Antara Taylor Swift, Ahok dan Mulut Buaya

Bibir merah, rambut hitam tebal nan megar, Clint Eastwood versi muda, air terjun maha indah, bercengkrama dengan singa dan zebra, serta menyaksikan matahari tenggelam di bibir tebing…. semuanya ada dalam Wildest Dreams, video klip terbaru dari Taylor Swift yang dirilis bulan Agustus kemarin, dan semuanya tampak indah di mata saya. Namun entah kenapa, ada saja yang menganggap kalau video tersebut: rasis. Pasalnya, karena tak nampak satu pun orang kulit hitam di video yang berlatar Afrika tahun 50-an itu.

Say you'll remember

Sementara di Jakarta sana, sebuah taksi meluncur di salah satu ruas jalan yang malam itu tampak cukup lancar, serta tak terdapat penumpukan kendaraan seperti biasanya.

Penumpang 1 (P1) : Koq tumben nggak macet?

Sopir Taksi (ST) : Jamnya udah lewat, bu… Sekarang udah jam delapan.. Tapi tadi pas jam pulang kantor sekitar jam lima, emang macet.

P1 : Oh gitu… Saya kirain gara-gara gubernurnya Ahok makanya macetnya udah nggak ada lagi…

ST : Haha… Bukan, bu… Tapi beliau memang bagus, koq. Sekarang kalau mengurus surat-surat ke kelurahan, prosesnya cepat. Nggak kayak dulu, kalau kita datang pagi jam delapan, lurahnya belum ada di tempat. Lha sekarang, pagi-pagi udah ada di kantor…

P1 : Oh gitu ya…

Penumpang 2 (P2) : Tapi koq tetep aja banyak yang benci sama Ahok?

P1 : Ya biasalah… Namanya orang hidup di dunia, nggak mungkin bisa disukai semua orang… Pasti ada aja yang nggak suka…

ST : Soalnya udah nggak bisa korupsi lagi… Makanya banyak yang benci…

P1, P2, ST : Hahaha….

Bagi mereka yang memilih Ahok saat pilkada dulu, Jakarta bisa jadi terasa lebih baik sekarang ini. Tetapi bagi mereka yang tak memilih beliau, mungkin Jakarta ‘gitu-gitu aja’.

jalanan macet sudah biasaDan sepulangnya dari Bali, saat saya memamerkan foto-foto hasil buruan selama liburan ke seorang teman, cuma dua komentarnya:

  1. Fotomu koq gelap semua?
  2. Yang ini kenapa seperti mulut buaya sedang menganga menanti mangsa? Komentarnya mengenai foto Danau Batur ini…

danau batur

Padahal di mata saya si pemula yang otodidak, foto-foto itu udah keren banget. Tapi ya gitu deh, barangkali ini hanya soal selera. Selera ini kan personal banget, ya? Beda mata, beda pula seleranya.

Cuma kalau katanya gelap semua, berarti memang ada yang harus diperbaiki. Meski belum tentu juga sih. Siapa tahu kalian memang pengen fotonya gelap semua, kan? πŸ˜€ XD

Nah, gara-gara komentarnya itu, saya pun nekat membeli buku serial Aperture Masters of Photography dengan harapan, saya bisa belajar dari foto-foto yang terdapat di dalamnya, serta suatu hari nanti bisa menjadi Master Fotografi juga. Sesuai judul. XD XD

Bukunya memang sesuai dengan harapan. Banyak yang bisa dipelajari. Lalu apakah kualitas foto-foto saya membaik setelahnya? Kalau menurut teman saya itu, ‘mulut buaya’ nya justru makin banyak! Hahah! XD

Lantas orang bijak bilang: dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Kalau benar seperti itu, berarti Jakarta yang gitu-gitu aja, sesungguhnya berasal dari hati yang gitu-gitu aja. Video klip yang dianggap rasis, sesungguhnya berasal dari hati yang rasis, dan foto yang penuh mulut buaya, sesungguhnya berasal dari hati teman saya yang dipenuhi mulut buaya. XD

Jadi bagaimana duniamu hari ini, kawan? πŸ˜€

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Antara Taylor Swift, Ahok dan Mulut Buaya

    • Messa says:

      Tentu karena mas punya hati yang jernih, makanya bisa menilai sesuai fakta dan bisa melihat dunia dgn indah πŸ™‚

      Kalo hati kusam, bisa dipastikan tak bisa menilai sesuai fakta dan tak bisa mensyukuri dunia yg indah πŸ™‚

      Like

  1. Siti Lutfiyah Azizah says:

    Kalo yg taylor swift, mungkin aja yg berpandangan gitu lebih ke bersikap hati-hati sih mba, belum tentu juga karena cerminan diri yg rasis *meskipun saya belum liat videonya sih, ahaha*. Soalnya emang ada juga orang-orang tertentu yg tingkat kehati-hatiannya cukup tinggi buat ga menyinggung orang lain untuk hal tertentu kaya ras, dkk, dan saya tetep bisa apresiasi orang kaya gini sih, hehe.

    Nah, kalo yg ahok sama yg buaya sih yaa yaa.. Itu no komen aja deh. Mending senyumin tapi tutup telinga selama ga merasa kaya yg dibilang dan in progress ke arah yg positif. Hehe.

    Sederhananya, emang apa yang kita ucapkan dan tunjukkan merupakan cerminan hati sih, baik saat kita menilai atau dinilai orang lain πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s