Ngebioskop di Negeri Seberang

Adalah usul suami saya. Alasannya, supaya tahu kayak apa rasanya nonton film di bioskop negeri tetangga Indonesia ini, dan juga supaya tahu kayak apa gaya orang Malaysia pas nonton film di bioskopnya. Tapi saya tidak begitu setuju dengan usul beliau.

Alasan saya, masak jauh-jauh ke Malaysia, ujung-ujungnya nonton film juga? πŸ˜€ Tapi demi menyenangkan suami, saya akhirnya nurut saja. πŸ˜€ Karena ada pepatah yang mengatakan: jika suami senang, istri pun tenang. Pepatah siapakah itu? Cari saja di gugel, ya? πŸ˜€

Maka menontonlah kami di Golden Screen Cinemas. Semacam Cinema21 kalau di Indonesia. Film pilihan kami hari itu adalah: The Hobbit bla bla bla bla….. Bukan jenis film kesukaan saya. Makanya saya nggak ingat judulnya. πŸ˜€

Bioskopnya penuh, dan pendingin ruangannya rasanya lebih dingin dari bioskop di Balikpapan. Mungkin karena penontonnya ramai makanya sengaja dibikin dingin banget. Brrrr….

Kami duduk di kursi penonton yang paling buncit, paling dekat dengan layar. Bukan tempat duduk favorit saya, melainkan favorit suami. Soale tinggal kursi di bagian situlah yang tersedia. Dari situ, saya pun tahu, kemungkinan besar saya akan menderita di sepanjang film.

Lantas bagaimana gaya penduduk negeri jiran di kala nonton? Ya sama saja kayak kita. Duduk dengan manis, ada yang bawa berondong asin, berondong karamel, berondong manis, dan berondong-berondong lainnya.

Belum sampai tiga puluh menit film diputar, saya kebelet pipis saking dinginnya. Saya pun berbisik ke suami untuk memberitahu bahwa saya akan pergi sebentar ke toilet. Setelah itu saya keluar dari ruangan, meninggalkan suami, dan tak kembali lagi. Tak kembali lagi untuk menemani nonton maksudnya. πŸ˜€ Jadi doi nonton sendirian hingga filmnya selesai. πŸ˜€

Habis mau bagaimana lagi? Percayalah, saya sudah mencoba memejamkan mata supaya tidur, seperti yang biasanya saya lakukan saat menonton film-film yang bukan favorit saya. Tapi tak bisa. Dan belakangan ini bertambah parah. Bisa jadi gara-gara faktor “U”. Utang. Halah! Bukan utang pemirsa, tapi usia. Halah!

Tapi saya serius, mata mungkin sudah menutup, tapi telinga saya bisa mendengar semuanya dan akhirnya stres. Untuk saya, menonton film haruslah yang bisa menghibur mata, hati serta telinga. Kalau filmnya malah membuat ketiga unsur tadi menjadi sebaliknya, dan saya tetap bertahan menontonnya sampai selesai, itu artinya saya cari penyakit!

Dan saya tahu, meninggalkan suami nonton sendirian itu kurang baik. Gimana ntar kalo ada yang nyolek doi? Ya colek balik aja, kali. Cuma nyolek, kan? πŸ˜€ πŸ˜€

Saya berharap film si Hobbit kemarin itu adalah yang terakhir kalinya saya meninggalkan suami nonton sendiri di bioskop. Tapi ternyata tidak. Beberapa minggu lalu, awalnya lagi-lagi karena kebelet pipis, lagi-lagi saya pergi meninggalkan suami nonton Unbroken (yang diangkat dari buku berjudul sama, karya Laura Hillenbrand, yang mengisahkan tentang perjalanan hidup Louis Zamperini), sendirian sampai habis, karena saya tak tahan menyaksikan adegan kekejaman militer Jepang terhadap tawanan-tawanan perangnya.

Ah, nggak usah jauh-jauhlah, kemarin (iya, kemarin), saya pun membiarkan suami nonton sendirian film Kidnapping Mr. Heineken. Judulnya saja sudah bikin saya stres pakai embel-embel “kidnapping”…… Tapi menurut suami filmnya bagus dan nggak ada adegan dar der dor yang membuat saya ngeri itu… Hmmm….

 

 

Featured image source: www.gsc.com.my

 

Advertisements

17 thoughts on “Ngebioskop di Negeri Seberang

  1. ahaha,,iya klo suaminya di colek doang,klo di bawa plg gimana?hehe bercanda kok mbak :-), sama dgn komennya mbak noni di atas,suami saya klo mau nonton film yang saya gak suka ya dia pergi nonton sama temen2nya πŸ™‚

    Like

  2. mes, besok2x kl mo rencana ninggalin suami nonton sendiri, calling aku ya. gentian. sayang tiketnya, udh dibeli. hahahaha … ntar yg ada misuamu yg keluar. wkwkwkwk …

    Like

  3. pernah nonton 2x di Phuket Bioskop, di awal film selalu ada lagu kebangsaan. Dan beberapa orang (mungkin orang lokal karena yang lainnya wisatawan) berdiri untuk memberi hormat pada waktu lagu dinyanyikan.
    Kalau di Belgium, di separo dari durasi film ada jeda untuk istirahat selama 10 menit untuk ke Toilet ataupun beli camilan… πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s