Terlalu Manis untuk Dilupakan

Kenangan yang (bagi saya) indah, yang berkaitan dengan Paskah….

  • Selama sekolah Minggu ketika saya masih kecil, saya nggak pernah mengikuti kegiatan mencari telur Paskah. Entah karena gereja saya saat itu memang tidak memasukkan kegiatan mencari telur Paskah dalam agendanya, atau karena memang gereja saya tidak mengenal tradisi telur Paskah. Mencari telur Paskah sepertinya baru ngetren di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.
  • Sesampainya di rumah, sepulang kebaktian Jumat Agung ketika saya masih berseragam abu-abu, saya membuka televisi dan memilih saluran MetroTV untuk mengisi liburan. Tak disangka, stasiun televisi milik Surya Paloh ini memutar film klasik yang menurut saya keren banget. Pakai banget! Itulah pertama kalinya saya menyaksikan The Sound of Music dan langsung jatuh cintrong dengan lagu Edelweiss plus eloknya alam Austria. šŸ™‚
  • Sejak mengetahui bahwa matahari tidak bersinar dan langit gelap sekali di seluruh Yerusalem selama tiga jam mulai dari tengah hari, dan bumi bergetar serta gunung-gunung batu terbelah saat peristiwa penyaliban Kristus, sering saya memerhatikan kondisi langit sepulang dari kebaktian Jumat Agung, dan sering pula saya menemukan bahwa langit memang benar-benar gelap, atau berawan seolah mentari enggan bersinar. Dari situlah perlahan-lahan saya mulai yakin, bahwa peristiwa penyaliban Kristus, bukanlah isapan jempol atau dongeng belaka. Ketika saya ceritakan mengenai kebiasaan ini ke suami, doi malah menertawakan saya. Katanya, itu hanya perasaan saya saja. šŸ˜€ Perasaan bagaimana?!? Wong saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, koq! Hahahaa… Well, berbahagialah Anda yang tidak melihat namun percaya! šŸ™‚
  • Setelah punya penghasilan sendiri, saya pernah membolos tak kebaktian di hari Minggu memperingati kebangkitan Kristus. Pasalnya, saya meminta kepada orangtua saya untuk jalan-jalan ke Tarutung melihat Salib Kasih. Waktu itu Salib Kasih telah berdiri selama beberapa tahun, dan belum sekalipun saya menjejakkan kaki di sana. Dari cerita mulut ke mulut, kabarnya tempatnya indah. Saya (yang memang banci jalan-jalan ini) pun mengajak orangtua saya berwisata ke sana.

“Boleh saja, inang*,” jawab Bapak yang memang gemar jalan-jalan, ketika saya ajak. “Tapi kau yang bayar bensin mobilnya, ya… Bapak lagi tongpes, kantong kempes… Hahaha…..” sambung beliau lagi sambil tertawa ngakak. šŸ˜€ Saya pun tentu mengiyakan. Padahal kantong saya sendiri pun sedang kempes. Tapi demi Salib Kasih, tak apalah. Toh tak lama setelah itu, rekening gaji saya diisi kembali. šŸ˜€

Hari Minggu pagi-pagi sekali, dengan membawa bekal untuk disantap siang nanti jika perut sudah keroncongan, kami pun berangkat menuju Tarutung, menempuh perjalanan darat selama delapan jam dari Medan. “Apa Bapak tahu di mana Salib Kasih?” tanya saya. “Nggak, inang. Tapi gampanglah itu. Nanti setibanya kita di sana, kita tanya saja ke orang-orang. Mereka pasti tahulah!” yakin Bapak. “Kalaupun tak ada orang yang bisa ditanya, kudengar salib itu bersinar-sinar di atas bukit. Jadi bisa dilihat dari seantero Tarutung….” katanya lagi. Saya pun makin semangat mendengar penjelasan beliau. Dasar banci jalan-jalan! šŸ˜€

