Simple Life

“Halo, selamat siang. Bisakah di sini menyanggul rambut?” sapa saya ke staf sebuah salon yang berada di dekat penginapan tempat kami tinggal selama beberapa hari ke depan.

“Oh, tentu bisa, kak. Sanggulnya mau model apa?”

“Yang simpel aja, model french fries twist.”

“Kakak bawa rambut?” tanya si staf sambil melirik rambut pendek saya.

“Tidak… Apa kalian tak punya stok rambut?”

“Oh, tidak, kakak. Untuk sanggul, harus pakai rambut sendiri atau bawa rambut sendiri.”

Glek. Padahal pesta akan dimulai kurang dari 24 jam. Koreksi: pesta pernikahan dalam adat Batak. Demi apa tadi saya tak bawa rambut yang menganggur di laci lemari di rumah saya di Kalimantan sana? Demi Ucok sebuah ke-simpel-an.

Karena dalam pikiran saya yang simpel, semua salon, entah di mana pun itu berada, pastilah memiliki stok rambut untuk dijadikan sanggul. Ternyata bukan begitu aturan permainannya. πŸ˜€

Singkat cerita, akhirnya saya dirias oleh make up artist (MUA) langganan sodara saya. Saya bilang ke MUA-nya bahwa saya pengen riasan yang simpel saja. Nggak pakai bulu mata palsu, nggak pakai eyeliner, nggak pakai maskara, alis mata gak perlu dicukur, dan bagian hidung nggak usah pakai shading-shading-an. Bahkan kalau boleh, rambut pun tak perlu disasak demi sanggul. Sakit soale bok. πŸ˜€

Iya, buat saya tampil cantik itu (mestinya) nggak perlu melewati serangkaian kegiatan menyakitkan. Beauty is not pain. Beauty is beauty. Pain, ya pain lah. Masak beauty disamakan dengan pain. πŸ˜› Kalo beauty is pain, berarti rumah sakit = rumah beauty? πŸ˜›

Selesai dirias, saya pun mematut diri di depan cermin. Salut juga saya melihat karyanya yang bisa membuat rambut saya yang pendek seolah memakai sanggul. Tapi pas mau bayar, nyaris pingsan saya mendengar jumlah tagihannya. Hiks.

(satuΒ ringgit nyaris pingsan, yang ini pun nyaris pingsan juga. Elu maunya apa sih mes?)

Sekali lagi, masih karena pikiran saya yang simpel ini, kalau riasannya simpel, jasanya pun mestinya simpel juga dong, kan? πŸ˜›

(tapi bikin rambut lo yang pendek itu bisa disulap macam pake sanggul, nggak simpel lho mes…)

Iya juga sih…

Dan malamnya seusai pesta, riasan ini dihapus begitu saja… Hilang sudah riasan simpel yang bikin nyaris pingsan…. Padahal kalo dibeliin tas, bisa dapet berapa biji tuh? 😭😭😭

(tergantung tasnya juga, mes. kalo elu mau beli tas Hermes, ya elu cuma dapet talinya doang, kali…)

Makanya pas bapak saya menyarankan untuk beli buku Simple Life karya salah satu jurnalis senior Indonesia yang, menurut beliau isinya bagus tentang makna kehidupan, ditulis dalam bahasa indah dan enak dibaca, sebagai bahan renungan untuk ulang tahun saya, saya bilang ke beliau bahwa saya tidak begitu tertarik. Soale masih sakit ati sama si simpel ini. πŸ˜›

We want to live a simple life. Namun nyatanya, hidup tidaklah sesimpel itu. πŸ˜€

Tapi kemarin-kemarin waktu mampir ke toko buku, saya intip juga buku ini. Kebetulan ada satu eksemplar yang tak dibungkus plastik. Kayaknya emang bagus. Plus ada foto-foto hasil jepretan penulis di dalam. Iman pun sedikit goyah. Beli nggak ya? Do I really need it?Β Maklum lagi banyak utang, rupiah pun udah tembus 14 ribu per dollar. Jadi mikirnya mesti panjang. πŸ˜› πŸ˜›

(yaelah mes, kalo suka beli aja. gak usah kebanyakan mikir. make it simple)

Simple oh simple…

Seperti apa simple life menurut versi kalian?

 

 

 

 

Advertisements

23 thoughts on “Simple Life

  1. Menurut saya sih simple life justru saat kita nggak perlu kebanyakan mikir saat mau ngelakuin sesuatu.
    Jadi kalau untuk kasusnya mbak, kalau emang suka bukunya mah beli aja mbak.. sesimple itu. Hehee.. πŸ˜€

    Liked by 1 person

  2. Baca cerita ini langsung kebayang dong keribetan inang2 batak kalo mau pesta hahaha…. πŸ˜‰

    Simple life buatku adalah menikmati hari dgn ucapan syukur… Gampang dikatakan tapi susah dipraktekan… Aku sedang belajar keras melatih hati utk bersyukur atas apapun yg ku alami, setiap hari….

    Like

  3. Emangnya salon dimana tuh Mes yang nyaris bikin pingsan dengan sanggul simpel itu? Negara tetanggakah? Simple life itu menikmati hidup tanpa mengeluh. Namanya aja menikmati, πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s