Malaka Genting, Sebuah Perjalanan

Kalau Anda sudah pernah pergi ke satu tempat, maka di kali kedua kunjungan, barangkali kejutannya pudar. Apalagi kalau sudah pernah melihat Macau yang berada di Tiongkok sana, bisa jadi Malaka dan Genting yang di Asia Tenggara ini, akan terhempas seolah tak ada apa-apanya.

Bukan maksud saya membandingkan, karena saya yakin, tiap tempat memiliki keunikan yang tak dimiliki oleh tempat lain. Tapi bisa jadi karena saking uniknya Macau, gambaran tentangnya begitu melekat di benak saya dan tak bisa dihapus begitu saja dari bank memori saya.

Maka untuk menghindari pudarnya kejutan atau hambarnya perjalanan, jika ada kemungkinan Anda akan pergi traveling ke satu tempat yang memiliki kesamaan dengan tempat lain yang pernah didatangi, mungkin memori Anda perlu direset.

Memangnya apa kesamaan Genting, Malaka dan Macau? Sama-sama kota tua peninggalan kolonial dan sama-sama kota #ehem# judi…

bangunan-merah-Malaka.jpg.jpeg

Untungnya, perjalanan pergi dan pulang ke dua tempat ini nggak bikin bete. Mengingatkan saya bahwa seringkali yang bikin menarik dari traveling adalah perjalanan itu sendiri, bukan destinasinya.

Setelah mengira-ngira antara harga jalan sendiri dan harga ikut tur, kami putuskanlah pergi ke Malaka dengan jalan sendiri dari Kuala Lumpur. Agak-agak nggak rela juga kami merogoh kocek sekitar 200 USD, untuk perjalanan pergi pulang (pp) dua orang.

Padahal dengan jalan sendiri, total biaya yang kami keluarkan, udah plus-plus semuanya, plus beli payung di Malaka karena hujan (payungku kutinggal di Balikpapan, karena kepedean gak bakalan diguyur hujan selama bertualang hahahaa), plus mengisi perut yang udah keroncongan sebanyak 3x (sarapan di terminal bis, makan siang di resto bernuansa Tiongkok di Malaka, dan makan malam di terminal Melaka Sentral), ‘hanya’-lah sekitar seperempat dari biaya perjalanan ikut tur.

makan.jpeg

Tapi dengan harga 200 USD, Anda memang tinggal tahu beres. Nggak perlu repot browsing sana sini pakai henpon yang layarnya kecil ajubile 😛 , nggak perlu pergi pagi-pagi naik kereta ke terminal bis, nggak perlu basah kena guyuran hujan saat berjalan kaki menjajal kota tua Malaka, dan nggak perlu pergi ke kantor tourist information centre hanya untuk bertanya di mana letak toilet yang memadai untuk buang hajat. 😛

Tapi ya itu, rasanya kurang seru aja karena semuanya semacam tanpa perjuangan. 😛 Kecuali nyari duitnya supaya Anda bisa traveling, ya itu emang perjuangan dong, kan? Nyangkul dari pagi buta sampe tengah malem. 😛 Halah, ini lagi cerita jalan-jalan koq malah bahas nyangkul. 😛 Okelah, mari kita lanjut.

Trus kami pun agak-agak kepedean juga nggak bawa buku panduan traveling yang ditulis oleh mbak @tesyasblog dan Olenka, yang di dalamnya memuat tentang panduan traveling ke Malaysia. Soale nggak kepikiran mau ke Genting dan Malaka, kakak. Dan kalaupun jadi, kami berniat mau bikin petualangan ala kami sendiri, tidak berpatokan pada buku-buku panduan.

Tapi ya nggak mungkin juga jalan ke sana tanpa melihat atau membaca pengalaman perjalanan orang lain yang sudah pernah ke sana, kan? Maka berbekal wifi gretongan tempat kami menginap (yang walaupun cewek-cewek tetangga sebelah sempat berantem, tapi wifi-nya kenceng), kami pun browsing gimana caranya pergi ke Malaka dan Genting dengan kendaraan umum.

Kalau bisa, cara ini jangan ditiru ya, sodara-sodara. Merencanakan perjalanan itu lebih baik dari jauh hari supaya efektif. Jangan heboh di menit-menit terakhir. Eh tapi, kalau bukan gara-gara menit-menit terakhir, nggak ada juga yang mau kuceritain di blog cupuku ini, kan? Hahahhaaa…

Berangkat pagi jam tujuh kurang dengan monorel, maka sampailah kami di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang keren banget itu. Saking kerennya, berkali-kali saya ter-wow-wow di sini. Ada banyak konter penjualan tiket bis antar kota antar negara bagian dengan harga bersaing. Sehingga calon penumpang tak perlu berdesak-desakan macam di terminal terpadu Amplas di Medan sana. Bisnya pun pakai seat yang bisa kita pilih pas beli tiket di konter.

