Puzzle

Ketika mimpi tentang kematian Ravi datang mengunjunginya beberapa minggu yang lalu, Riza hanya menganggapnya sebagai bunga-bunga tidur yang biasa muncul kala ia terlalu sibuk bekerja seharian, atau lupa berdoa sebelum tidur. Hingga muncul kabar yang mengatakan bahwa Ravi stroke, barulah ia bertanya-tanya, apakah mimpinya malam itu merupakan pertanda.

Lima hari kemudian, datang lagi kabar lain. “Ravi barusan sudah dipanggil Tuhan…..” kata si pengirim pesan, disertai emoticon wajah berurai air mata.

Hingga ia melihat Ravi yang telah terbujur kaku dalam peti mayat, dalam foto yang dikirim kepadanya pun, Riza tetap tak bisa mengeluarkan air mata untuk pribadi yang dulu sering mengantarnya ke sekolah dan kantor, yang dulu membuatnya jatuh cinta kepada Bahasa Inggris, yang dulu memperkenalkan cara makan ala Barat, serta yang dulu membawanya naik pesawat terbang untuk pertama kalinya ke Jakarta. Apakah sedemikian kerasnya ia menutup hati terhadap Ravi?

Dua hari setelah penguburan, Riza menelepon ibunya. Bertanya kabar, serta bagaimana acara penguburan.

“Semua berjalan dengan baik. Cuaca bagus, langit cerah. Banyak orang yang mengasihi keluarga kita dan yang mengasihi Ravi datang melayat.”

“Syukurlah kalau begitu, ma. Di mana Ravi dikuburkan?”

“Di komplek kuburan keluarga kita. Nanti pun, kalau mama meninggal, di situ sajalah kalian kuburkan. Satu tempat saja semua. Jangan berceceran di mana-mana. Supaya rapi. Mama yakin, daerah ini bakal maju nanti.”

Riza masih mencerna kalimat, “Nanti pun, kalau mama meninggal, di situ sajalah kalian kuburkan,” yang di telinganya terdengar seperti pesan dari ibunya, karena selama ini beliau belum pernah berkata seperti itu. Namun di sisi lain, kalimat “daerah ini bakal maju nanti,” menarik perhatiannya.

“Kenapa mama bilang bakal maju? Sudah berapa presiden datang dan pergi, gubernur silih berganti, tapi jalanan di sana tetap bolong-bolong dan daerah tetap miskin.”

“Begini Riza, sekarang ada program pemerintah yang memberi 1,4 miliar rupiah untuk tiap desa. Dan mulai hari ini, semua kepala desa diundang ke ibukota propinsi untuk sosialisasi dana tersebut, berikut mengenai cara pengelolaannya, pertanggungjawabannya, dan lain seterusnya.”

Riza terperangah mendengar kabar gembira tersebut.

“Wah… kalau gitu, bukan hanya pepesan kosong ya… Syukurlah ma. Saya senang sekali mendengar berita ini. Akhirnya ada perubahan. Mudah-mudahan dana itu tak disunat ya…”

“Iya, Riza. Kalau dulu kan, cuma seratus juta per desa tiap tahun. Tujuh puluh juta untuk gaji aparat, sisanya tiga puluh juta untuk membangun desa. Tapi mau bangun apa tiga puluh juta? Makanya dengan adanya program ini, mama yakin, daerah ini bakal maju…”

“Iya, ma….”

Hening sejenak.

“Hmm… Mama tahu kan, bahwa Ravi adalah salah satu penyebab akar pahit dan luka batin dalam hidup saya?” tanya Riza akhirnya, melepaskan beban yang menggantung di pikirannya seminggu ini.

“Iya, Riza, mama tahu…”

“Jadi… Saya… Saya bukan malaikat, saya manusia, ma. Saat saya dengar kabar bahwa Ravi stroke, saya mendoakan yang terbaik menurut rencana Tuhan kepada Ravi… Saya sudah memaafkan Ravi dan telah memercayainya lagi, setelah tragedi yang dulu. Tapi kemudian dia kembali mengecewakan saya, hingga saya tiba di titik di mana saya benar-benar hilang percaya kepadanya.

