Kasus Langka

“Semuanya Rp sekian sekian, ibu,” ujar kasirnya kepada saya saat belanja hari Minggu di TOKO INI. Jangan tanya hari Minggunya kapan. Yang jelas, hari Minggulah. 😀

Karena tak punya uang tunai, saya pun membayarnya menggunakan kartu debit BANK ITU. Gesekan pertama pada mesin Electronic Data Capture alias EDC-nya, gagal, menurut kasirnya. Gesekan kedua, gagal juga. Ketika gesekan ketiga pun gagal, saya hentikan transaksi dan batal membeli barang.

Hari Seninnya, saat tarik tunai di ATM, saya juga mengeprint empat atau lima transaksi terakhir dan, kaget melihat Rp sekian sekian, sukses didebet sebanyak dua kali. Masih dalam suasana kaget bercampur heran, saya kemudian menghubungi Call Centre mereka untuk pengaduan. Sebelum saya jelaskan masalahnya, dan sebelum dia memverifikasi data saya, si mbak Call Centre 1 (CC1) bertanya nominal yang akan saya adukan. Setelah itu, ia berkata agar saya menunggu selama 14 hari kerja, karena bank akan melakukan investigasi.

“Jadi gitu aja? Saya cuma harus nunggu?”

“Iya, bu,” jawabnya.

“Oke. Terima kasih.” tutup saya.

Merasa janggal karena cuma disuruh nunggu, saya hubungi TOKO INI dan menjelaskan kejadian hari Minggu serta rekening yang sukses terdebet dua kali.

“Kalau di kami tidak ada selisih, bu. Transaksinya mungkin menggantung di sistem bank ibu. Ibu hubungi saja bank ibu,” kata perempuan di ujung telepon sana.

“Sudah. Saya sudah menghubungi bank saya. Mereka bilang, mereka akan menginvestigasi ini, dan saya disuruh tunggu selama 14 hari kerja.”

“Yang jelas, di kami tak ada selisih, bu,” katanya, lagi.

“Oke. Terima kasih.” tutup saya.

Tak berapa lama, saya kembali menghubungi Call Centre BANK ITU dan menjelaskan dari awal kepada mbak Call Centre 2 (CC2). Seperti telepon saya yang pertama tadi, di awal, mbak CC2 ini pun bertanya nominal yang akan saya adukan.

Saya balik bertanya, “Kenapa nominalnya yang kalian tanya duluan?”

“Bla bla bla bla bla…. Untuk pemahaman…” jawabnya.

“Untuk pemahaman? Pemahaman apa? Bukan karena kalau nominalnya kecil akan kalian abaikan, tapi kalau nominalnya besar akan kalian tindaklanjuti?” cecar saya.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, ibu. Tapi itu untuk pemahaman bla bla bla bla…..” sambungnya, lagi. Merasa seperti berbicara dengan robot, dan sadar kalau saya hanya buang waktu berbicara dengan robot tersebut, saya pun meneruskan pengaduan dan kembali menjelaskan kronologi kejadian.

Akhirnya, saya disuruh agar segera melaporkan perihal tersebut ke kantor cabang BANK ITU terdekat, dengan membawa KTP, kartu debit yang digunakan saat transaksi, serta buku tabungan. Bukan cuma nunggu 14 hari kerja seperti yang disebutkan CC1. Apa jadinya kalau saya mendengarkan petunjuk si CC1?

Berhubung hari Senin jam layanan bank sudah tutup, saya pun mendatangi kantor cabang BANK ITU di hari berikutnya yakni Selasa, dengan nomor antrian bagian Customer Service nomor 57, dan dilayani oleh CSR bernama Pria.

Menurut CSR Pria, mungkin masalahnya di jaringan komunikasi. “Tapi tak mungkin kalau tokonya bilang tak ada selisih, bu. Kasus ibu langka… Saya juga pernah mengalami kejadian begini, tapi uang saya langsung dikreditkan (dikembalikan) hari itu juga ke rekening,” katanya.

Siapa sebenarnya yang mengatakan yang benar, dan siapa yang bohong? Hmmm….

