Batak Palsu Pergi ke Pesta

Untuk segala sesuatu ada waktunya. Setelah cukup lama tak wara-wiri di pesta Batak, kemarin dulu saya kembali bersukacita bersama kawan di pesta pernikahan halak hita (baca: orang Batak).

Nah, di pesta kemarin itu, ternyata orang-orang masih….

Tampil se-wah mungkin.

Dandan secantik mungkin, pakai sanggul. Pokoke jangan sampai terlihat loyo. Ya iyalah namanya pun ke pesta. Kalau kalian datang pakai daster, ntar dikira mau tidur atau nggak waras. šŸ˜€

Oya, jangan lupa pakai tas bermerek dan perhiasan di seluruh anggota tubuh. Jangan ada yang kelewatan. Kalau bisa pakai yang ukurannya segede gambreng, supaya orang terpukau melihatmu.

Semakin banyak dan besar kalian pakai, maka orang akan semakin menghormatimu. Begitulah rumusnya. Bahkan kalau perlu pinjam ke toko emas atau toko perhiasan. Trus kalau bisa lagi, pakai mobil yang paling mewah supaya semua mata memandangmu. šŸ˜‰

Nyanyi dengan suara yang…

Kece badai.

Serius.

Kece badai.

Coba simak suara Alsant Nababan dalam lagu Aut Boi Nian, yang diaransemen oleh Viky Sianipar ini. Kalau bukan kece badai, apa lagi sebutannya? Cetar membahana? Ganteng maksimal? XD XD

Bawa beras dan ulos.

Kalau kalian seperti saya, Batak Palsu, maka sebaiknya bawa kedua benda ini. Jangan kayak saya kemarin yang pergi dengan pedenya hanya membawa ulos tanpa beras.

Sewaktu kami nunggu di depan pintu gedung resepsi, tiba-tiba muncul rumor yang mengatakan bahwa kami harus bawa beras. Padahal sebelum menghadiri pesta, kami udah konfirm ke yang punya pesta, kewajiban apa lagi yang harus dibawa selain ulos. “Nggak ada,” katanya. Kami pun tenang melenggang.

Saya sebenarnya cuek. Lha wong yang punya pesta aja bilang gak ada, kenapa harus kebakaran jenggot menghadapi rumor yang tiba-tiba muncul ini? Tapi melihat kehebohan keluarga saya, kecuekan saya pun bobol.

Taruhannya memang tinggi: nama baik keluarga. Jika benar harus bawa beras dalam tandok, dan kami absen membawanya, maka jeleklah itu nama keluarga satu generasi. Oyea… We’re talking about adat Batak here. šŸ˜€

Walau sebetulnya, setelah kejadian ‘tante teroris’, saya pun sudah tak begitu peduli apa kata orang tentang tindak tanduk saya. Karena apapun yang saya lakukan, orang pasti berkomentar.

Sama halnya saya pun begitu. Saya pasti berkomentar tentang entah apa pun yang dilakukan orang di luar sana. Hukumnya sudah begitu. Tuhan menciptakan, manusia berkomentar. So don’t be so pusing lah orang mau bilang apa. šŸ˜› Kita tak bisa hidup persis seperti ekspektasi orang lain.

Entah bagaimana, akhirnya beras dan tandok berhasil kami dapatkan. Tapi begitu rombongan kami dipanggil masuk ke gedung, seseorang menyuruh kami untuk tidak membawa masuk beras tersebut. Karena menurut beliau, hal itu bukan tugas kami. Whaaat????

tandok berisi beras

Pengen marah rasanya diperlakukan kayak gitu. Udah pontang-panting nyari beras dan tandok, eh tahu-tahu pas mau dibawa masuk, “bukan tugas kalian,” katanya. Arghh…

Sebetulnya tak elok juga sih menyalahkan si penyebar rumor. Saya lah yang seharusnya khatam tentang adat Batak, agar tak mudah goyah entah rumor apa pun yang tiba-tiba dihembuskan orang di luar sana.

