Tak Ada Gulai di Vietnam

Hampir setahun tak bertemu, saya pangling melihat sodara saya yang tampak telah kehilangan cukup banyak bobot tubuhnya. Apa rahasianya?

Siang itu, ia membawa kami menyantap makanan khas Vietnam di sebuah kedai yang, kalau tak salah, bernama sama dengan salah satu jalan di Bandung sana. Pasteur.

Ia memesan untuk tiap kami semangkuk pho ukuran kecil. Ketika pelayan meletakkan mangkuk pho yang berisi irisan daging sapi, mi putih dan tauge/toge di meja, saya langsung terbelalak dan berpikir, “Kalau mangkuk kecilnya aja sebegini, lha ukuran besarnya segede apa…?”

pho

Sebelum pho yang berkuah gurih dengan rasa asam yang samar itu tiba, ada satu makanan yang menarik perhatian saya. Bentuknya seperti otak-otak yang dibungkus daun pisang. Saya mencobanya sebiji dan terpesona. Rasanya memang macam otak-otak. Cuma bedanya, kalau otak-otak berbahan dasar ikan tenggiri, yang satu ini berbahan dasar daging babi.

otak-otak vietnam

Menurut sodara saya, makanan di Vietnam jarang digoreng. Biasanya direbus atau dikukus. Mereka juga minum air kelapa muda dari batok, tapi dagingnya tak dimakan. Padahal justru itu yang enak! Apalagi aktifitas mengerok dagingnya dari batok itu kan seru banget, ya? πŸ˜€

Esoknya, sodara saya membawa kami makan malam di atas kapal. Awak kapal berseragam putih-putih menyambut kedatangan kami bak tamu-tamu penting yang akan melakukan perhelatan penting di atas kapal.

Kami duduk di salah satu meja yang menyebelah dengan pembatas tak berjendela. Angin malam sesekali mengelus wajah. Sodara saya kembali memesan makanan dalam bahasa Vietnam yang terdengar aneh di telinga itu. Beliau cukup fasih.

Ngomong-ngomong tentang bahasa Vietnam, pertama kali saya mendengar bahasa aneh ini di tengah malam saat kami tiba di Saigon. (saya lebih suka menyebutnya Saigon daripada Ho Chi Minh City, karena terdengar lebih seksi di telinga πŸ˜€ )

Sodara saya berdebat dengan resepsionis penginapan mengenai ketiadaan salah satu kamar pesanan. Padahal sehari sebelumnya sodara saya ini sudah datang ke situ untuk konfirmasi.

Debat mereka yang cukup panjang dalam bahasa Vietnam, nyaris membuat kami semua yang menunggu tertidur di sofa lobi saking lelahnya. Sebagian yang tak sanggup menahan kantuk, akhirnya benar-benar tidur di sofa. Saya sendiri memaksa diri menahan mata, demi mendengar bahasa yang ajaib itu di telinga… Satu jam kemudian, entah bagaimana kamar berhasil diperoleh.

Paginya, dengan menggunakan lift kami turun ke bawah menuju mini market yang berada di seberang penginapan untuk membeli sarapan. Seorang lelaki dan perempuan telah berada di dalamnya. Sepertinya mereka berasal dari lantai atas.

Tiba-tiba saya mendengar kalimat, “Ngeek… Ngeek…” keluar dari bibir perempuan itu. ‘Nyawa’ saya yang belum terkumpul sepenuhnya otomatis ‘hidup’. Saya pikir mereka sedang bercanda. Ternyata tidak. Mereka sedang mengobrol!

Oh-em-ji, bahasa apakah ini…? Setelah beberapa jam di Saigon, barulah saya tahu bahwa hampir seluruh pengucapan dalam bahasa mereka terdengar di telinga seperti “ngeeee… ngeeee…” Untung bukan ‘ngehe’… XD

Oke kembali ke makan malam di kapal…

Lagi-lagi, sebagian besar makanan yang dihidangkan di meja adalah sayuran dan rebusan. Tak ada santan. Tak ada gorengan. Tak ada gulai. Apakah ini yang membuat sodara saya itu akhirnya langsing?

Di Hanoi, usai meletakkan tas di penginapan, kami berburu makan siang untuk mengisi perut yang keroncongan. Udara dingin di Utara membuat perut cepat lapar.

Dan di situlah, di antara toko-toko yang menjual pakaian musim dingin dan tukang pangkas rambut, kami kembali berjodoh denganΒ pho. Di depan sebuah warung yang mungil, seorang perempuan sibuk berkutat dengan wajan penggorengannya. Meja dan kursi kecil yang memenuhi warungnya siang itu tampak memanggil-manggil kami untuk segera masuk menghangatkan tubuh.

Begitu masuk, kami duduk perlahan. Seolah takut kalau-kalau sedikit saja gerakan salah akan membuat si kursi dan meja patah oleh gerombolan si berat. XD

kursi meja pendek

Meja kursi mungil, sepatu pun begitu. Saking mungilnya, saya menyangka kalau sepatu-sepatu yang dipajang di etalase-etalase itu diperuntukkan bagi anak-anak! Ternyata bukan. πŸ˜€ Ketika saya bertanya mengenai serba mungil ini kepada Jerry, pemandu kami di Hanoi, ia menjelaskan, karena umumnya mereka bertubuh mungil, maka segalanya berukuran mungil. Bahkan, masih menurut Jerry, biasanya mereka duduk melantai.

