan, supaya nggak makin ngawur.

Nyampe di Dolok Sanggul, beneran, hotelnya persis di seberang Simpang Bakkara. Dari situ, hanya sekitar 30 menit ke Bakkara. Meski jalanan sempit, tapi mulus karena diaspal. Setelah melewati belokan di jalanan yang menurun, pemandangan lembah menakjubkan seperti yang saya lihat di internet sewaktu browsing-browsing tentang Bakkara, muncul di depan mata.

Setelah cukup aman bagi mobil untuk berhenti, saya turun dan mengabadikan kecantikan lembah Bakkara yang, ah.. susah dijelaskan dengan kata-kata… Baiknya kalian langsung pergi ke sana deh. Sensasi melihat langsung dan cuma lihat dari foto itu beda banget. 🙂

Si Cantik Lembah Bakkara

Istana Sisingamangaraja menjadi tempat pertama yang kami sambangi. Selain istana, di sini terdapat makam Sisingamangaraja. Tapi bukan Sisingamangaraja XII. Beliau dimakamkan di Balige.

Sekitar dua kilometer dari istana ini ada Aek Sipangolu. Letaknya di pinggir jalan. Konon sehabis perang, Sisingamangaraja hendak kembali ke istana bersama gajahnya. Namun di tengah jalan si gajah kehausan dan hampir mati. Dengan tongkatnya, Sisingamangaraja memukul batu dan keluarlah air yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Aek Sipangolu
Aek Sipangolu

Adik saya memasukkan kakinya sejenak di air yang mengalir deras. “Apakah hilang segala penyakit?” saya bertanya. Ia tertawa. Untunglah dia tertawa. Karena tertawa adalah bagian dari kesembuhan. XD Suami saya lebih ekstrim lagi. Ia meminumnya! 😀

Sebelum beranjak dari situ, sodara saya yang lain sakit perut dan buang air besar di toilet pengunjung. Mimik ‘horor’ seketika muncul di wajah adik saya…

“Kalo toiletnya di sini, berarti pembuangannya langsung ke bawah ke tempat gue memasukkan kaki tadi dong?” ujarnya.

“Ah, nggak mungkinlah… Pasti ada saluran khusus untuk pembuangan…” kata saya, berusaha meyakinkan. Padahal saya sendiri tak tahu faktanya seperti apa. XD Sok yakin ajalah. XD You are what you believe. 😀

Sebetulnya saya ingin melihat Air Terjun Janji. Tapi entah mengapa malah nama Aek Sipangolu yang keluar dari bibir… Makanya saya semacam mengalami disorientasi ketika tidak menemukan air terjun gede..

Ini pertanda bahwa suatu hari nanti saya harus kembali ke lembah menawan ini.

Petualangan hari itu ditutup dengan makan malam menu ikan bakar sambal tombur di warung yang terletak di tepi Danau Toba. Ditemani alunan gitar dan nyanyian Batak oleh beberapa pemuda setempat, tombus na mulak tu huta!

ikan bakar sambal tombur
Ikan bakar sambal tombur

 

 

 

Advertisements

18 thoughts on “Mengembara ke Bakkara

  1. jempol pemandangannya…
    eh iya bbrp tahun lalu, tahun 80an sih, toilet masjid di pinggiran Parapat itu langsung menuju sungai di bawahnya lho..
    nggak tau sekarang…

    Like

    1. ayo main2 ke Bakkara eda 😀 kalo ikan bakarnya keknya dibakar doang, cuma yang sambal tombur itu kalo gak salah pakai bunga kincung (rias), andaliman, rawit. di Jakarta bumbunya komplit da 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s