Keteladanan

Usia 1-10 adalah usia penting di mana anak memerlukan kehadiran orangtua. Terutama bapak. Lewat dari usia tersebut, anak sudah ‘pergi’ menemukan dunianya sendiri, bertemu teman baru, dlsb.

keteladanan

Makanya jangan heran, jika ada anak pada usia dewasa diminta bapaknya untuk bertemu, jawabnya: tidak ada waktu, itu terjadi karena saat anak memerlukan bapaknya, si bapak tak pernah ada. Sibuk bekerja.

Bekerja boleh saja. Asal ingat keluarga. Kalau ada apa-apa, bukankah keluarga yang akan dicari terlebih dahulu?

Saya teringat kepada seorang teman yang tiap kali ada waktu, selalu mengantar dan menjemput anak-anaknya dari dan ke sekolah. Padahal ada istri yang selalu siap sedia mengantar jemput anak-anak mereka.

Alasannya, ia ingin ikatan antara dia dan anaknya terus ada. Sehingga anaknya tak menjadikan dia orang asing di rumah mereka.

Mungkin karena dirasa laki-laki sebagai pencari nafkah yang utama, kalau ada apa-apa, atau anak bertanya, si bapak sering menjawab: tanya ibumu. Padahal peran pengasuh itu bukan monopoli perempuan.

Jadi bapak-bapak, doakanlah keluargamu, istrimu, anak-anakmu, dan undanglah Tuhan hadir dalam keluargamu. Karena bapak adalah pembawa/sumber kehidupan.

Jika orangtua berkesan baik bagi anaknya, maka pendamping hidup atau calon pendamping hidup yang dicarinya kelak pun tak jauh-jauh dari figur bapak atau ibunya.

Namun jika tidak ada keteladanan, maka anak akan mencari jodoh yang sama sekali tak ada kemiripannya dengan orangtua.

Satu keteladanan lebih berguna daripada seribu kata-kata.

Nah, sekarang, coba cek pendamping hidup kalian. Ada kemiripan nggak sama orangtua? XD

 

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Keteladanan

  1. Jadi ingat diri sendiri. Pas awal2 kuliah, ditanya Ibu nanti kalau mau nikah tipe suami mau yang seperti apa. Aku dengan tegas menjawab mau yang seperti Bapak sifat2nya. Trus Ibu jawab, yang kayak Bapakmu sudah ga diproduksi lagi dipabrik. Lalu kami tertawa. Setelahnya kalau ada yang bertanya padaku hal yang sama, aku tetap menjawab ingin punya suami yang sifat2nya seperti Bapak. Kok ya Alhamdulillah doa dikabulkan, Suamiku punya banyak kemiripan sifat dan keteladanan seperti Bapak 🙂 Bahkan nyaris sama. A girl’s first love is her Daddy.

    Like

  2. Ada bangett kalo Ai sama papa ku 😀 Sama2 sabar dan ga ragu terjun untuk urusan domestik,.. Bener banget Mes, smoga kita bisa jadi orang tua yg baik buat anak2 kita.. Aminn 😀

    Like

  3. Mess, postingan kamu ini mirip banget sama khotbah nya Joel Olsteen tadi pagi di CNBC, dia bilang bahwa seorang ayah itu menentukan pribadi anak-anaknya, jd dia menekankan semua ayah utk selalu memberi ucapan yang baik mengenai anaknya, entah itu pujian, semangat dan kata cinta.
    terus gimana dgn yang ga punya ayah? tenang…ada Ayah di atas sana yang akan menggantikan posisinya 🙂

    Like

  4. betuuul. duh, hal sepele seperti bersikap di depan anak-anak itu, punya dampak yang awet sampai mereka besar ya ternyata. Bagus kalau apa yang dikenang itu baik. Kalau jelek, dan itu teladan orang tua sendiri, si anak nggak bisa menyalahkan keadaan juga. Maka, jadi orang tua itu semacam kembali lagi ke bangku sekolah. Belajar lagi. Sejatinya memang hidup kita harus selalu diisi dengan ilmu dan kegiatan belajar yang nggak pernah berhenti. 🙂

    btw, blognya simple dan manis banget. Sukak! 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s