Lebih Enak Jadi Penonton

Di sela-sela gladi bersih acara Hari Perempuan, seorang teman yang ikut sebagai pengisi acara nyeletuk, “Ah, memang lebih enak duduk manis di kursi penonton. Nggak perlu capek ikut latihan seperti ini. Tinggal duduk, datang, dan menonton semua acara yang dihidangkan dari awal sampai akhir…..”

Celetukannya itu terngiang-ngiang di telinga saya hingga hari H. Sesaat sebelum tampil di panggung untuk bernyanyi, tahu-tahu ada gangguan teknis yang membuat saya terpaksa berdiri menunggu di balik layar, di atas sandal berhak setinggi 7 cm. Lelah berdiri karena tak biasa menggunakan high heels, saya pun akhirnya berjongkok di balik panggung yang berukuran kecil serta panas itu, dan bertanya-tanya mengapa saya bisa berada di situ, menjadi salah satu pelaku.

Semua berawal dari keselamatan saya yang ajaib sehabis jatuh ditabrak motor bulan Maret lalu. Mengikuti ucapan Klaatu dalam The Day The Earth Stood Still: at the precipice, we change, saat itu saya pun ingin berubah. Bertobat tepatnya. Saya mau menggunakan kesempatan hidup kedua kalinya ini untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, khususnya bagi lingkungan saya. Begitulah tekad saya saat itu.

Dan ompung Paulo Coelho memang benar, “Begitu kau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu membantumu meraihnya.” Tawaran pun berdatangan. Tentu saya terima semua. Pikir saya, kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Mumpung masih sehat, semua anggota tubuh masih lengkap, masih bisa bernafas, dan waktu tersedia, mengapa tidak mencoba semua hal yang baik?

Sejak itu kalender saya penuh dengan coretan jadwal meeting di sana, meeting di sini. Latihan di sana, latihan di sini. Saya menjadi orang paling sibuk di dunia. Bahkan tawaran menjadi peragawati catwalk pun saya terima. Siapa sangkacita-cita yang pernah saya impikan saat masih menjadi gadis cilik berseragam putih merah, akhirnya kesampaian juga dilakoni. Everything is possible.

Selama ini saya pikir jadi peragawati itu gampang. Cukup lenggak-lenggok di panggung, and done! Ternyata tidak.

Coba kalian bayangkan berjalan luwes dengan sepatu hak tinggi, plus dada membusung dan dagu diangkat sekian derajat. Dan setelah berjalan beberapa meter, kalian harus melakukan blocking lalu berpose sambil memasang senyum menawan (yang sampai sekarang saya belum lulus) ke arah penonton, dengan tujuan supaya kain-kain yang diperagakan itu laku. Tujuh kali dalam seminggu kalau jadwal fashion show padat.

Baru dua kali latihan dengan high heels saja sudah membuat tulang punggung nyeri. Tapi berhubung sudah tekad, saya lakukan semua dengan ikhlas dan senang. Karena saya yakin, lakon apa pun itu, jika dilakukan dengan kedua hal tadi, pastilah terasa ringan. Sebaliknya, jika dilakukan dengan terpaksa, maka segalanya akan terasa berat.

penonton atau pelaku

Acara yang dipersiapkan selama beberapa bulan itu pun berlangsung sukses hanya dalam hitungan jam.

Para penonton mungkin tak tahu bagaimana perjuangan atau pergumulan panitia serta para pengisi acara membuat acara dikemas sebaik mungkin, agar penonton nyaman dan senang, termasuk menyelesaikan hambatan teknis seperti yang telah saya sebutkan di atas. Dan, panitia serta para pelaku pun, mungkin tak tahu (bahkan mungkin takkan pernah tahu) bagaimana perjuangan atau pergumulan para penonton hingga bisa berada di sana untuk menyaksikan pertunjukan. Yang jelas, keduanya sama-sama berjuang dan sama-sama memiliki pergumulan.

Hari ini kita menjadi pelaku, bisa jadi esok harinya kitalah yang menjadi penonton. Yang mana pun itu, jangan lupa, keduanya sama-sama memiliki konsekuensi yang tak bebas untuk dipilih.

 

Nah sekarang, ada yang mau booking saya untuk memeragakan kain atau nyanyi? XD XD

 

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Lebih Enak Jadi Penonton

  1. Walaupun tak pernah jadi peragawati saya tahu profesi ini, seperti juga model, paling melelahkan sedunia. Harus selalu tampil cantik dengan muka ceria. Belum lagi bekerja dengan orang-orang yang tingkat stressnya juga tinggi. Alah mak…Kagum dengan para wanita cantik itu 🙂

    Like

  2. Saya kadang kepikiran, kenapa kita itu sering ‘memaksakan’ hal yang sebenarnya kita sendiri yang bisa atur. Misalnya tentang high heels ini, hampir semua mengatakan memakai high heels itu kurang nyaman dan melelahkan, tapi ya masih dipakai saja. Sederhananya, untuk alas kaki, bukankah yang lebih dibutuhkan adalah kenyamanan, terlihat rapi dan mudah untuk berjalan?

    Like

    1. waktu saya datang latihan pakai sandal yang datar, pelatihnya langsung menegur supaya untuk latihan selanjutnya harus pakai high heels.

      mungkin standar untuk jalan di runway memang harus pakai high heels, mas.

      kecuali nanti kalau saya punya show sendiri dan runway sendiri, bolehlah model2nya kuminta pakai sepatu datar XD

      Liked by 1 person

  3. Kalo ada masalah teknis, penonton bilang: “kayak gini aja kok error” sementara panitia udah pusing tujuh keliling mencoba mengatasi masalah 😆

    Tapi tetep, lebih seru jadi pelaku kehidupan daripada penikmat saja. Karena dunia ini adalah panggung sandiwara. #eaaa x)))

    Like

  4. Salut deh sama Messa, gak semua orang tahan godaan untuk tidak menjalankan apa yang sudah ditekadkan. Saya contohnya, sejak setengah tahun lalu punya tekad belajar bahasa Inggris secara otodidak, tapi sampai saat ini…….(hehe..jadi malau).

    Like

  5. Kangen ih masa2 sibuk ini itu. Kepanitiaan ini itu.. Huhuu.. Tapi pas klo ada panggilan atau tawaran kok ya males gitu..huhu.. Keren ‘da bisa diri di hak 7cm lama2.. hihi 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s