terminal bersepadu selatan.jpg

Ada foodcourt, minimarket, ruang tunggu yang nyaman, bersih pula, petugasnya pun ramah menjawab berbagai pertanyaan kita seperti misalnya: jam berapa bis terakhir dari Malaka, ruang tunggu keberangkatan di mana, tempat makan minum di mana, smoking area di mana, dlst. Keren banget! Pokoknya serasa kayak di airport, deh! Cuma bedanya, setelah berada di dalam bis, kita tak perlu mematikan henpon serta alat elektronik lainnya, karena nggak bakalan mempengaruhi sistem navigasi. Hahaha. 😀

Perjalanan sekitar dua jam ke Malaka pun jauh dari membosankan karena bisnya memutar film komedi jadul karya sineas terkenal Malaysia, P. Ramlee. Bercerita tentang lika-liku hidup dua pria asisten rumah tangga yang tinggal bersama di rumah tuannya, seorang pria pengusaha tekstil yang ditinggal mati istrinya.

Filmnya kocak abis. Saya ingat, seorang penumpang paruh baya di kursi sebelah pun sering tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan demi adegan dalam film berformat hitam putih itu. Kalo nggak salah judulnya ‘Nasib si Labu Labi’. Sayang saya nggak tau endingnya kayak apa. Soale bisnya udah keburu nyampe di terminal bis Malaka.

Bagi Anda para perokok, bersiap-siaplah. Kemungkinan besar Anda akan menderita di Malaka. Karena kota warisan dunia ini telah menjadi kota bebas asap rokok sejak tahun 2011.

Untuk menyiasatinya, siapa tahu Anda udah kecanduan berat, gunakan insting untuk mencari warung makan minum yang membolehkan pengunjung merokok di dalam. Belilah secangkir kopi atau semangkuk mie-nya sebagai imbalan.

no-smoking.jpg.jpeg

Perjalanan ke Genting sendiri mengingatkan saya pada perjalanan ke Berastagi di Sumatera Utara sana. Jalan berliku yang naik, naik dan naik. Makin ke atas, makin pekat pula kabutnya. Turunnya hujan membuat suasana bertambah dingin.

Pokoknya kalau Anda pengen tau gimana rasanya naik cable car dan pengen tau gimana rasanya bermain statistika plus tebak-tebakan (kalau tak mau dibilang berjudi 😛 ), di ketinggian sekitar 1.7 km dari permukaan laut, pergilah ke sini.

Kami sempat mencoba peruntungan di sini dan… kalah. Mungkin kalau menang, bisa-bisa kami malah tak pulang. 😛 Di beberapa meja permainan tebak kartu terdengar sorak-sorai penonton maupun pemain. Ternyata ada beberapa pemain yang menang. Senang rasanya kalau bisa mengalahkan bandar. 😛

Dari pengamatan saya, sepertinya masa keemasan Genting sudah lewat. Makanya cukuplah buat saya satu kali ke sini. Kecuali ada yang mau bayarin 1M, bolehlah saya pertimbangkan. 😛 #dasar matre#

Sedikit tips dari saya: untuk menghindari tak dapat tiket pulang naik bis dari Genting, sebaiknya belilah tiket pp dari KL Sentral. Pengalaman kami kemarin (karena belum berpengalaman dan yakin bahwa tiket pulang selalu tersedia), kami tak beli tiket bis pp Genting-KL Sentral. Maka berhubung seat yang tersedia hanya tinggal ke terminal Pudu Sentral, mau tak mau kami beli. Karena kami tak berencana menginap. Kalau kehabisan, mungkin Anda akan menginap di Genting atau naik taksi dengan harga borongan.

Tapi kalau dipikir lagi, justru itulah esensi dari traveling atau jalan-jalan. Pengalaman. Mengalami yang tak pernah dialami, melihat yang tak pernah dilihat. Sukur-sukur, seiring bertambahnya pengalaman itu, bisa makin dewasa menyikapi segala perbedaan antar umat manusia di muka bumi ini. Dan ketika segala sesuatu berjalan tak selancar yang kami mau, kami jadi tahu gimana bentuknya terminal Pudu Sentral. Konon, TBS dibangun karena kapasitas terminal Pudu Sentral ini sudah tak memungkinkan lagi menampung jumlah penumpang yang meningkat dari tahun ke tahun.

Advertisements

20 thoughts on “Malaka Genting, Sebuah Perjalanan

    1. kalo layak atau tidak dikunjungi, tentu Malaka layak dikunjungi, kak. tapi gini, kalo misalnya punya duit lebih, mending sekalian ke Macau aja deh, Malaka di skip 😉

      Like

  1. Aku juga nggak suka jalan2 ikut tur. Yang seru kan memang nyasar-nyasarnya, random-randomnya bisa berhenti sana sini, nemu tempat di pojokan dsb, hehehehe. Dan juga kalo inget bisa menghemat biaya, makin semangat! Lihat fotonya jadi pengen ke Malaka lagi! Dulu waktu masih tinggal di KL, pergi ke sana buat makan si chicken rice ball dan foto2… hehe. Baru tahu kalo di sana sudah bebas rokok, bravo!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s