Hanya Beberapa Detik

4 Maret 2015 sore, kuputuskan berkendara sebentar untuk membeli kwitansi di komplek Balikpapan Permai (BP) dan mengurus kartu SIM di Grapari Telkomsel jalan Sudirman yang letaknya di seberang BP. Mengingat parkiran di Telkomsel itu selalu ramai, mobil kuparkir di BP.

Setelah urusanku di Telkomsel kelar, aku menyeberang di penyeberangan resmi (baca: zebra cross) menuju BP, hendak mengambil mobil untuk pulang ke rumah. Saat itu aku menyeberang dengan seorang ibu. Entah kenapa aku tak tega membiarkan diriku tiba duluan di ujung zebra cross. Padahal biasanya kakiku bergegas kalau menyeberang. Maka sebelum tiba di ujung zebra cross, aku membuat gerakan isyarat dengan tangan kiriku, bertujuan menghentikan kendaraan yang bergerak dari arah kiri, untuk memastikan si ibu tiba dengan selamat di ujung zebra cross yang ramainya bujubuneng itu.

Tiba-tiba… Blasss… Aku merasa tubuhku tersapu dari aspal tempatku berpijak. Semua gelap. Kupikir aku sudah mati. Beberapa detik kemudian, mataku membuka, kulihat terang. Aku menegakkan tubuhku dan duduk di zebra cross. Aku masih hidup, tapi bagian belakang kepalaku terasa sakit.

Ibu itu menolongku berdiri dan menuntunku ke trotoar, keluar dari zebra cross. Ternyata aku baru saja ditabrak motor dari samping kiri atau belakang, dan membuatku terjatuh ke belakang, menghantam kepala bagian belakang.

“Berdarah… Kepalanya berdarah,” kudengar ibu itu berkata. Dengan tangan kiriku kupegang bagian kepalaku yang sakit itu untuk memeriksa apakah benar ada darah. Benar saja ada darah di tanganku. Lalu seorang laki-laki memberi kunci ke tangan kananku. Kucoba memerhatikan bentuknya, siapa tahu itu kunci mobilku yang ikut terjatuh. Namun ternyata aku tak mengenalinya.

“Kunci apa ini?” tanyaku akhirnya. “Kunci motor yang menabrak,” jawab laki-laki yang menyerahkan kunci itu, sambil tangan kiriku terus memegangi kepala bagian belakang yang rasa sakitnya semakin hebat. Tangan kananku masih memegang kunci. Ibu yang berusaha kutolong itu masih terus menuntunku berjalan. Dia mendudukkanku di bangku panjang yang terletak di trotoar.

“Ke apotiklah!”

“Ke rumah sakitlah!”

Kudengar orang berseru. Puji Tuhan, aku masih sadar. Sambil berusaha mengingat-ingat apakah ada klinik terdekat di daerah BP situ, kujawab, “Di mana rumah sakit terdekat?”  “Restu Ibu!” seru seseorang lagi.

Aku tahu diri bahwa aku tak mungkin kuat menyetir mobil dengan kondisi kepala berdarah. Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) pun akhirnya terlintas di kepala. Ketika duduk di bangku panjang, ibu itu menyuruh seseorang membelikan air minum buatku. Kulihat ia mengeluarkan selembar lima ribuan dari dompetnya.

Kemudian dari arah kanan kulihat taksi berwarna biru. Tak berpikir panjang, aku langsung menyetopnya. Aku hanya berpikir bagaimana caranya supaya luka di kepalaku dapat segera ditangani. Taksi berhenti, aku pun membuka pintu sebelah kiri. “Tolong ke rumah sakit Pertamina ya, pak,” pintaku kepada pak sopir. Sebelum masuk ke taksi, air minumnya tiba dan ibu itu menyerahkannya kepadaku. Aku tak ingat apakah kata ‘terima kasih’ kepada ibu itu masih sempat keluar dari mulutku atau tidak. Aku hanya berharap bisa tiba di RSPB secepatnya.

Kujelaskan dengan singkat ke pak sopir bahwa aku baru saja ditabrak motor. Kuminta ia supaya cepat sampai, namun sekaligus berhati-hati menyetir. Semoga jok belakangnya tak berlumuran darah.