Tapi orang yang udah khatam saja kadang bisa salah antara apakah harus bawa beras atau ulos. šŸ˜› Karena adat Batak yang sekarang ini, ada yang dibikin sesuka perut. šŸ˜€ Jadi, ya, jalan terbaik seperti yang sudah saya sebutkan di atas tadi, siapin aja dua-duanya kalau kalian tak mau apes. šŸ˜€ Atau kalau kalian tak mau pusing, nggak usah pakai adat Batak sekalian. šŸ˜€

(Ah, elu mah masih sukur cuma beras dan tandok, Mes. Gimana tuh nasib mereka yang batal nikah, padahal sak gedung, katering, bunga, dll, sudah dipesan dan undangan sudah disebar?)

Ngomong kayak orang lagi berantem.

Kayak nelan toa (minjem istilahnya eda Py yang pengantin baru). šŸ˜€

Kedengaran dari ujung sana sampai ujung sini. Padahal yang ngobrol cuma dua orang. XD XD

Ini mah udah trademark orang Batak kali ya? Pastinya sih gara-gara suaranya emang bagus. šŸ˜€ Coba kalo nggak bagus, mungkin bakalan bisik-bisik doang. XD

Makan kayak kesetanan.

Saya ingat, sewaktu kecil, nyokap pernah mengajak saya ke pesta. Kami duduk di satu meja panjang dengan total 8 kursi. Di atas meja telah tersaji makanan dan air putih untuk porsi 8 orang beserta piring dan bokor cuci tangan. Nggak ada sendok garpu. Makannya pakai tangan.

Di hadapan kami duduk seorang perempuan paruh baya beserta cucu perempuannya seusia saya, sekitar 6 tahun. Belum selesai doa, si perempuan paruh baya tiba-tiba membuka plastik penutup makanan dan mengambil piring si cucu seraya menyendokkan nasi serta lauk pauk porsi kuli ke dalamnya.

Setelah itu, si perempuan mengambil piringnya sendiri dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk yang juga porsi kuli. Saya terperanjat. Saya menoleh ke nyokap dan melihat beliau pun ternyata sedang memandangnya dengan tatapan tak percaya sambil menggelengkan kepala tanda tak setuju dengan tindak-tanduk si nenek. Usai melakukan aksinya, si nenek duduk manis lipat tangan sambil tersenyum puas.

Selesai doa, tamu-tamu lain pun harus puas berbagi makanan yang tersisa di meja. Si cucu tentu tak mampu menghabiskan makanan porsi kuli itu. Ya iyalah wong masih kecil, badan pun cungkring.

Lantas apa yang dilakukan si nenek? Ia mengambil plastik dari dalam tasnya, membukanya lebar-lebar, lalu memasukkan makanan si cucu ke dalamnya. Plastik diikat rapi dan, bles, ia meluncur mulus ke dalam tas.

“Serakah,” gumam ibu saya. Si nenek pura-pura tak dengar. Saya mah kasihan dengan cucunya. Di usia belia dia sudah ‘diajari’ untuk serakah. Anak kecil belajar dari apa yang dilihatnya sehari-hari dan meniru apa yang dilakukan orang-orang terdekatnya.

Terlepas dari apapun alasan si nenek melakukannya, tak seharusnya ia berlaku “pokoke perutku selamat, orang lain I don’t care.” Ada 8 orang di meja itu. Namun karena keserakahannya, tamu yang 6 orang harus mencukupkan diri dengan sisa makanan yang ada.

Kecuali kalau misalnya si nenek memberitahu kami tentang kondisinya bahwa mereka kesulitan makan, dan hanya di pesta-pesta seperti inilah mereka bisa makan dengan layak, mungkin kami dan tamu-tamu lain itu bisa mengerti/maklum. Tapi kalo blas nggak bilang apa-apa, main angkut aja ke plastik, wajar kami marah.

Sekarang, seperempat abad kemudian, ternyata masih sama, atau bahkan mungkin bertambah parah? Laki-laki perempuan porsi kuli. Yang paling miris, makanan ini kadang bersisa banyak di piringnya dan akhirnya berakhir di tempat sampah.