Maksud hati tak perlu lagi bawa uang tunai dalam jumlah banyak di dompet, eh tahu-tahu, kena beginian. Setelah kejadian ini, jujur saja, saya jadi berpikir ulang untuk bertransaksi dengan kartu debit. Padahal Bank Indonesia lagi gencar-gencarnya berkampanye mengurangi transaksi tunai untuk mewujudkan less-cash society. Tapi kalau infrastruktur belum siap? Ujung-ujungnya, konsumen juga yang repot ngurusin dananya kembali.

Memang sih, untuk mencegah rekening terdebet berkali-kali, ada layanan SMS BANKING yang akan mengirimkan notifikasi ke nasabah, tiap kali ada transaksi debit maupun kredit. Tapi saya perhatikan, kadang SMS ini pun suka telat nyampainya. Jeda waktu dari transaksi hingga SMS tiba, kadang bisa berjam-jam.

Trus gimana dong? “Kalau nominalnya kecil atau tak signifikan, relakan sajalah, atau lapor ke OJK,” saran sodara saya. Pada tahu kan apa itu OJK? Bukan saudaranya GOJeK lho ya, tapi Otoritas Jasa Keuangan. 😀

Menurutnya lagi, ada banyak kasus serupa di luar sana yang rekeningnya terdebet dan uangnya tak kembali. Hmmm… Kalau gitu si CSR Pria BANK ITU, bohong? Apa tadi dia bilang? Kasus saya langka…? Hmmm…

Dan mungkin, mereka-mereka yang rekeningnya terdebet berkali-kali serta uangnya tak kembali ini pada mundur begitu mendengar lamanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.

“75 hari kerja, bu, menurut SLA-nya…” jawab CSR Pria. Bonus 61 hari, dari waktu yang disampaikan oleh CC1 serta CC2. Dan entah apa pula arti SLA ini. Mungkin masih saudara sepupu dengan Sekolah Lanjutan Atas…?

Well, kalau dihitung-hitung, berarti bakalan kelar sekitar akhir Januari, atau awal Februari 2016. Lama juga ya bok?

“Kenapa lama sekali?” tanya saya.

“Karena ini masalahnya sudah antara korporat dan korporat, bu…” jawab Pria.

Tak ada lagi yang bisa saya lakukan selain menunggu dan mengikuti aturan permainannya, kan? Atau ada kah? Apa saya tanyakan saja ke YesBoss? Konon mereka melayani permintaan apa pun, selama itu tidak ilegal. Nah, permintaan saya tidak ilegal, kan?

 

 

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Kasus Langka

  1. Arman says:

    Emang ribet kali ke debit dua kali gt. Makanya kita gak pernah bayar pake debit card. Selalu pake credit card. Lbh gampang urusannya kalo ada dispute.

    Like

  2. Alris says:

    Ribet berhubungan dengan bank kalo kasus kayak gini. Saya pernah kejadian dengan salah satu bank pemerintah, banyak sekali urusan untuk mengembalikan uang itu. Akhirnya tetap saja uang gak kembali. Karena nominalnya kecil saya juga malas buat ngurus.
    less-cash society masih angan-anganlah menurut saya.

    Like

  3. astridtumewu says:

    BAru2 ini kejadian sm temen, dia jg kedebit 2 kali dan kata bank peraturannya 75 hari kerja. Cape hati, cape pikiran, cape badan mikirinnya, mana nominalnya gede. Setelah urus sana sini, 30 hari kerja dpt lg duitnya. Gk ada cara gampang emang, kecuali bolak2 ke bank nelpon buat nanya udh dimana perkembangannya.

    Like

    • Messa says:

      aih, syukurlah dananya kembali ya… betul emang, kita yang harus ‘jemput bola’, jangan ‘nunggu bola’. wong dananya memang dana kita koq…

      thanks mbak Astrid!

      Like

  4. nbsusanto says:

    kok ribet ya mbak, padahal debit itu duit konsumen tapi dipersulit, lhah kalo pake cc kan duitnya bukan punya konsumen tapi malah dipermudah.. aneh memang.. 😐

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s