Suara-suara Tengah Malam

Bisa tidur nyenyak sampai pagi adalah harapan sebagian besar orang sebelum pergi tidur di malam hari. Termasuk saya. Makanya kalau terdengar suara-suara aneh, yang biasanya terjadi tengah malam, saya langsung terjaga. Seperti satu malam saat masa-masa kampanye presiden, tengah malam saya terbangun gara-gara suara sirene bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Semakin lama, suaranya terdengar semakin dekat ke rumah saya.

Ada apa? Apakah Jokowi datang? Soale beberapa hari sebelum sirene mengaung, saya mendengar kabar kalau Jokowi akan berkampanye di Balikpapan. Hanya saja, saya tak tahu kapan persisnya. Atau apakah sesuatu terjadi kepada suami saya? Soale malam itu suami saya belum juga pulang dari pertemuan dengan koleganya. Dan beberapa hari sebelumnya, ia mengatakan sesuatu hal yang membuat saya kuatir.

Sambil mencoba untuk dapat tidur kembali, saya terus bertanya-tanya dalam hati. Tak lama setelahnya, suami saya pulang dalam keadaan selamat sentosa. Lega sudah batin ini. Lantas suara apa sebenarnya sirene yang bertubi-tubi itu? Keesokan paginya, barulah saya tahu bahwa sirenenya ternyata berasal dari mobil pemadam kebakaran yang mencoba memadamkan api di gudang arsip salah satu perusahaan swasta yang terbakar!

Suara tengah malam berikutnya terjadi di Bangkok ketika kudeta tahun lalu. Waktu itu saya terbangun gara-gara mendengar suara cowok teriak-teriak dari kamar sebelah. Awalnya saya pikir suara tentara yang sedang berjaga-jaga di jalanan di depan penginapan sambil memakai pengeras suara mengingatkan pengunjung yang siapa tahu masih lalu lalang. Soale, kan, jam malam diberlakukan pas kudeta itu. Tapi lha koq suaranya kenceng amat kayak nelen TOA!?! pinjem istilahnya eda Py Logatnya pun familiar di telinga saya. Antara India dan Arab. Ada sekitar satu jam si tetangga sebelah itu ngomong kenceng nggak kira-kira. Teman sekamar saya, alias suami, pun jadinya ikut terbangun.

Setelah satu jam, berakhirlah suara itu dan suasana pun senyap, saya pun kembali lelap. Paginya, saya membahas kejadian itu dengan suami yang kebetulan khatam berbahasa Arab. Menurut pendengaran suami, si cowok tetangga sebelah itu sedang menelepon anaknya untuk mengingatkan supaya jangan lupa makan, jangan melawan sama mami, baik-baik sama mami, dst. Anaknya cowok, masih kecil. Dan mungkin sinyal telepon pun terputus-putus makanya bapaknya sampe teriak-teriak gitu….

Tapi pertanyaannya, kenapa neleponnya mesti tengah malam, om? Jadi gini, kalau dari segi itung-itungan perbedaan waktu, emang cocok. Soale beda waktu antara daerah di Timur Tengah sana dengan Asia Tenggara, kan, ada sekitar 5 jam. Jadi, ya, cocok, di Bangkok saat itu sudah tengah malam, di Arab baru sekitar jam 7 malam, waktunya makan malam, waktunya si bapak nelepon anak istrinya.

Ah, itulah enaknya hidup di zaman teknologi canggih kayak sekarang. Mau jam berapapun nelepon keluarga yang tinggal di belahan bumi manapun, bisa. Nggak kayak zaman baheula. Dulu kalo bapak saya dinas ke luar kota, mana ada cerita mau ngasih kabar apakah sudah selamat sampai di kota tujuan atau tidak, apakah kami anak-anaknya sudah makan atau belum, mengingatkan jangan terlambat tidur, dlsb. Nanti setelah bapak pulang ke rumah, barulah kami tahu bahwa Bapak selamat. 😀

Berikutnya yang paling anyar terjadi di salah satu penginapan di Kuala Lumpur bulan Desember lalu. Lagi enak-enaknya tidur, sayup-sayup terdengar suara-suara perempuan yang sepertinya sedang berantem. Saya pikir saya berhalusinasi. Ternyata tidak! Saya pun keluar kamar dan berjalan mendekati kamar yang paling berisik di lantai itu. Tamu-tamu lain yang juga penasaran, pada ikutan keluar kamar.

Persis ketika saya akan mengetuk pintu kamar berisik itu, seorang perempuan (lagi-lagi Arab), berambut panjang, berwajah cantik, serta bertubuh molek dan berpakaian ketat bermotif kulit macan tutul, membuka pintu kamar diikuti repetan yang keluar dari bibirnya yang dipoles pewarna bibir warna merah. Ia terlihat berargumen dengan dua perempuan lain yang berdiri di sebelah kanannya.

Si cantik berambut panjang melihat ke arah saya. Saya yang berwajah sumuk pun berkata, “Kalian ribut sekali, mengganggu tidur kami….” Dia pun membuat simbol tangan ‘time out’ sambil berkata sorry. Pintu ditutup kembali tapi pertengkaran masih berlanjut di dalam kamar…. dalam bahasa Arab! Saya bergeming. Lagi pintu dibuka dan sekali lagi si cantik berkata sorry, tapi mereka tetap ribut.

Saya pun kembali ke kamar dan menelepon resepsionis di lantai bawah memberitahu keributan itu. Hingga setengah jam kemudian, mereka masih tetap adu mulut dengan volume suara turun sekitar dua tingkat. Arghhh!

 

Advertisements

11 thoughts on “Suara-suara Tengah Malam

  1. kangjum says:

    kirain mah suara-suara yang tak terlihat oleh mata, gatau nya suara sirine 🙂
    bener banget tuch, era tekhnologi memang semakin memudahkan kita untuk saling komunikasi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s