Mumpung masih sadar, kuputuskan untuk memberitahu suamiku. Percobaan pertama, kutelepon ia ke nomor kantor. Nyambung tapi tak diangkat. Percobaan kedua, kuhubungi nomor pribadinya, barulah ia menjawab. Kujelaskan kondisiku yang baru saja ditabrak motor dan saat itu sedang berada dalam taksi menuju RSPB, agar ia tahu ke mana harus mencariku, siapa tahu sebentar lagi aku tak sadarkan diri saking sakitnya kepalaku. Untuk berjaga-jaga, kuberitahu juga nomor pintu serta nama taksi yang kugunakan saat itu.

Hampir tiba di RSPB, aku baru ingat bahwa uangku sudah habis saat bertransaksi di Telkomsel yang memakan biaya sebesar seratus lima puluh ribu rupiah. “Waduh pak, ternyata uangku habis, aku lupa,” kataku sambil merogoh kantong tas bagian belakang, berharap masih ada uang secukupnya untuk ongkos.

“Nggak apa-apa, bu. Yang penting ibu nyampe di rumah sakit,” balasnya. Tapi aku tak mau gratis. Itu mata pencahariannya, dan sudah pasti punya setoran minimum, serta punya keluarga untuk diberi makan. Untunglah masih ada uang sepuluh ribu dan lima ribuan bertotal tiga puluh ribu rupiah. Itulah kuberi padanya. Pak Choirul namanya.

Setibanya di Unit Gawat Darurat (UGD) RSPB, pak Choirul menemaniku masuk. Dari resepsionis, kami langsung disuruh masuk ke ruang tindakan. Di pintu tindakan kami berpisah. Aku ucapkan terima kasih banyak untuk bantuannya karena telah mengantarku. Selanjutnya aku ditangani dokter dan perawat.

Luka di kepalaku dibersihkan, dijahit dan rambutku dikeramas. Soale menurut perawat, lukanya mesti kering dulu baru bisa keramas. Dan itu bakalan lama. Saat telungkup di ruang tindakan itulah aku menangis kecil. Mengingat yang baru saja terjadi, kematian atau maut itu amat dekat dengan manusia. Dengan kata lain, ia senantiasa mengintai. Entah kapan, bagaimana, di mana, tak jadi soal. Yang jelas, kita manusia harus selalu siap.

Adalah mukjizat kalau kemarin aku selamat. 75% korban kecelakaan lalu lintas dengan cedera di kepala, meninggal dunia. Dan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kecelakaan lalu lintas di Indonesia telah menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah jantung koroner dan TBC. Tuhanlah yang menopangku kemarin. Mungkin Dia ingin agar aku berhenti sejenak dari rutinitas dan berbagai rencana yang telah kurancang dalam kepalaku, dan mengingatkanku agar senantiasa hanya mengandalkan Tuhan, bukan kekuatanku sendiri, serta bertobat.

Tak lama setelah berada di ruang tindakan, suamiku tiba. Ia memegang tangan kiriku saat perawat menjahit kepalaku. Karena hanya tangan itu yang bebas saat itu. Syukurlah akhirnya ia datang.

Keluar dari ruang tindakan, aku dibawa ke salah satu tempat tidur yang berjejer di UGD, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat setengah berbaring setengah duduk, karena kepalaku masih tak nyaman jika berbaring lurus, dua pria mendekat. “Siapa pula?” pikirku. Pria yang lebih dulu tiba di sisi kiri tempat tidur, memperkenalkan diri sebagai yang menabrakku. “Maafkan saya ibu,” katanya. Ia mengaku bersalah dan mengaku bernama Samsul. Ia juga mengaku bekerja sebagai pengantar sayur.

Aku sudah memaafkannya saat mengembalikan kunci yang diserahkan ke tanganku saat di trotoar tadi. Aku bahkan tak mengingatnya lagi dan sedikitpun tak berharap kalau dia akan datang menyusulku. Mungkin saat itu dia berusaha untuk memberiku jaminan bahwa ia tak lari dari tanggung jawabnya. Aku menghargai tindakannya itu. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kecil ataupun besar, ringan ataupun fatal. Biarlah kecelakaan ini menjadi pelajaran bersama. Ia juga minta maaf kepada suami yang terus mendampingiku. Kami tak mau memperkarakannya. Yang penting sekarang adalah pemulihan. Terakhir, kuperingatkan dia agar hati-hati berkendara.

