Demi Sesuap Nasi

Masih terlalu dini untuk check-in di konter maskapai penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Saigon, saya pun duduk di ruang tunggu sambil membaca dan tak sengaja mendengar percakapan dua perempuan di sebelah saya. Pembicaraan mereka menarik minatku seketika hingga buyar sudah konsentrasi membaca.

Dari pembicaraan dalam bahasa Indonesia yang saya dengar, perempuan-perempuan di sebelahku yang adalah para tenaga kerja Indonesia atau pejuang devisa itu, sedang menanti penerbangan menuju satu negara yang terletak di Timur Tengah sana. Selang beberapa menit, seorang perempuan berhijab datang dan duduk di bangku kosong persis di sebelah kiri saya. Wajahnya tak bercahaya.

Begitu duduk, perempuan berhijab ini langsung mengeluarkan semacam pernyataan protes terhadap dua teman perempuannya itu serta kepada perusahaan penyalur tenaga kerja yang mengirimnya ke Timur Tengah sana. Salah satu dari dua perempuan itu merespon pernyataan si perempuan berhijab. Namun responnya justru membuat si perempuan berhijab semakin emosional hingga suaranya meninggi dan akhirnya menangis.

“Kamu PT gelap!!”

“PT gelap!!”

“Kalau bukan PT gelap, kenapa pasporku ditahan!!!!”

Suaranya yang meninggi membuat penumpang lain yang duduk di sekitar kami menoleh kepada perempuan-perempuan itu.

Kemudian salah satu dari dua perempuan itu berusaha meredam amukan si perempuan berhijab.

“Hei, jangan teriak-teriak… Nanti polisi curiga… Kalau mereka curiga, kita bisa ditangkap….”

Tapi perempuan berhijab itu bersikeras.

“Biar! Biar ditangkap! Memang PT gelap! PT gelap!”

Mungkin karena takut kalau-kalau si perempuan berhijab makin mengamuk, akhirnya salah satu dari dua perempuan itu menyerahkan paspor yang dipermasalahkan sedari tadi. Usai menerima, si perempuan berhijab beranjak dari sana dan pergi menuju eskalator turun. Entah apa yang akan terjadi padanya.

Tak sanggup berbuat apa pun mengenai permasalahan perempuan-perempuan yang bertanah air sama denganku itu, aku bangkit menyisir bandara, mencari angin segar, berusaha mengenyahkan gambaran pilu dari realita yang baru saja kulihat, dan menemukan poster antipemerdagangan orang dan antipenyelundupan migran terpampang di salah satu sudut, tak jauh dari tempat dudukku bersama perempuan-perempuan tadi. Entah kenapa justru angka setan 666-lah yang digunakan…

demi sesuap nasi

Sementara mereka berjuang agar bisa memperoleh pekerjaan, yang lain justru mengeluh karena tunjangan ini itu tak sesuai dengan kebutuhan hidup. Karena hari libur dirasa kurang. Karena beban pekerjaan tak manusiawi. Karena minim fasilitas, dlst.

Hei, bersyukurlah Anda yang hingga detik ini masih bisa bekerja! Kalau kau tak puas dengan segala kebijakan di tempatmu bekerja, atau tak mau hidupmu bergantung pada para pemberi kerja itu, dan telah menggunakan segala macam cara, dari yang lunak hingga kasar, untuk merealisasikan tuntutanmu, mengapa tak kau bangun usahamu sendiri agar kau leluasa mengatur hari kerjamu, pendapatanmu, tunjanganmu, fasilitasmu, dan lain seterusnya seperti tuntutan-tuntutanmu itu?

 

 

Advertisements

19 thoughts on “Demi Sesuap Nasi

  1. Rifai Prairie says:

    kalo diliat dari sisi Tenaga Kerjanyaa.. memang ironi negeri Indon ya seperti itu. Harusnya kan para pekerja diberi bekal ilmu dan keahlian yang mumpuni biar jadi tenaga kerja yg handal dan disegani, bukan yang dianiaya. kasihan juga mereka-mereka itu.
    Tapi berkaca dari pemikiran anda, selayaknya kita tak hanya mengeluh saja. 😀 bener banget tuh!
    yg lucu kan saat may day kemarin, para buruh protes “Bnyak buruh jomblo karena kebanyakan jam kerja, 8 jam/hari. kurangi jam kerja, perbanyak bercinta!” Begitu tuntutannya. apa nggak gila?! kalo buruhnya 8 jam apalagi yang punya pabrik, bisa-bisa 24 jam kerja terus! :3

    Liked by 1 person

  2. dedy oktavianus pardede says:

    miris bgt kak, aku juga pernah ktemu rombongan TKI yg dijejerin ama penyalurnya di lantai ruang tunggu, aku tanya knp gak duduk di kursi mrk bilang dimarahin sama petugas bandaranya, aku tanya yg mana n ditunjuk ama mbak TI si oknum, lah lgs aku tanya si oknum knp mrk dilarang duduk di kursi n dia santai reply “ah mrk kan TKI, kasian penumpang yg lain yg mau duduk” lgsunglah naik darahku n kumaki2 si oknum sampe supervisornya dateng melerai,TKI s smua penumpang kan bayar pajak bandara jd berhak mau duduk dimana aja, yg paling miris itu si oknum itu yg ngerasa gak berdosa ‘merendahkan’ saudara sebangsanya sendiri, gimana ya kira2 pahlawan devisa kita ini diperlakukan di LN ???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s