Sebelas yang Kritis

16.55          “Flight attendant, prepare for landing…”

16.56          “……… tutup meja, naikkan sandaran, buka jendela…”

17… …        “Flight attendant, landing positions…”

17… …        Pesawat menyentuh runway dengan mulus. Dari jendela, Iraqi Airways tampak parkir di hanggarnya.

17… …        “Selamat datang di Jakarta… Mohon untuk tidak menyalakan henpon hingga pesawat berhenti total..”

17… …         Sementara pesawat masih merayap menuju perhentian akhir, lelaki di sebelah saya telah sukses berkirim pesan entah kepada siapa di seberang sana. Keluarganya barangkali. Wajahnya tampak cemas. Mungkin ia tak mendengar pengumuman barusan.

17… …        Beberapa tahun lalu, saya masih getol menegur penumpang yang masih berada dalam jangkauan mata saya, untuk mematikan henponnya, jika pesawat belum berhenti sempurna. Sekarang? Barangkali seperti perawat di ruang ICU, yang telah terlampau sering menyaksikan segala macam sakit, sehingga ada rasa yang mati, dan membuat hati berkata, “Sak karebmu waelah…” Tapi kadang, orang-orang pendobrak peraturan seperti mereka inilah yang justru maju, seperti sopir bis nekat yang sukses membawa kami dengan selamat ke Pekan Baru. 😀

17.10          Saat pesawat belum juga berhenti, henpon lelaki itu bergetar. Ada telepon masuk. Ia menjawabnya, serta bertanya kepada saya, “Ini di terminal berapa, ya?” “Saya tidak tahu, pak,” jawab saya, jujur.

…………..

Eh…. udah berapa menit sih itu? Ini semua gara-gara Ika Natassa yang sukses mempopulerkan istilah Critical Eleven, serta yang sukses meracuni saya kemarin dulu untuk menghitung menit-menit terakhir sebelum pesawat mendarat. Hanya saja, saya tak menghitung tiga menit di awal.

Jadi, Critical Eleven itu sebenarnya apa? Jadi gini, dalam dunia penerbangan, delapan menit terakhir sebelum pesawat mendarat dan tiga menit pertama setelah pesawat take-off, adalah saat-saat rawan kecelakaan. Kalau tak salah, sekitar 80% kasus kecelakaan pesawat terbang terjadi di sebelas menit yang kritis ini. Contohnya pesawat Mandala menuju Jakarta yang jatuh tahun 2005 lalu di Medan, yang saat itu juga membawa gubernur Sumatera Utara, Rizal Nurdin.

Tapi kalian nggak usah kuatir. Pastikan saja di menit-menit ini kalian tidak tidur, tidak mabuk, sepatu terpasang dengan baik, kencangkan sabuk pengaman, serta… berdoa.

 

 

 

Advertisements

27 thoughts on “Sebelas yang Kritis

  1. Baru kelar baca buku ini jadi bener2 masih fresh 😀

    Aku pun dulu gitu, pas pesawat dah nyentuh tanah rasanya pen cepat2 kabari orang rumah. Skrg udah nunggu sampe dalam gedung kok 🙂

    Like

      1. Bagian mereka mengeksplore rumah ut variasi..kwkwkwk.. engga deng, yg si Ale peluk Anya waktu kejutan ultahnya. Sampe netes air mata bacanya..huhu..

        Like

    1. weleehh… kenapa kamu telat mas? biasanya kamu yang sering review2 buku baru lho.. ayo dibaca mas! 😀 menurutku buku ini cocok dibaca laki2 dan perempuan.

      Like

      1. seneng aja, dari di darat sesuatu yang berat bangettt bisa naik keatas terus terbang haha… Maap, Analogi yang aneh ahahaha.. Pas landing, seneng plus deg2an ngerasain bisa sehalus apa roda bisa nyentuh tanah 😀

        Like

  2. Saya belum baca tentang Critical Eleven oleh Ika Natassa. Saya patuh ber hp ketika di pesawat sejak musim pesawat sering jatuh dulu. Parno soalnya, 🙂

    Like

    1. dari beberapa bukunya yang udah kubaca, kayaknya calon pembaca buku2 Ika Natassa ini mesti berwawasan luas deh, mas Alris.. karena kalo nggak luas, bisa jadi ceritanya jadi kurang menarik… tapi ini menurut pengakuan beberapa orang lho ya…

      Like

  3. Di Indonesia aku patuh banget terhadap aturan ini. Di luar negeri ternyata dibolehkan hp nyala tak lama setelah landing. Bahkan GA suka galak, nyuruh penumpang matikan total sementara di luar cukup flight mode aja.

    Jadi kesimpulannya aku ngikutin aturan aja lah.

    Like

  4. naik pesawat skarang gak hanya kritikal di total 11 menit itu imo sih, banyak juga tuh pesawat yang lagi anteng terbang di udara tahu2 yang hilang, ketembak roket lah, atau apalah….ah ngeri kali lah ini ya !

    btw, aku jg baca critical 11 Mess, bacanya pas suami aku masuk ER ha ha ha yang ada semaleman nangis doang baca bukunya. Masih penasaran kenapa Anya keguguran di usia hamil tua aja sih 🙂

    Like

    1. ember mbak Fe. menurutku juga gitu. sepanjang perjalanan adalah kritis. kapan aja, di mana aja, kalo emang udah waktunya, ya pasti jatuh.

      bah… bang Yvan sakit apa sampe ke ER segala mbak e? btw, kemarin pas di Frankurt book fair nggak tanya langsung sama penulisnya mbak? kan sempat poto bareng tuh XD *iyak.. ketauan ada yang suka mantengin instagram sang idola* XD XD

      Like

  5. kadang gak tahan buat kasih kabar kl udh nyampe. tp hal yg sering dianggap sepele ini justru harus benar2x diperhatikan. kl aku pas take off ogah nyalain hape, krn suka dg prosesnya. kayak apa gitu deh. jd bs dipastikan hape totally mati hanya utk bs menikmati moment itu. skrg kl pesawat udh nyentuh tanah baru nyalain hape. malah kadang lupa. wkwkwk … ingetnya pas udh ambil bagasi.

    Like

    1. bagus atau nggak itu pastinya soal selera kan, kak. kalau selera kakak biasanya sama seperti temen2 kakak itu, bisa jadi emang bakalan nggak bagus tuh ntar setelah kakak baca 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s