Kepada pengguna kendaraan, baik roda dua, roda tiga, maupun roda empat, mohon pelajarilah jalanan serta berusahalah mengingat di mana saja letak penyeberangan resmi. Juga mohon berhenti total ketika orang menyeberang. Hanya beberapa detik dari waktu yang Anda gunakan untuk berhenti total itu amat berharga. Beberapa detik bisa menentukan masa depan dari seseorang, juga masa depan Anda. Entah ia seorang istri terkasih, suami terkasih, anak terkasih, ayah terkasih, ibu terkasih, atau mungkin seorang pencari nafkah dari satu keluarga. Cobalah posisikan diri Anda sebagai penyeberang itu. Anda pasti tidak ingin celaka dan ingin tiba dengan selamat di ujung zebra cross, bukan?

Kepada para pejalan kaki yang menyeberang, mohon bergegaslah saat menyeberang. Jangan lenggak-lenggok seperti sedang berjalan di panggung peragaan busana. Mohon diingat, bahwa Anda sedang melintasi jalan raya milik bersama, bukan jalan pribadi.

Juga kepada bapak walikota, mohon dengarkan suara rakyat. Setahu saya hanya ada satu jembatan penyeberangan di Balikpapan, yakni di interseksi Plaza Balikpapan jalan Sudirman dan jalan Ahmad Yani. Kiranya bapak bersedia menambah beberapa jembatan penyeberangan yang layak bagi warga Balikpapan, agar tak lagi jatuh korban di masa depan. Kalau ada jembatan penyeberangan, saya tentu akan memilih menyeberang dari atas jembatan, daripada melalui zebra cross di jalanan yang ramai.

jembatan penyeberangan

Jembatan Penyeberangan di Interseksi Plaza Balikpapan jalan Sudirman dan jalan Ahmad Yani.

Saya jamin, jika jembatan penyeberangannya bapak bangun, bisa dipastikan saya akan memilih bapak kembali menjadi walikota pada masa pemilihan mendatang. Itu pun tentunya jika bapak memilih untuk kembali bertarung, dan kami sebagai rakyat diberi hak untuk memilih kepala daerahnya secara langsung. 🙂

Advertisements

34 thoughts on “Hanya Beberapa Detik

  1. evy doloks says:

    Puji Tuhan kamu masih dalam perlundungan Tuhan mes’. baca postinganmu, aku jd deg2xan sendiri. gak bs ngebayangin kondisimu deh, dg kepala berdarah. duh, bersyukur banget di saat seperti itu msh ada bapak sopir yg peduli dg keselamatanmu. semoga lukamu cepat sembuh ya. kl udh, jgn lupa lakukan cek lg utk memastikan tdk ada kondisi yg mengkhawatirkan. soalnya kepala. sehat2x ya mes’. istirahat dl ya. harus sembuh dulu. okay !!

    Like

    • Messa says:

      iya mbak. memang itulah resiko di jalan raya. kita yang ditabrak atau kita menabrak. kita hati2 tapi orang lain sembrono, ya wasalam.. yg penting selalu berdoa sebelum melakukan apapun. makasih banyak mbak Rike

      Like

  2. adhyasahib says:

    Mb messa mudah2an cepat pulih,dan gak ada efek2 samping yang muncul kemudian hari. tetap sehat dan semangat mb, baca ini cerita ini saya jadi ngeri kalo mau nyebrang di jalanan ramai, tapi juga terharu dengar ceritanya dengan berlapang dada memaafkan sang penabrak 🙂

    Like

  3. Pypy says:

    Mes, serem banget ya.. Skrg gimana? Sudah pulih kah? Udah cek dalam kan? Hasilnya?

    Bener nih, jadi mengingatkan untuk lebih berhati2 yah. Gw sndiri org yg takut nyebrang, kalau ada jembatan gw pasti naik jembatan meski gempor krn biasanya tinggi bgt. Semoga kedepannya kita dijauhkan dari marabahaya dan kecelakaan. Aminn..

    Like

    • Messa says:

      betul py, gpp lah badan gempor dikit pake jembatan penyebrangan, daripada dari jalan raya, ruamee… tengkyu ya Py! semoga lancar persiapan pernikahanmu!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s