Kontras

Braaaak!!

Suara bantingan benda keras yang digebrakkan ke atas meja, yang sepertinya berasal dari belakang tempat duduk saya, terdengar begitu membahana sore itu, saat kami nongkrong di salah satu kafe di Kuala Lumpur sana. Saya pun menoleh ke belakang dan mendapati seorang perempuan dengan wajah bengis marah-marah entah karena alasan apa, kepada satu keluarga (tepatnya kepada anak balita mereka) yang duduk di meja sebelah kami.

Keluarga sebelah yang duduk di meja panjang itu terkejut, kami pun terkejut. Saya pikir perempuan itu adalah bagian dari keluarga tersebut. Ternyata bukan. Setelah kami tanya, keluarga sebelah itu tak mengenal si perempuan. Makanya mereka tak habis pikir, atas dasar apa si perempuan tiba-tiba marah kepada anak balita mereka?

Selang beberapa menit, manajer kafe dan sekuriti mendatangi si perempuan yang sepertinya tidak bisa berbahasa Inggris itu. Apa yang mereka bicarakan dengan si perempuan, kami tak tahu. Yang jelas, setelah manajer dan sekuriti pergi, si perempuan masih tetap memakai wajah bengisnya dan masih tetap berada di kafe.

Kenapa tak diusir ke luar? Apa dia pemilik kafe? Kami bertanya ke salah satu pelayan.

Bukan. Cuma pelanggan biasa. Si pelayan menjawab.

Akhirnya demi keamanan, keluarga sebelah itu dan kami, pindah tempat duduk ke lantai satu. Siapa yang tahan duduk dekat orang (yang siapa tahu) gila? Mungkin perempuan itu patah hati karena baru diputusin cowoknya. Makanya dia marah kepada siapapun yang berada dalam jangkauan matanya.

Tapi yang menarik, dua pria yang duduk di kursi lain (yang jaraknya sama dekat dengan jarak kami ke perempuan itu), tak berkutik sedikit pun. Mereka tampak sibuk dengan gadgetnya, asyik dengan dunianya sendiri. Kontras dengan sikap kami yang memutuskan pindah tempat duduk meninggalkan si perempuan.

kontras

Kejadian yang serupa tapi tak sama pun terjadi beberapa minggu lalu saat saya mengantri di loket bioskop. Melihat anak-anak muda yang berdiri tak jelas, di antrian yang tak jelas bentuknya, saya pun memotong antrian dan bertanya ke petugas, di sebelah mana saya bisa mengantri.

“Di sebelah sini bisa, Bu,” jawab petugas tersebut sambil mempersilakan saya mengantri di deretan yang sedang dilayaninya. Saya pun tanpa ba-bi-bu langsung berdiri di depan anak-anak muda itu, sembari menunggu langkah apa yang akan mereka ambil terhadap perempuan usia tiga puluhan yang, tanpa tedeng aling-aling, nyosor di depan mereka.

Saya menunggu dan menunggu. Hingga antrian yang di depan saya selesai, tetap tidak terjadi apa-apa. Mereka, anak-anak muda itu, larut dalam obrolan dan tak mengindahkan kalau antriannya sudah dipotong oleh saya. Miris saya melihatnya. Tidak ngotot atau memang tidak peduli dengan ketidakadilan di sekitarnya? Amat kontras dengan sikap saya yang tak mau antrian dipotong seenaknya, ketika membeli tiket ke Wonogiri.

Saya pun teringat kepada salah satu guyonan yang mengatakan bahwa, “Zaman sekarang, kalau ada kecelakaan atau sejenisnya, atau entah apalah itu, yang pertama kali akan dilakukan orang adalah memotretnya, lalu mengunggahnya ke media sosial sambil berkata, “Kasihan, ya,” alih-alih berbuat sesuatu yang nyata untuk menyelesaikan perkara tersebut.”

Entahlah… Mungkin memang kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar sudah berpindah menjadi kepedulian yang ditumpahkan di dalam media sosial. Dan sepertinya itulah yang ‘nyata’ di zaman sekarang ini. Lihatlah betapa ribut percakapan di media sosial-media sosial itu setiap detiknya. Yang nyata menjadi tak nyata, yang tak nyata justru menjadi nyata.

Entahlah… Saya pun bertanya-tanya lagi. Apakah kekurangpedulian ini ada hubungannya dengan cara anak-anak muda itu dibesarkan di rumahnya masing-masing? Mungkin karena gaya hidup anak-anak ini, sejak kecil mulus-mulus saja tak pernah mengalami hambatan yang cukup berarti? Atau mungkin itu hanyalah sebagian gambaran dari era anti sosial sekarang ini?

Ah, jangan sok bertanya-tanya kau, Mes. Jangan-jangan dua cowok yang di kafe itu tuli dan semua adegan semata-mata hanyalah bagian dari reality show. Memangnya kau tahu ada kamera tersembunyi terpasang di sudut-sudut kafe itu? Nggak, kan? Atau mungkin saja kedua cowok itu adalah pengawalnya, makanya mereka santai tak berkutik….

Kau sendiri pun tak peduli dengan keluargamu yang berada di pulau seberang sana kemarin dulu. Jadi tak usahlah sok menghakimi kau, Mes. Semut di seberang lautan akan selalu nampak, dan gajah di pelupuk matamu akan selalu tak kelihatan. Kalau kau ingin berbuat baik (yang baik dan benar menurutmu), berbuat baiklah tanpa harus memaksa orang lain berbuat serupa denganmu. Silahkan berharap, tapi jangan memaksa.

 

Advertisements

9 thoughts on “Kontras

  1. Ya mungkin tergantung sikon juga kali ya. Kalo Ttg kejadian pertama ya mgkn emang gak peduli karena mereka gak kena imbas nya. Yg kedua mgkn mereka lg gak terburu buru jd gak apa dipotong antrean nya. Tp kalo ada emergency gw yakin masih banyak org yg peduli.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s