Sendiri ke Wonogiri

Di sinilah saya. Dalam kereta Argo Dwipangga di stasiun Gambir, Jakarta Pusat, yang sebentar lagi akan berangkat menuju Solo Balapan, memenuhi undangan teman saya untuk berlibur di kampung halamannya Wonogiri, Jawa Tengah. Tadinya seorang teman saya yang lain ingin ikut. Namun di menit-menit terakhir ia membatalkan. Ada urusan dengan calon mertua katanya. Tadinya pun saya pikir teman saya si Tuan Rumah akan datang ke Jakarta, sehingga bersama-sama kami akan berangkat ke Wonogiri. Ternyata tidak.

“Aku akan memandumu lewat sms,” katanya dalam pesan pendek yang ia kirim beberapa hari yang lalu. Great. Saya akan bepergian seorang diri ke daerah yang sama sekali belum pernah saya datangi. Wajib banyak berdoa, nih.ย Batin saya.

Untuk menghemat ongkos, sesuai panduan teman saya si Tuan Rumah, mestinya saya berangkat naik bis kemarin sore. Tapi begitu tiba di terminal Kampung Rambutan, bis tujuan Wonogiri sudah berangkat. Tidak jelas entah kapan bis selanjutnya akan berangkat, saya pun putar haluan ke Gambir. Berhubung hari sudah malam, saya putuskan menginap di kediaman seorang teman tak jauh dari stasiun kereta Gambir.

Bersama ransel hitam bulukan yang selalu setia menemani bertualang, keesokan harinya pagi-pagi sekali, saya bertolak ke stasiun kereta. Suasana agak lengang ketika saya tiba di sana. Namun di depan loket penjualan tiket, telah mengantri beberapa calon penumpang. Dalam hati saya memohon kepada Tuhan agar kedatangan saya tak sia-sia. Anda tahu sendirilah, menjelang akhir tahun atau hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Natal, agak sulit mendapatkan tiket jika tidak dibeli dari jauh hari.

Hampir tiba giliran saya dilayani petugas, seorang calon penumpang yang tak sabaran, memotong antrian dari sisi kanan agar ia dilayani terlebih dahulu. Inilah penyakit kronis bangsa kita yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tentu saya tidak terima. Bagaimana jika tujuan perjalanan kami sama-sama ke Solo Balapan, dan tiket hanya tersedia untuk satu orang? Apa saya mau berbagi tempat duduk dengannya atau duduk di pangkuannya? Atau apa saya rela menunggu satu hari lagi ke Wonogiri? Tentu tidak. Memikirkan kemungkinannya seperti itu, tanpa basa-basi saya langsung berkata, “Ke Solo Balapan, satu orang, mas!”

Permohonan saya dijawab. Tiket ke Solo Balapan masih tersedia. Wonogiri pun segera terbayang di pelupuk mata. Selama beberapa jam berikutnya, saya menghabiskan waktu dengan mengabadikan momen-momen menarik seperti indahnya sawah dan bebukitan hijau di bawah langit biru, pria yang tampak amat serius mengamati henponnya di belakang jendela kaca yang retak, remaja-remaja tanggung di gerbong E37, nama-nama stasiun yang menjadi tempat perhentian sesaat sebelum kereta kembali melesat menuju stasiun berikutnya, dan yang membuat saya bertanya-tanya apakah suatu hari nanti saya bisa kembali mengunjungi mereka. Walaupun mungkin saya tak pernah kembali lagi, yang jelas saya telah menorehkan jejak di sana, meski hanya berupa persinggahan sesaat di stasiun keretanya. ๐Ÿ˜€

 

Sore sekitar jam empat, kereta tiba di Solo Balapan. “Dari stasiun, pergilah ke terminal bis dengan salah satu becak yang berseliweran di situ,” instruksi teman saya lengkap dengan info ongkos becak yang biasa ia bayarkan dari stasiun ke terminal. Setelah memilih becak dengan raut wajah abang becak yang ramah dan nampaknya bisa dipercaya, saya pun diantar ke terminal bis antar kota yang dimaksud teman saya si Tuan Rumah. Saat membayar ongkos becak, saya terkesima dengan cara si abang yang membuka kedua telapak tangannya saat menerima uang yang saya serahkan. Sopan sekali…

Usai berterima kasih, saya melanjutkan petualangan mencari bis yang bermuara di salah satu tempat di Jawa Timur seperti yang diinstruksikan teman saya Nona Wonogiri itu. Setelah ketemu, ternyata bisnya berangkat tak lama lagi. Ah, syukurlah saya tak perlu menunggu lama.

Kemudian teman saya memberitahu satu nama perempatan di mana saya harus turun. “Jangan lupa kamu bilangin ke kernetnya. Kalau nggak, bisa-bisa kamu nyasar sampai Jawa Timur,” pesannya.

Hari sudah mulai gelap ketika bis menurunkan saya di perempatan yang menjadi tujuan akhir petualangan saya hari itu. Setelah menemukan posisi berdiri yang aman di dekat warung, saya pun langsung menghubungi teman saya si Nona Wonogiri, memberitahu bahwa saya sudah tiba dengan selamat di kampungnya. Tak lama, seorang perempuan cantik berambut pendek berkulit sawo matang datang bersama motornya.

Ia memekikkan nama kecil saya. “Akhirnya kamu nyampe juga di kampungku!” sambutnya bersemangat. Kami berpelukan. Terbayar sudah perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Selagi berada di boncengan, saat motor kami melewati rumah-rumah penduduk yang bentuknya sederhana, saya bertanya-tanya, petualangan macam apa yang akan diberikan daerah yang secara harfiah berarti ‘hutan di pegunungan’ ini kepada saya. Tapi itu besok. Sekarang saya hanya ingin beristirahat dan bertemu keluarga besar teman saya itu.

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Sendiri ke Wonogiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s