Di warung pho, sodara saya kembali memesan makanan berkuah itu dalam bahasa Vietnam yang kali ini membuat saya tak mampu menahan tawa. Mungkin kalau orang Vietnam datang ke Indonesia, mereka pun akan heran mendengar bahasa kita, khususnya bahasa anak Medan:

“Eh, apa, coba kau apakan dulu si apa itu, di apa sana. Entah sudah diapa-apakan dia di apa sana…”

Apaaaaaa??? XD XD

Dengan gesit perempuan itu menyiapkan pho permintaan kami. Kalau di Saigon menggunakan sapi, di Hanoi ayamlah yang menjadi bintangnya. Saya sendiri lebih menyukai racikan pho ala Utara ini. Ringan, tak ribet di lidah, namun mampu mengusir dingin.

Malamnya kami bertandang ke Old Quarter, tempat paling hip di Hanoi. Di sini lebih banyak lagi dijumpai warung dengan meja dan kursi mungil. Pedagang suvenir bertabur di sana-sini. Kami makan malam di salah satu warung yang paling ramai dan nampaknya paling digandrungi di daerah ini, serta memesan makanan yang cuma ada dalam daftar menu mereka… Itu artinya, nasi goreng tidak termasuk di dalamnya. XD XD XD

Pilihannya cuma ada: nasi ketan ayam panggang, dan nasi ketan babi panggang. Insting saya berkata agar memilih babi. Dan… ternyata ia tak meleset. Nasi ketan disajikan bersama potongan timun di atasnya. Rasanya…? Hmmm…. Tentu lebih berasa daripada nasi ketan ayam panggang yang, menurut sebagian besar keluarga saya yang memesannya, hambar. XD XD XD XD

Di hari kepulangan, ketika kami transit di KLIA, kami mengakhiri ‘penderitaan’ dan langsung memesan nasi lemak plus laksa bersantan di salah satu warung makan minum. Cukup sudah segala rebusan dan sayuran. Sekarang saya tahu, mengapa sodara saya itu kehilangan banyak bobot tubuhnya. XD XD

Jadi gimana, ada yang berminat untuk membuka warung Padang di Vietnam? XD XD

 

 

Advertisements

30 thoughts on “Tak Ada Gulai di Vietnam

  1. Wah ternyata begitu ‘bersih’ ya makanan disana πŸ™‚ warung Padang disana, mungkin cm laku di kalangan orang Indonesia/Malaysia berbobot diatas rata2 yg kawatir mjd langsing klo makan makanan Vietnam terus, hehehe.

    Like

  2. Aku pas ke HCM seminggu juga langsung turun 2kg. Ngiler padahal pengen makan Pho, tapi aku ga makan daging dan ayam. Akhirnya hampir setiap makan ke restoran Malaysia atau India. Balik surabaya langsung makan gurame bakar haha. Aku perhatikan juga, orang vietnam itu gemar makan buah. Pas lihat mereka rame2 minum bir, ada sebaskom gede potongan2 bermacam2 buah juga. Pantes tetep langsing.

    Like

  3. hahaha, dl waktu ke UK utk seminar jg ada bbrp peserta dr vietnam. waktu dengar mereka ngobrol satu sama lain, aku yg denger bengong tak terkendali. nengok ke yg satu lalu balik ke yg lain. berharap bs mengerti apa yg sdg mereka percakapkan, tp gatot ! dan hanya memperoleh 1 kesimpulan, kok berasa aneh ya di kuping. hahaha … bener tuh ‘nes, jangan2x menurut mereka bahasa kita jg aneh ya πŸ˜›

    btw, temenku gemuk aja di sana. secara nyari baby (babi) mulu. wkwkwkwk …

    Like

  4. Gak makan gorengan itu memang resep langsing yg mujarab, tapi susah bener ngejalaninnya. Ngeliat tempe goreng aja udah gak tahan, apalagi ditambah cireng, risol sama pisang goreng….aku lemaaahh!!

    Like

    1. kalo gitu bisa tolong sekalian dishare resepnya mbak cantik? πŸ˜‰ aku pernah bikin, tapi pakai resep sop ayam.. rasanya lumayanlah, bisa buat menghibur diri mbak.. hahahaaaa XD

      Like

  5. Memang tanpa santan lebih sehat. Lebih sehat lagi gak pakai garam. Jadi marilah makan hambar, πŸ™‚
    Kata Saigon itu kok bagi saya kedengaran seperti sagon, hahaha…

    Like

  6. Ada cerita menarik tentang dari temen yang doyan makan dan doyan belajar sejarah makanan. Konon Pho itu kuahnya banyak biar kenyang. Dikasih sayur banyak juga karena murah. Dagingnya sedikit karena mahal dan hanya untuk perasa aja.

    Bahasa Vietnam menurutku aneh dan kalau mereka ngobrol berisik banget.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s