Sebegitu susahnyakah hidup orang Batak sehari-hari hingga harus mengambil makanan dengan cara seperti itu? Dalam acara adat orang meninggal pun begitu. Bahkan kadang sebelum doa dibacakan, beberapa tamu sudah pada makan. Dan bukan hanya makan, mereka bahkan memasukkan makanan-makanan itu ke dalam plastik atau wadah yang sudah disiapkan dari rumah…

pesta adat orang meninggal

 

Makan dessert lappet dan kopi sebagai teman menunggu mangulosi (memberi ulos).

Udah jam empat, kenapa lappetnya sama kopi belum keluar? Ntar dulu. Jadi rupanya lappet dan kopi biasanya dikeluarkan untuk mereka-mereka yang akan mangulosi pengantin.

Tamu-tamu lain yang cuma ngasih tumpak (amplop berisi uang), yang biasanya lebih dari setengah undangan jumlahnya, ini mesti pulang dulu. Kalau nggak pulang, diusir. XD Nggak ding. šŸ˜€

Nah, setelah mereka pulang, baru deh si manis gurih ini dibagikan ke tamu. Favorit saya lappet ketan isi kelapa gula merah atau kelapa gula putih. Hmmm… Saking enaknya, kemarin saya lupa mengabadikan si mungil yang manis gurih ini. šŸ˜€

Kalau kalian ingin mencicipi lappet, ikutlah memberi ulos ke pengantin. Bisa saja sih bikin sendiri di rumah. Resepnya banyak bertebaran di gugel. Tapi saya jamin, rasanya bakal tak semaknyus saat kalian menikmatinya rame-rame dengan dongan (kawan) di pesta. šŸ˜€

 

 

 

 

Advertisements

28 thoughts on “Batak Palsu Pergi ke Pesta

  1. Baca ini jadi ingat masih ada utang Pesta Adat :p Ah iya, waktu pas pesta kmren dari awal dah langsung ngasih tau ke masing2 keluarga kalau bungkus2 pasti ada tapi nnti setelah pesta usai. Malu2in kalo dilihat tamu lain kan šŸ˜€

    Duh berasnya bikin keki ya..

    Like

  2. Waah tulisan yang sangaaaaaaaaaat menarik šŸ™‚
    Aku pernah sekali kondangan ke acara Batak mbak. Lokasinya di gereja šŸ™‚ tamu muslim kayak kita tempatnya beda di halaman gereja. Karena ada problem sama parkir mau gak mau aku masuk ke dalam. Ternyata pestanya seperti yang mbak bilang itu. Orang duduk di meja panjang dan disesuaikan dengan marga. Makanan buanyaaak banget dan ya, orang makan pake tangan. Salut sama kekompakan suku batak.

    Tapi aku gak ngeh soal kudu bawa beras. Yang aku tahu ada proses lelang hewan.

    Like

    1. Om, dalam tiap pesta adat Batak, pasti ada yang namanya: Dongan Sabutuha, Hula-Hula, dan Boru. Nah mereka bertiga ini punya kewajiban/tugas dan hak dalam tiap acara adat. Entah bawa beras, ulos, makanan, dll. Kemarin daku kebagian di bagian Dongan Sabutuha. Kira2 gitu deh penjelasan singkatnya dari si batak palsu ini. XD

      dan setahu aku nggak ada lelang hewan kalo di pesta adat pernikahan atau meninggal. Tapi yang ada ialah pembagian daging (sebutannya: jambar) yang caranya memang agak mirip macam lelang hewan. šŸ˜€

      Like

  3. Hahahahaa….. lucunya eda postingan kau yg satu ini…. wkwkwkwkwkkk šŸ˜‰
    Joget ga eda di pesta itu??? manortor kan ya namanya..??? Jadi ingat pas nikahan ipar thn kemarin, kami disuruh nyawer…. bgitu yg keluar pecahan 5ribuan, tiba2 ada inang bisik ke si abang, kek org susah betul kau ini…bikin malu jauh2 dari belanda… hahahahahaaa…….

    PS. dirimu batak palsu toh?? šŸ˜‰

    Like

  4. Itu namanya DIPALAS alis dipalastikin makanannya šŸ˜
    Btw aku kalo ke pesta adat malah perhiasannya minim, sepantesnya aja… Nggak terpukau liat yang perhiasannya segambreng… Kalo kaya beneran malah nggak pamer :mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s