Roti Canai Satu Ringgit

“Menurutmu, enak nggak, roti canainya?” tanya suami kepada saya suatu pagi saat kami melihat seorang juru masak keturunan India, sedang memasak roti canai di pujasera dekat penginapan.

“Enak,” tebak saya. Melihat royalnya mentega yang dibalurkan pada tiap helai adonan, oleh juru masak yang ternyata bernama Raja itu, saya yakin rasanya enak. Apa, sih, yang nggak enak kalau ditabur mentega?

ROTI CANAI SATU RINGGIT

Suami pun mencobanya seporsi. Rasanya beneran enak. Persis seperti tebakan saya. Saya sendiri belum berminat untuk mencobanya sebagai sarapan pagi itu. Ketika tiba saatnya membayar tagihan, saya mendekati Raja yang kini sedang memasak mi goreng pesanan pengunjung di meja sebelah kami, dan bertanya berapa harga yang harus saya bayar.

“Satu ringgit,” jawab Raja yang juga smiling face itu sambil bergeleng. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata arti dari gelengan kepalanya saat itu adalah bahwa dia menunjukkan rasa hormatnya kepada lawan bicara. Wow… Saya pikir selama ini orang India asal bergeleng, ternyata tidak! Tiap gelengan memiliki arti berbeda. 😀

Tak mengharapkan jawaban seperti itu, nyaris saya tersedak dan nyaris mata saya melotot. Sambil tetap tenang dan mencoba memasang wajah ‘senyam-senyum’ ala politisi-politisi kawakan (seperti yang sering saya lihat di televisi, saat diwawancarai ketika karir perpolitikan mereka diterjang badai), saya merogoh kantong untuk mengambil selembar ringgit berwarna biru. Padahal saya sedang tidak diterjang badai. Hanya saja, saya tak percaya ketika mengetahui jumlah harganya.

Saya tak ingat kapan terakhir kalinya membayar makanan yang dihidangkan dalam pinggan, cukup ‘hanya’ sebesar (dengan kurs saat itu), tiga ribu enam ratus rupiah. Sepertinya sudah lama sekali hingga membuat saya nyaris tersedak. Di Balikpapan sendiri, harga segitu ‘hanya’ bisa mendapatkan sepotong tahu fantasi.

Dua hari kemudian barulah saya berminat mencobanya. Rasanya memang sama sekali tak mengecewakan. Ditambah dengan kuah kari yang menurut saya cukup sebagai bahan bakar bagi tubuh saya, yang bertinggi 163 cm dan berbobot 58 kg ini, untuk berjalan kaki selama empat jam, di mana lagi bisa mendapatkan makanan semurah itu? Beruntunglah Anda yang di Kuala Lumpur sana!

Masih adakah harga sepiring makanan di bawah empat ribu rupiah di tempat tinggalmu, kawans? Kalau ada, ajak-ajak saya dong buat nyicipin. 😀

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Roti Canai Satu Ringgit

  1. Di kotaku Situbondo, ada makanan Tajin namanya. Itu sarapan khas di Situbondo. Bubur dari beras disiram bumbu kacang (kacang, cabe, petis madura, cuka, garam, gula) rasanya juara banget. Harganya Rp 2000 semangkok besar. Ah, jadi kangen kotaku 🙂

    Like

  2. Di Kuala Lumpur dimananya, kak?
    Kalo saya dkk waktu itu makan di Johor Bahru ada sepaket roti canai, roti prata, nasi briyani porsi kuli (alias banyak bgt) dan teh tarik = RM 8 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s