Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

Apalagi dari ulasannya. Jangan. Karena sampul buku dan ulasan bisa menyesatkan. 😀 Lha terus pakai apa, dong, menilainya? Ya bukunya dibaca dulu, dong, supaya Anda bisa menilainya. 😀 Soale ulasan yang bagus menurut si pengulas, belum tentu bagus buat kita. Sama saja kayak menilai hotel, warung makan minum, makanan, destinasi liburan, film, foto, musik, dlst. Masing-masing punya penilaian berbeda yang belum tentu sama dengan selera kita.

Tahun lalu, karena jatuh cinta kepada sampul buku kumpulan cerita karya salah satu selebriti Indonesia yang kabarnya piawai menulis, saya pun tertarik untuk membelinya. Sampulnya yang hanya berisi foto monokrom serta judul yang berupa angka itu, entah mengapa terlihat amat menarik di mata saya. Juga tak tanggung-tanggung, bukunya pun diterbitkan oleh salah satu penerbit besar di Indonesia yang selama ini saya yakini selalu menerbitkan buku-buku berkualitas. Tapi setelah berada di halaman ke-17, saya menyerah membacanya.

Begitu juga ketika saya akhirnya tergiur untuk membeli buku karya salah satu blogger Indonesia, yang ulasannya bagus serta ramai, dan yang saat saya beli, bukunya sudah cetak ulang sebanyak 44 kali! Tapi saya tak bisa menikmatinya sama sekali dan menyerah di halaman ke-3. Padahal bukunya termasuk buku bergenre humor yang adalah salah satu favorit saya. Tapi entah kenapa saya tak bisa ikut merasakan kelucuan yang ditawarkan buku ini. Sekarang bukunya teronggok di dalam lemari bersama buku si selebriti itu.

Nasib yang sama pun menimpa buku Negeri Para Bedebah karya Tere Liye yang akhirnya saya baca gara-gara tertarik ulasan mas Dani di sini. Pada halaman ke dua puluh sekian saya berhenti membaca dan tak sanggup meneruskannya sampai selesai.

Lantas buku-buku yang dari sampul terlihat biasa-biasa saja, serta yang minim ulasan, justru bisa saya lahap sampai habis karena isinya keren. Sebutlah misalnya buku Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Dari segi sampul yang bergambar sepasang anak manusia, saya pikir ia bercerita tentang suka duka pasangan suami istri. Ternyata tidak. Makanya saya jadi curiga, jangan-jangan buku-buku favorit saya memang bukan buku-buku yang luar biasa…

Well, sebagai pembaca yang kerjanya cuma bisa mengomentari hasil karya orang lain, tulisan saya ini jangan diambil ke hati, ya? 😀 Sebab, di atas semua kekurangan maupun ketidakcocokan dengan selera saya, saya patut angkat topi dan dua jempol tangan untuk Anda semua di luar sana yang pernah menelurkan buku. Tidak semua orang berani, serta beruntung bisa menerbitkan buku seperti kalian! 🙂

By the way, sekarang saya sedang berada di halaman ke-204 buku The Dusty Sneakers Kisah Kawan di Ujung Sana, yang ditulis oleh duo empunya blog keren ini. Diksinya yang indah dan kaya membuat saya melayang dan tak bisa berhenti membaca buku ini! Bagaimana dengan Anda kawans? Sekarang lagi baca buku apa? Dan juga saya lagi penasaran dengan buku Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf yang adalah pemenang pertama lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2008. Sudah dicari ke sana sini, belum juga ketemu. Kira-kira ada yang bisa meminjami? 😀

Advertisements

26 thoughts on “Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

  1. Setujuuu!!! Buku yang menurut orang lain bagus belom tentu menurut kita juga bagus. Pernah juga mengalaminya kok. 😀 Ternyata ga selera sama negeri para bedebah ya. Hihihi

    Like

    1. aku nggak tau apakah sama seperti blog mereka, mbak. soale aku nggak sengaja terdampar di blog mereka beberapa bulan yang lalu. dan kebetulan pas membaca di bagian yang mereka meluncurkan buku itu 🙂

      Like

  2. bener banget !! apalagi dari harganya. hahaha … buku mahal belum tentu bagus, buku murah belum tentu juga isinya murahan. aku biasanya baca dulu baru tarik kesimpulan. dan sama persis kayak kamu mes’, kl udh gak tertarik, lempar, buang ! hilang atau dipinjam orang tidak dibalikin jg, no problem. malah pernah beli buku dg cover bagus, isinya menyesatkan. padahal dikeluarkan penerbit besar. yg sortir payah menurut aku ya.

    anyway, penilaian orang thd buku memang beda2x. sama aja kayak makanan. ada temen bilang buku yg satu bagus, tapi pas baca … dimane bagusnye ?! yg ada tekor beli bukunya. hahaha … tp ada jg yg bilang buku pilihan kita gak bagus, padahal kita baca berkali-kali kok dapatnya banyak banget. nah, jgn ketipu jg sama selera orang. kl aku, utk beberapa pengarang, sudah pantek mati. mau dikata jelek kek bukunya, kl aku bilang bagus, pasti beli. berhubung suka bacaan rohani, aku koleksi bukunya Pdt. Eka Dharma Putera (alm). kalo novel, udah gak minat ya 😦

    Like

    1. mungkin penerbit2 sekarang mikirnya udah duit melulu kak. nggak peduli isinya berkualitas atau tidak, yang penting buku laku, duit mengalir supaya ngasih makan anak istri.

      aku juga beberapa tahun belakangan ini kebanyakan membaca buku non fiksi. baru-baru ini saja pengen baca novel lagi. soale bisa merangsang kreatifitas kak 😉

      Liked by 1 person

  3. Iya benar, beda orang beda selera. Yang satu bilang bagus bikin nangis2, belum tentu yang lainnya baca sambil nangis 🙂 aku sedang baca roman bahasa Belanda nih. Ceritanya sambil belajar bahasa Belanda juga 🙂

    Like

  4. Abi kmaren dapet buku gratisan dan aku tengah berusaha membacanya. Ya klo lg ada waktu luang aja sih, dan klo gak pas lg ngenet, hehehe. Tp aku lbh suka menilai buku fiksi dari endingnya. Makanya klo baca buku, selalu harus tau endingnya dulu. Klo nggak sesuai seleraku, ya aku nggak baca.

    Like

    1. wahh, kamu kayak temanku pas SMU dulu mbak. aku pun sempat kena racun kawanku ini, membaca buku dari endingnya. 😀 tapi nggak lama-lama. soale cara itu kurang cocok buatku 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s