Kawan Sebangsa

Saat mengantri mencari tempat duduk di kabin pesawat, kami menyadari bahwa hampir seluruh penumpang dari Saigon menuju Hanoi, memiliki rupa persis seperti orang Batak pada umumnya. Wajah tegas kotak-kotak (marsuhi-suhi kalau kata orang Batak), hidung tak terlalu tinggi, serta mata cenderung sipit. Salah satu penumpang bahkan amat mirip dengan almarhum ompung doli (kakek) saya.

mirip ompung doli
penumpang dari Saigon menuju Hanoi

Kemiripan ini membuat kami berkelakar bahwa sesungguhnya pesawat itu akan menuju Samosir instead of Hanoi. 😀 Beberapa kali kami bahkan diajak ngobrol dalam bahasa lokal. Kami yang tentu saja nggak ngerti, akhirnya cuma bisa berkata, “in English please…” 😀

Tapi kami memang ketemu dengan kawan sebangsa beneran saat di Vietnam kemarin. Yakni ketika makan malam di kapal yang tiada gulainya itu. XD Saat kami sibuk berfoto ria dengan latar belakang pencakar langit Saigon, tiba-tiba beberapa pengunjung terdengar bercakap-cakap dalam bahasa yang tak asing di telinga kami.

“Dari mana?”

“Jakarta…” jawab mereka.

Makkuling do mudar kata orang Batak. Artinya darah ini rasanya ‘berbicara’ ketika bertemu kawan sebangsa dalam perjalanan. Mungkin memang sudah naluri manusia jika ia merasa nyaman berada di lingkungan yang memiliki kemiripan dengannya. Entah itu karena rupa, bahasa, budaya, adat istiadat, visi misi, hobi, dlsb.

Dan mungkin juga karena naluri manusia ingin selalu mengetahui asal-usulnya atau akarnya, maka setelah cukup dewasa, anak-anak yang diadopsi, mencari tahu siapa orangtua kandungnya, meski ia tak kekurangan apa pun dari keluarga yang mengadopsinya itu. Bukan karena tak bersyukur, tapi murni karena ingin tahu asal-usulnya.

Leluhur suku bangsa Batak sendiri, menurut buku Warisan Leluhur yang Terancam Punah – Batak (Dr. Ir. Bisuk Siahaan, Kempala Foundation, 2015), disebutkan berasal dari Afrika. Diperkirakan sekitar 50.000 tahun yang lalu, karena musim yang amat sulit mengakibatkan tanaman dan rumput mati, mereka meninggalkan wilayah yang kemungkinan adalah Kenya, Ethiopia atau Tanzania dan mengungsi ke Utara, sebagian ke Irak dan Iran.

Sepuluh ribu tahun kemudian terjadi lagi musim yang amat buruk di Asia Tengah. Diperkirakan pada saat itulah Gurun Sahara berubah dari yang tadinya subur, menjadi gurun pasir tandus. Sekali lagi terjadi eksodus besar-besaran. Masyarakat meninggalkan Irak dan Iran, pergi ke Utara yaitu Eropa, dan sebagian lagi ke Asia seperti Hindu Kush, Tian Shan, dan juga ke daerah pegunungan Himalaya. Di daerah Tajikistan, para pengungsi terpecah. Sebagian ke Asia Tengah, sebagian lagi ke Pakistan.

Sekitar lima ribu tahun kemudian, terjadi lagi eksodus. Kali ini sebagian menuju Siberia, dan sebagian lagi menuju Tiongkok. Namun lagi-lagi karena musim yang amat jelek, dari Tiongkok mereka pindah ke Asia Tenggara.

Ketika Genghis Khan dari Mongol menyerbu daerah Selatan pada abad ke-12, mereka membunuh masyarakat yang dianggap menentangnya. Di seluruh Asia Tenggara timbul kekacauan menyebabkan banyak masyarakat melarikan diri. Karena dihantui kecemasan, sekali lagi terjadi eksodus besar-besaran dari Asia Tenggara ke Selatan. Sebagian ke Filipina, Taiwan, Sumatra Utara, Kalimantan, dll.

Dengan maksud agar tidak mudah dikejar tentara Mongol, sebagian dari pengungsi yang mendarat di Sumatra Utara melanjutkan pelarian dan masuk ke pedalaman dan berhenti di pinggir Danau Toba. Mereka bersembunyi di kaki gunung Pusuk Buhit di daerah Sianjur Mula-mula. Di sinilah mereka beranak-pinak dan keturunannya menyebar ke daerah-daerah lain.

Sungguh suatu perjalanan yang amat panjang hingga orang Batak bisa berada di titik sekarang ini. Tentu suku bangsa lain pun memiliki sejarah yang tak kalah rumit serta panjang seperti yang dimiliki Batak. Maka alangkah dangkalnya dan sayangnya, jika ada negara memperlakukan rakyatnya berdasarkan suku dan agama seperti yang ditulis mbak Siti di blognya, mengenai pengalaman MS pemuda Rohingya dari Myanmar, yang tidak mendapat perlakuan yang pantas didapatkan warga negara, hanya karena terlahir dari suku minoritas. Padahal tak satu pun anak yang minta mau dilahirkan dari sperma bapak yang mana, serta dari sel telur ibu yang mana. Tidak ada.

Barangkali itu sebabnya ada pendapat yang mengatakan bahwa mengkotak-kotakkan manusia ke dalam suku bangsa A, B, C, D, Z, adalah usaha yang sia-sia. Karena kadang, aktifitas mengkotak-kotakkan ini bisa menimbulkan superioritas dari suku tertentu, diikuti kecemburuan dari suku lain, akhirnya konflik.

Dan saya yakin, di Hari Pengadilan nanti, Tuhan tidak akan bertanya: kamu dari suku bangsa mana, Messa?; siapa nama ompung dolimu?; dari benua mana nenek moyangmu berasal?; naik apa mereka datang ke Samosir?; dlst. Melainkan akan bertanya: apakah kamu sudah menjadi garam dan terang?

Menjadi catatan juga buat saya jika nantinya ipar-ipar saya berasal dari suku bangsa non-Batak, saya harus belajar menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Karena mau mirip kita kek, mau dari bangsa mana kek, yang jelas kita semua adalah kawan seperjalanan yang sama-sama menjalani hidup dalam segala suka dan dukanya. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Sempurna itu cuma milik Tuhan serta Andra & The Backbone. Kalian tau lagunya, kan? 😀

 

 

 

 

Advertisements

22 thoughts on “Kawan Sebangsa

  1. Marsuhi2….hahahaha

    Btw aku baru denger versi yg asal muasal batak ini mess..tapi teteup ya sianjur mula2 dan pusuk buhit itu asal muasal batak…my lovely kampung halaman

    Like

  2. Indonesia yang punya 700 lebih bahasa daerah (termasuk beragam suku) sering bikin orang asing tercengang. Gimana bisa menyatukan jutaan kepala yang isinya macem-macem? Soal kesukuan ini misalnya. Selagi masih di negara sendiri aja bisa kompak, apalagi kayak mbak yang ketemu di LN. Udah gitu, sama-sama batak ya. Seru deh pasti 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s