Saya takut dia kembali akan mengatakan “mamamu seharusnya dipenjara” gara-gara kita terpaksa menjual rumah keluarga akibat mama ditipu teman bisnis. Sungguh, sama sekali tak ada kasih dalam kata-kata itu. Saya juga takut, dia kembali akan menghina bapak dan berkata “pecahkan saja kepalamu ke batu” gara-gara bapak memarahinya dan tak terima rumah itu lepas dari tangan kita.

Ya, Ravi memang berhak marah, karena dia juga berhak atas rumah itu. Tapi saya juga kecewa kepadanya, karena dia, dia yang saya tahu setiap hari membaca kitab suci serta berdoa, ternyata lebih mementingkan harta daripada keselamatan jiwa keluarganya sendiri, di saat keadaan genting. Bagaimana jika tragedi itu menimpa ibunya sendiri? Tidakkah ia akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan, yakni mendukung ibunya dan segera menyelesaikan masalah?

Dan setelah waktu berlalu, sepertinya Ravi takkan pernah berubah. Dia tak percaya kepada saya. Entahlah… mungkin dia melakukan itu untuk melindungi hatinya. Saya pun takut memercayainya lagi, karena tak mau terluka kembali.”

Hening…..

“Riza….” sambung ibunya memecah keheningan.

“Hari itu, sewaktu mama akan berangkat untuk reuni keluarga besar, mama bertemu Ravi. Kami ngobrol sebentar. Setelah itu, mama pamit, karena bis akan segera berangkat. Sewaktu mama melangkah pergi menuju bis, Ravi memanggil mama. Mama pun menoleh kepadanya dan Ravi melambaikan tangan serta mengucapkan salam perpisahan. Mama pun heran. Kenapa spesial Ravi melakukan itu?

Malamnya, mama dapat kabar bahwa Ravi ditemukan telungkup di kamar mandi. Menurut saudara kita, ia mendengar Ravi berkata “Tuhan Yesus, tolong.” Ada beberapa kali Ravi mengucapkan kalimat itu. Namun karena pintu kamar mandi dikunci dari dalam, butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk mengeluarkan Ravi dari sana.

Begitulah akhirnya Ravi dioperasi karena terdapat tiga titik pendarahan di otak. Kemudian koma, hingga akhirnya meninggal.”

“Setelah rumah kita yang sekarang selesai dibangun, tangan Ravilah yang memasang semua gorden di rumah. Dua hari dia datang dan mengerjakan semuanya sendiri dengan riang. Waktu itu mama terharu dan menangis di dalam kamar. Rencana Tuhan itu amat sempurna. Dan tahu-tahu, justru dialah orang pertama yang diberangkatkan dari rumah kita….”

“Ravi sudah berubah, Riza….”

Seketika, pecahlah tangis Riza.

“Ravi sudah berubah… Tuhan yang mengubahnya. Hubungan kami sudah membaik,” ujar ibunya, lagi.

Ada kelegaan luar biasa dalam diri Riza mendengar hal itu, serta mengetahui bahwa Ravi ingat kepada Yesus di saat-saat terakhir hidupnya. Itu yang terpenting.

Kini, beban yang mengganjal hatinya, lenyap dalam sekejap. Bukan kebetulan ia menelepon ibunya hari itu. Bukan kebetulan mereka harus menghadapi segala yang terjadi. Riza percaya, semua dipersiapkan Tuhan dengan matang, dan Tuhan juga yang membuka tirai kelam hatinya.

Satu episode puzzle telah lengkap tersusun. Riza mungkin tak tahu alasan terjadinya segala sesuatu di dalam hidupnya, namun satu hal yang ia tahu pasti, rancangan Tuhan sempurna, sebab rancanganNya adalah rancangan keselamatan.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Puzzle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s