Di tengah jalan ketika kami hampir memasuki wilayah Tarutung, beberapa mobil di depan kami diberhentikan oleh polisi. Duh! Kenapa pulak polisi-polisi ini razia di hari Paskah? Pikir saya. “Pak, ada polisi…” kata saya dengan nada takut… “Tenang saja, inang. Kalau surat-surat kita lengkap, kita nggak perlu takut.” Jawaban Bapak menenangkan saya. “Surat-surat Bapak lengkap semua, kan?” tanya saya lagi. “SIM-ku tinggal di rumah….” jawab beliau santai. Gawat!! Bagaimana ini kalau kami dihentikan polisi? Kembali saya gelisah. Dan ketika tiba giliran kami, tahu-tahu pak polisi cuma menghormat kami dan bilang, “Selamat siang, pak. Hati-hati berkendara, ya….” Ajaib! Mobil kami tak dihentikan dan tak diperiksa kelengkapan surat-suratnya! Apa karena Bapak saya bertampang kayak polisi, makanya kami dibiarkan melaju terus? Entahlah! šŸ˜€

Setibanya di Tarutung, memang benar ada salib yang nampak bersinar-sinar di atas bukit, yang kami yakini sebagai Salib Kasih. Tak sulit menemukan tempatnya. Setelah memarkir mobil, kami pun berjalan kaki mendaki anak tangga yang jumlahnya cukup banyak hingga membuat kami kelelahan begitu tiba di Salib Kasih. Kami tak lama di situ. Setelah berkeliling dan masuk ke bilik-bilik doa, kami pun pulang. Kembali menempuh perjalanan selama delapan jam. Mantep surantep! šŸ˜€

  • Lalu pernah pula saya bertanya-tanya ke bapak Pendeta, mengapa pada saat Kristus berdoa di Bukit Getsemani, di malam terakhir sebelum Ia disalib, seperti yang tertulis dalam Perjanjian Baru, disebutkan bahwa Ia menderita secara batin. Bahkan keringatNya menetes seperti darah, dan meminta supaya cawan penderitaan itu dijauhkan dariNya.Ā Apakah Ia takut disalib?Ā Apakah Ia takut kalau-kalau tak bisa menahankan rasa sakitnya paku-paku itu ketika menghujam diriNya? Tanya saya.

Saya bertanya bukan karena bermaksud mencobai bapak Pendeta, atau pura-pura bertanya padahal sudah tahu. Tidak. Saya bertanya karena saya tidak tahu dan ingin tahu. Kalau saya sudah tahu, untuk apa pula saya bertanya? Beginilah jawaban bapak Pendeta kepada saya saat itu, “Bukan. Bukan karena takut kepada rasa sakit yang akan ditimbulkan paku-paku itu, Mes. Kristus gentar karena begitu mengerikannya dosa kita yang harus ditanggungnya sendiri pada kayu salib itu. Sementara Ia, notabene adalah yang Maha Suci, tidak berdosa. Jadi bayangkanlah misalnya kamu berjiwa bersih, memakai pakaian bersih, dan dijatuhi air yang amat sangat kotor, yang berasal dari segala jenis kotoran di dunia ini. Pasti rasanya nggak enak banget, kan? Kira-kira seperti itulah yang dirasakan Yesus. Jadi bukan gentar kepada rasa sakit yang diakibatkan paku. Melainkan kepada dosa-dosa kita yang mengerikan itu……”

 

Itulah beberapa kenangan mengenai Paskah yang terlalu manis untuk dilupakan versi saya. Bagaimana dengan versimu kawans?

 

 

Ā *inang: panggilan sayang kepada anak perempuan dalam bahasa Batak.
Advertisements

8 thoughts on “Terlalu Manis untuk Dilupakan

    • Messa says:

      iya makanya aku takjub. aku mah yakin aja koh. bahkan hingga dua ribu tahun kemudian pun, langit masih berkabung tiap kali memperingati good friday.

      Like

  1. ruthwijaya says:

    Selamat Paskah, Mes… soal langit gelap lalu hujan badai ini, sepanjang ingatanku hanya beberapa kali aku ngalamin cuaca nggak gelap. Hari Jum’at Agung kemaren juga hujan badai di kampungku.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s